Dulu, aku hidup bahagia. Tetapi, kini semuanya telah berubah. Hidupku tak seindah dulu. Kejadian itu telah merenggut kebahagiaanku tak cukup sesaat. Dan hal ini tak mudah yang baru duduk di bangku kelas 5 SD untuk menerima kenyataan pahit yang kuhadapi saat ini.
Tempo hari, di saat aku menangis pilu. Saat diri
ini tak percaya akan kenyataan yang terjadi. Ayahku pergi begitu cepat. Pergi
ke tempat yang tidak mungkin aku singgahi sekarang ini juga. Kata – kata yang
pedih di dengar namun fakta itu adalah meninggal. Ya, ayahku meninggal 2 tahun
silam. Berarti beliau telah meninggalkanku hingga kelas 1 SMP. Saat beliau tak
mampu lagi untuk menahan diri dari sakit yang dideritanya karena terkena peluru
tembakan di bagian dada. Naas memang, ayahku telah terbunuh oleh pemerintah
Belanda, beliau yang rela mengorbankan jiwanya demi aku, adikku dan ibuku telah
terbunuh di hadapanku.
Ibuku sempat tak sadarkan diri karenanya dan aku
mengalami trauma yang berkepanjangan hingga saat ini dengan suara tembakan,
tapi mungkin saat itu sudah takdirnya beliau untuk pergi meninggalkan orang –
orang tercintanya. Akhir – akhir ini aku mencoba untuk memberi pengertian
kepada ibuku, bahkan sanak saudara ibu yang lainnya. Sudah berkali – kali aku
mencobanya, tetap saja mereka tidak mengizinkanku dan berdalih bahwa sebenarnya
nenekku dari ayah telah melupakan dan tidak peduli terhadap kami lagi, semenjak
kematian ayahku.
“Tidak! Itu semua bohong! Kalian salah, nenek pasti
masih ingat kami dan masih sayang kami,” berontakku dalam hati. Aku tahu ini
semua berat, bila aku terus memberontak seperti itu kepada ibuku yang akan
membuat ibu semakin terpukul, dan merasa dirinyalah yang sangat bersalah. Aku
mengerti itu, juga aku mengerti makam ayah yang terlalu jauh untuk dikunjungi,
tidak memungkinkanku untuk pergi ke sana sendiri, bila aku harus memaksa
keadaan. Tetapi, aku rindu sekali dengan ayah.
Malam ini adalah malam ulang tahun ayahku. Karena
itu, aku pun teringat rekaman ulang
semua kejadian pilu itu. Aku tak menyangka bahwa saat aku kelas 3 SD, itulah
pertama dan terkahir kalinya kami sekeluarga merayakan ulang tahun bersama.
Masih tergambar jelas senyum bahagia di wajahnya, menambah luka di hatiku yang
mungkin telah sempat mengering, tetapi kini kembali tergores.
Air mataku sekarang telah surut melihat kerja keras
ibuku seorang. “Kita harus tegar. Harus selalu bisa menatap masa depan yang
masih sangat panjang,” itulah yang selalu ibu ucapkan ketika upayaku sudah
mulai surut.
Hari demi hari, kami jalani dengan tabah. Begitu
sulitnya hidup tanpa seorang pemimpin yang handal, seorang kepala keluarga yang
layaknya seorang pria yang bertanggung jawab seperti ayahku yang telah tiada.
Akhirnya, ibuku memberi usul kepadaku bahwa sebaiknya kami mencari pengganti
seorang ayah. Pada awalnya, aku tidak setuju, sampai aku lebih memilih untuk
mati dari pada menyetujui dan melihat pengganti ayahku. Karena di mataku, hanya
ayahkulah satu – satunya seorang ayah yang sempurna. Namun, pada akhirnya aku
setuju dengan keputusan itu, karena tak
tahan akan tanggunya yang harus dipikul ibuku seorang diri.
“Tapi bukan maksudku agar semua orang kasihan
padaku, hanya saja supaya mereka semua mengerti dan harus bersyukur atas apa
yang telah Tuhan berikan, terlebih bagi mereka yang keluarganya masih lengkap.
Yah, sudahlah semuanya telah berlalu, mungkin ini memang sudah menjadi jalan
takdirku,” aku menghela nafas berat dengan teman baikku yang masih saja setia
mendengar semua kuakkan memori pahitku yang sudah lama terpendam ini.
Namun sepertinya, Dita sangat butuh untuk
menceritakan pengalamannya juga. Dan aku pun berjanji, sebagai temannya akan
selalu siap mendengar seluruh keluhannya dan menjadi penaungnya saat ia tidak
tahu harus kemana ia menaung kapanpun dan dimanapun.
“Ya sudahlah. Nirma. Allah telah menetapkan jalan
hidup yang berbeda – beda untuk setiap manusia di muka bumi ini,” kata Dita yang
membuatku lega dan tersenyum.
“Dita, makasih ya! Hari ini kamu sudah mau jadi
tempat sampah yang baik buatku, yang bisa menjadi tempat untuk membuang semua
rasa – rasa kekesalanku itu,” aku sangat bahagia saat itu. “Aku berdoa semoga
nanti malam, aku bermimpi bertemu dengan ayah dan dapat mengucapkan selamat
ulang tahun kepada ayah secara langsung.”
“Iyaa. Semoga saja doamu itu terkabul. Aku pun
turut senang kalau semua keinginanmu itu terkabul. Perbanyaklah berdoa kepada
Tuhan, ya!”
Aku tersenyum penuh harap, walaupun senyumku tidak
sepenuh harapan Nirma. Tak bisa kubayangkan, jika akulah yang mendapatkan
takdir yang sudah digariskan Tuhan seperti itu.
Keesokan paginya, kulihat wajah Nirma yang murung
yang membuatku kembali khawatir. Namun kutetap akan mencairkan suasana, “Tadi
malam, bagaimana?” tanyaku singkat. Terdiam, lama kumenunggu jawaban.
“Tak apalah. Yang penting aku telah mengirimkan doa
untuk ayah, sekalipun tadi malam aku tidak bermimpi tentangnya,” suara Nirma terdengar
lirih namun tegar.
“Sudahlah, yang telah berlalu, biarlah berlalu!”
aku mencoba untuk menghiburnya, takut kalau sampai Nirma bersedih hati, karena
keinginannya tidak tercapai.
“Tenang saja, aku sudah menyimpan kenangan pahitku,
supaya tidak menyurutkan perjuanganku hari ini, esok dan mungkin untuk
seterusnya,” akhirnya semangat Nirma muncul kembali dan segera bangkit dari
keterpurukan yang menekan batinnya selama ini.
“Yang penting sekarang..... Syukuri dulu saja apa
yang ada... karena di setiap kehidupan seseorang adalah anugerah dari Tuhan
yang Maha Kuasa.”
Sebulan telah berlalu, Nirma sudah melupakan
keterpurukan yang melandanya di masa lalu. Tiba – tiba di sekolah, ia berlarian
menghampiriku seperti akan membawakan berita baik kepadaku. “Alyaaaa!!! Tebak
deh, sesuatu apa yang mau aku ceritain ke kamu?” teka – tekinya dengan penuh
perasaan ceria.
“Apaan – apaan, Nirma? Pasti berita baik yaa?”
kataku yang sangat penasaran dengan itu semua.
“Emmmm.... minggu depaann. Ibukuuuu.... akan
mengadakan persepsi pernikahan!” katanya dengan penuh bahagia. Aku senang
melihat Nirma seceria itu, tidak seperti dulu yang terus bermuram durja. Namun
aku tidak mengetahui, apakah Nirma benar – benar senang, ataukah hanya mencoba
tegar atas kepedihannya. Lalu, kuberanikan diri untuk bertanya dengan penuh
kesopanan tanpa di luar batas.
“Nirmaa.. Kamu serius dengan keputusan itu semua,
kan? Kamu pasti bangga mempunyai papah, kan?” kataku meyakinkannya.
“Ng.... sebenarnyaa..” gumamnya tiba – tiba. Tapi
aku tak ingin apa yang tidak kuharapkan itu terjadi sekarang, yaitu berubah
pikiran.
“Ayolaahh, teman! Tidak selamanya keluarga tiri itu
menyusahkan. Pasti kamu sudah sepakat dan tidak ingin mengecewakan keputusanmu sendiri
dengan ibumu, kan?” kataku.
“Iyaa. Pasti, baiklah, kawan! Minggu depan hadirlah
di acara pernikahan ibuku! Datanglah bersama orangtuamu kau akan menjadi tamu
kehormatan keluargaku. Karena bagiku kau adalah sahabatku, dan ibuku tahu itu.
Oh, iya besok akan kuberi kalian undangan,” kata Nirma yang masih ceria.
Persepsi pernikahan telah dilaksanakan. Aku melihat
Nirma dan ibunya berjalan ke arahku, mamah, dan papahku yang sedang tersipu
malu karena keterlambatan kami untuk datang ke pesta pernikahan ibunya Nirma.
“Mari, mamahnya Alya! Duduklah di meja makan yang telah kami sediakan!” kata
ibunya Nirma dengan nada suara yang lembut.
“Oh, iya Bu, Mari! Terimakasih,” kata mamahku
dengan santun dan segera menuju ke meja makan yang sudah tertata rapih dengan
lilin dan berbagai makanan serta minuman yang sengaja telah dipersiapkan untuk
tamu kehormatan.
Nirma pun duduk di sampingku, begitu juga ibu dan
ayah barunya. Kemudian orangtuaku dan orangtua baru Nirma sedang asyik
berbincang – bincang, kurasakan keakraban keluarga kami. Sejenak kupandangi,
ayah baru Nirma yang kurasa asing tak pernah kulihat belakangan ini.
“Hey. Terlihat dari mukanya, dia menjamin hidupmu
dan orang yang sangat baik.” Kataku berbisik kecil kepada Nirma yang sedang
asyik mengunyah makanan.
“Hemm... memang, kuharap begitu.” Katanya dengan
mulut penuh makanan.
“Tuh kaan. Aku bilang apa, ibumu pasti akan selalu
memilih yang terbaik untukmu.”
“Iya, benar. Seperti halnya makanan yang
dihidangkan ini seakan semuanya untukku. Karena makanan ini semuanya kesukaanku,”
kata Nirma yang masih tergila – gila dengan hidangan di atas meja.
“Aaaaah Nirma, kamu ini makanan saja yang
dipikirkan,” Gurauku. Dan seketika itu kami berdua langsung tertawa dengan
penuh gembira ria.k
Tidak ada komentar:
Posting Komentar