Rabu, 27 Juni 2012

Syukuri Apa yang Ada




Dulu, aku hidup bahagia. Tetapi, kini semuanya telah berubah. Hidupku tak seindah dulu. Kejadian itu telah merenggut kebahagiaanku tak cukup sesaat. Dan hal ini tak mudah yang baru duduk di bangku kelas 5 SD untuk menerima kenyataan pahit yang kuhadapi saat ini.
Tempo hari, di saat aku menangis pilu. Saat diri ini tak percaya akan kenyataan yang terjadi. Ayahku pergi begitu cepat. Pergi ke tempat yang tidak mungkin aku singgahi sekarang ini juga. Kata – kata yang pedih di dengar namun fakta itu adalah meninggal. Ya, ayahku meninggal 2 tahun silam. Berarti beliau telah meninggalkanku hingga kelas 1 SMP. Saat beliau tak mampu lagi untuk menahan diri dari sakit yang dideritanya karena terkena peluru tembakan di bagian dada. Naas memang, ayahku telah terbunuh oleh pemerintah Belanda, beliau yang rela mengorbankan jiwanya demi aku, adikku dan ibuku telah terbunuh di hadapanku.
Ibuku sempat tak sadarkan diri karenanya dan aku mengalami trauma yang berkepanjangan hingga saat ini dengan suara tembakan, tapi mungkin saat itu sudah takdirnya beliau untuk pergi meninggalkan orang – orang tercintanya. Akhir – akhir ini aku mencoba untuk memberi pengertian kepada ibuku, bahkan sanak saudara ibu yang lainnya. Sudah berkali – kali aku mencobanya, tetap saja mereka tidak mengizinkanku dan berdalih bahwa sebenarnya nenekku dari ayah telah melupakan dan tidak peduli terhadap kami lagi, semenjak kematian ayahku.
“Tidak! Itu semua bohong! Kalian salah, nenek pasti masih ingat kami dan masih sayang kami,” berontakku dalam hati. Aku tahu ini semua berat, bila aku terus memberontak seperti itu kepada ibuku yang akan membuat ibu semakin terpukul, dan merasa dirinyalah yang sangat bersalah. Aku mengerti itu, juga aku mengerti makam ayah yang terlalu jauh untuk dikunjungi, tidak memungkinkanku untuk pergi ke sana sendiri, bila aku harus memaksa keadaan. Tetapi, aku rindu sekali dengan ayah.
Malam ini adalah malam ulang tahun ayahku. Karena itu, aku  pun teringat rekaman ulang semua kejadian pilu itu. Aku tak menyangka bahwa saat aku kelas 3 SD, itulah pertama dan terkahir kalinya kami sekeluarga merayakan ulang tahun bersama. Masih tergambar jelas senyum bahagia di wajahnya, menambah luka di hatiku yang mungkin telah sempat mengering, tetapi kini kembali tergores.
Air mataku sekarang telah surut melihat kerja keras ibuku seorang. “Kita harus tegar. Harus selalu bisa menatap masa depan yang masih sangat panjang,” itulah yang selalu ibu ucapkan ketika upayaku sudah mulai surut.
Hari demi hari, kami jalani dengan tabah. Begitu sulitnya hidup tanpa seorang pemimpin yang handal, seorang kepala keluarga yang layaknya seorang pria yang bertanggung jawab seperti ayahku yang telah tiada. Akhirnya, ibuku memberi usul kepadaku bahwa sebaiknya kami mencari pengganti seorang ayah. Pada awalnya, aku tidak setuju, sampai aku lebih memilih untuk mati dari pada menyetujui dan melihat pengganti ayahku. Karena di mataku, hanya ayahkulah satu – satunya seorang ayah yang sempurna. Namun, pada akhirnya aku setuju dengan keputusan itu, karena tak  tahan akan tanggunya yang harus dipikul ibuku seorang diri.
“Tapi bukan maksudku agar semua orang kasihan padaku, hanya saja supaya mereka semua mengerti dan harus bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan, terlebih bagi mereka yang keluarganya masih lengkap. Yah, sudahlah semuanya telah berlalu, mungkin ini memang sudah menjadi jalan takdirku,” aku menghela nafas berat dengan teman baikku yang masih saja setia mendengar semua kuakkan memori pahitku yang sudah lama terpendam ini.
Namun sepertinya, Dita sangat butuh untuk menceritakan pengalamannya juga. Dan aku pun berjanji, sebagai temannya akan selalu siap mendengar seluruh keluhannya dan menjadi penaungnya saat ia tidak tahu harus kemana ia menaung kapanpun dan dimanapun.
“Ya sudahlah. Nirma. Allah telah menetapkan jalan hidup yang berbeda – beda untuk setiap manusia di muka bumi ini,” kata Dita yang membuatku lega dan tersenyum.
“Dita, makasih ya! Hari ini kamu sudah mau jadi tempat sampah yang baik buatku, yang bisa menjadi tempat untuk membuang semua rasa – rasa kekesalanku itu,” aku sangat bahagia saat itu. “Aku berdoa semoga nanti malam, aku bermimpi bertemu dengan ayah dan dapat mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayah secara langsung.”
“Iyaa. Semoga saja doamu itu terkabul. Aku pun turut senang kalau semua keinginanmu itu terkabul. Perbanyaklah berdoa kepada Tuhan, ya!”
Aku tersenyum penuh harap, walaupun senyumku tidak sepenuh harapan Nirma. Tak bisa kubayangkan, jika akulah yang mendapatkan takdir yang sudah digariskan Tuhan seperti itu.
Keesokan paginya, kulihat wajah Nirma yang murung yang membuatku kembali khawatir. Namun kutetap akan mencairkan suasana, “Tadi malam, bagaimana?” tanyaku singkat. Terdiam, lama kumenunggu jawaban.
“Tak apalah. Yang penting aku telah mengirimkan doa untuk ayah, sekalipun tadi malam aku tidak bermimpi tentangnya,” suara Nirma terdengar lirih namun tegar.
“Sudahlah, yang telah berlalu, biarlah berlalu!” aku mencoba untuk menghiburnya, takut kalau sampai Nirma bersedih hati, karena keinginannya tidak tercapai.
“Tenang saja, aku sudah menyimpan kenangan pahitku, supaya tidak menyurutkan perjuanganku hari ini, esok dan mungkin untuk seterusnya,” akhirnya semangat Nirma muncul kembali dan segera bangkit dari keterpurukan yang menekan batinnya selama ini.
“Yang penting sekarang..... Syukuri dulu saja apa yang ada... karena di setiap kehidupan seseorang adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa.”
Sebulan telah berlalu, Nirma sudah melupakan keterpurukan yang melandanya di masa lalu. Tiba – tiba di sekolah, ia berlarian menghampiriku seperti akan membawakan berita baik kepadaku. “Alyaaaa!!! Tebak deh, sesuatu apa yang mau aku ceritain ke kamu?” teka – tekinya dengan penuh perasaan ceria.
“Apaan – apaan, Nirma? Pasti berita baik yaa?” kataku yang sangat penasaran dengan itu semua.
“Emmmm.... minggu depaann. Ibukuuuu.... akan mengadakan persepsi pernikahan!” katanya dengan penuh bahagia. Aku senang melihat Nirma seceria itu, tidak seperti dulu yang terus bermuram durja. Namun aku tidak mengetahui, apakah Nirma benar – benar senang, ataukah hanya mencoba tegar atas kepedihannya. Lalu, kuberanikan diri untuk bertanya dengan penuh kesopanan tanpa di luar batas.
“Nirmaa.. Kamu serius dengan keputusan itu semua, kan? Kamu pasti bangga mempunyai papah, kan?” kataku meyakinkannya.
“Ng.... sebenarnyaa..” gumamnya tiba – tiba. Tapi aku tak ingin apa yang tidak kuharapkan itu terjadi sekarang, yaitu berubah pikiran.
“Ayolaahh, teman! Tidak selamanya keluarga tiri itu menyusahkan. Pasti kamu sudah sepakat dan tidak ingin mengecewakan keputusanmu sendiri dengan ibumu, kan?” kataku.
“Iyaa. Pasti, baiklah, kawan! Minggu depan hadirlah di acara pernikahan ibuku! Datanglah bersama orangtuamu kau akan menjadi tamu kehormatan keluargaku. Karena bagiku kau adalah sahabatku, dan ibuku tahu itu. Oh, iya besok akan kuberi kalian undangan,” kata Nirma yang masih ceria.
Persepsi pernikahan telah dilaksanakan. Aku melihat Nirma dan ibunya berjalan ke arahku, mamah, dan papahku yang sedang tersipu malu karena keterlambatan kami untuk datang ke pesta pernikahan ibunya Nirma. “Mari, mamahnya Alya! Duduklah di meja makan yang telah kami sediakan!” kata ibunya Nirma dengan nada suara yang lembut.
“Oh, iya Bu, Mari! Terimakasih,” kata mamahku dengan santun dan segera menuju ke meja makan yang sudah tertata rapih dengan lilin dan berbagai makanan serta minuman yang sengaja telah dipersiapkan untuk tamu kehormatan.
Nirma pun duduk di sampingku, begitu juga ibu dan ayah barunya. Kemudian orangtuaku dan orangtua baru Nirma sedang asyik berbincang – bincang, kurasakan keakraban keluarga kami. Sejenak kupandangi, ayah baru Nirma yang kurasa asing tak pernah kulihat belakangan ini.
“Hey. Terlihat dari mukanya, dia menjamin hidupmu dan orang yang sangat baik.” Kataku berbisik kecil kepada Nirma yang sedang asyik mengunyah makanan.
“Hemm... memang, kuharap begitu.” Katanya dengan mulut penuh makanan.
“Tuh kaan. Aku bilang apa, ibumu pasti akan selalu memilih yang terbaik untukmu.”
“Iya, benar. Seperti halnya makanan yang dihidangkan ini seakan semuanya untukku. Karena makanan ini semuanya kesukaanku,” kata Nirma yang masih tergila – gila dengan hidangan di atas meja.
“Aaaaah Nirma, kamu ini makanan saja yang dipikirkan,” Gurauku. Dan seketika itu kami berdua langsung tertawa dengan penuh gembira ria.k

Tidak ada komentar:

Posting Komentar