Rabu, 27 Juni 2012

Senyum dan Air Mata

karya : Fahroziah Assyifa



“Kriiiing… kriiing…”
“Uhhh… masih ngantuk!” tanganku meraba-raba meja berusaha manggapai bulatan yang terkadang tak bersahabat denganku, jam weker berwarna ungu. Berhasil! Jam itu akhirnya berhenti bergema.
Tak lama aku hendak kembali terlelap, terdengar kembali suara wanita yang hampir berkepala 3, bundaku. “Kakaaaaa, ayo banguuun! Hari ini kita berangkat!”.
Ah bunda pagi-pagi sudah berisik. Memang hari ini mau kemana?
Kulihat kalender di mejaku. Ada bulatan merah di tanggal 8 Juli, hari Minggu.
Hari Minggu? 8 Juli? Itu kan hari ini?! Lalu?
Aku bangun seketika. “aaaah aku lupaaa!!” teriakku mengagetkan burung-burung yang bertengger di jendela kamarku. “bundaaaaaaaa!”
Tepat pukul 07.00 pagi aku sudah duduk manis di depan meja makan bersama nasi goreng kesukaanku. Berbaju putih, rok abu-abu dibalut jilbab putih bermotif bunga. Cantik, namun kurasa jilbabnya kurang rapih. Masa bodo lah. Baru pertama kali.
Kulihat sekelilingku. Bunda, ayah, dan tatanan perabotan rumah. Aku akan meninggalkan mereka. Sedih rasanya. Air mataku hamper menetes, namun kutahan. Wajah ayah dan bunda sangat berseri, dan sangat tak pantas jika aku menghapus raut wajah tersebut dengan kesedihan yang sementara.
Aku harus menjadi anak semata wayang yang kuat. Tak manja seperti anak lainnya.
“Ayo dong Ka, dimakan nasgornya. Itukan pesananmu”, suara lembut bunda memecah lamunanku.
“oh iya Bun. Sepertinya kaka akan rindu dengan nasgor buatan bunda”, ucapku lirih dengan senyum yang tersungging tipis. Senyumanku pun dibalas oleh ayah dan bunda.
Zia Kaniasyifa. Itu namaku. Namun aku akrab dipanggil kaka. Orang mengira kalau aku mempunyai adik. Memang tadinya aku akan menjadi seorang kaka. Namun belum sempat dia terlahir ke dunia ini, dia sudah kembali dipanggil untuk menjadi bunga di surga. Sungguh pilu, namun mungkin itu yang terbaik untuknya dan untuk kami. Dan sampai sekarang, Allah tak lagi memberi kami si mungil nan suci. Dan kami terima itu.
***
“tiiiin, tiiiiin !”
“Cepat ka, nanti keburu macet”, ayahku beteriak. Tapi kan mobilnya juga ga perlu ikut teriak ayaaaah!. Ucapku dalam hati. Ah lagian kena macet dimana? Ini bukan Jakarta yah! Ah suka bercanda si ayah mah! Protesku kembali.
“Iya ayaaah, sebentar”, jawabku sambil membenarkan tali sepatuku. Selesai! Ku berlari menggapai knop pintu mobilku dan membukanya. “Let’s Go, yaaah!” teriakku semangat.
Sebenarnya hatiku tak sesemangat itu. Aku hanya berusaha membahagiakan kedua orang tuaku. Mereka menginginkan aku melanjutkan sekolah yang banyak memperhatikan ilmu agamanya. Dan kami memutuskan untuk bersekolah di sebuah SMP-SMA Islam Terpadu di Kuningan yang full day and boarding school. Mereka berharap aku bisa menjadi sesosok wanita sholehah yang berkualitas. Aku pun menurutinya. Karena mungkin dengan cara ini aku bisa membuat mereka bangga.
Perjalanan dari rumah ke sekolah baruku memakan waktu kurang lebih 2 jam. Tampak suasana perjalananku penuh dengan kesedihan. Sedih karena aku akan meninggalkan mereka. Aku akan bertemu dengan orang-orang baru yang entah apakah keberadaanku akan diterima baik atau tidak. Ya Allah, berkahilah perjalananku. Rahmatilah pengorbananku. Berikanlah ketenangan pada hatiku. Amin, doaku dalam hati.
“Sayaang, ada apa? Mengapa mukamu murung begitu?” Tanya bunda membuyarkan khayalanku. “ah tidak apa apa bun. Kaka hanya sedang memikirkan bagaimana nanti saat ayah dan bunda tak lagi disampingku selalu. Aku khawatir kalau keberadaanku disana tidak diterima baik. Aku tak yakin apakah aku bisa memnjalani hari-hari baruku dengan senyum. Aku….” Belum sempat ku melanjutkan kata-kataku, bunda memotongnya, “ssssst. Kamu tidak boleh cemas seperti itu. Kamu anak kami yang sangat kami banggakan. Kami yakin, kamu dapat menghadapi apa pun dengan tenang. Hilangkan semua firasat mu itu. Kamu pasti bisa. Anak ayah dan bunda tidak akan cengeng”. Kata-kata bunda seolah mencerahkan hatiku yang kelam. Menyejukkan kepalaku yang semula tak karuan. “Terima kasih bunda, terima kasih ayah. Kaka sayang kalian.” Aku langsung memeluk bunda. Kemudian memeluk ayah dari belakang karena takut mengganggu beliau sedang menyetir. Sekarang aku siap untuk hari baruku, batinku.
***
“Wah, sebanyak inikah calon teman-teman baruku yah?” tanyaku ketika turun dari mobil. “Ya sayang, mereka tentu akan menyenangkan jika bersamamu”, jawab ayah. Aku tersenyum dan kembali melihat-lihat sekelilingku. Aku tidak akan kesepian disini. Kemudian ayah mengajakku menuju asrama yang akan aku tinggali. “Ayo nak kita kesana!”. Akupun mengagguk.
Sesampainya di depan asrama tersebut, kedatanganku disambut oleh seorang wanita berjilbab panjang yang umurnya tak jauh dari bundaku. Sepertinya itu yang akan menjagaku. Nice looking. Aku membalas senyum padanya. “Assalamu’alaikum,” wanita itu duluan menyapa, “Wa’alaikumsalam” kami menjawab. “Selamat datang ukhti, perkenalkan saya umi yang akan mengurus asrama ini. Panggil saya Umi Lia ya sayang,” aku tersenyum dan mengangguk, “Iya umi, nama saya Zia Kaniasyifa. Umi bisa panggil saya apa saja. Yang penting enak,” aku tertawa kecil. Mereka pun ikut tertawa. “oke Zia, mari ikut umi ke kamarmu,” ucap umi sambil merangkul pundakku, menuntunku. Aku mulai nyaman.
“Nah Zia, ini kamarmu. Kamar Aisyah namanya” kami berhenti di depan kamar yang di pintunya tertulis nama kamar dan anggota kamarnya. “terima kasih, Mi” ucapku. “Sama-sama, Zi. Sekarang berbaurlah bersama kawan sekamarmu” beliau tersenyum.
“Ayo sayang, kita bereskan segalanya!” buundaku semangat. “Ayo bun!” kami tersenyum. Ayah datang dan memasang loker yang akan aku gunakan untuk menyimpan pakaianku. Aku dan bunda membereskan kasur dan barang-barang bawaanku. Beberapa jam kami terlihat sibuk, begitu pula anak dan orang tua lainnya.
“Selesaaai!” aku menarik nafas dan membaringkan tubuhku diatas kasur yang empuknya tak seempuk kasur dirumahku. “Alhamdulillah… sekarang ayah dan bunda mau keluar dulu yah sayang. Ada adminstrasi yang harus diselesaikan. Kamu tunggu disini dulu sekalian bersosialisasi ya. Ok sayang?” ayah tersenyum. “oke yah!”. Aku berjalan mengelilingi kamarku yang tak begitu luas.
“Hei,” terdengar suara kecil seolah memanggilku dari belakang. Aku menoleh, “Aku?”, “Ya, kamu! Boleh berkenalan?” dia menghampiriku dan memulai percakapan. “Tentu boleh, namaku Zia Kaniasyifa. Panggil saja Zia,” aku melontarkan senyum padanya. “Aku Risya Nurazizah, panggil saja Icha,” dia membalas jabat tanganku dan tersenyum. “Senang berkenalan denganmu. Kuharap kita bisa berteman baik,” ucapku. “Tentu. Oya, perkenalkan ini temanku,” kulihat seorang berjilbab di belakang Icha, “aku Tia Fathia, panggil saja Tia” aku membalas jabat tangannya, “aku Zia,” kembali tersenyum. Entah hari ini aku sudah tersenyum berapa kali. Pegal rasanya bibirku ini, namun inilah yang aku harapkan. Bisa tersenyum pada semua orang dan orang pun akan membalas senyumanku. Dengan begitu, aku mendapat tambahan pahala dari Allah, Amin…
***
Tiba saatnya untukku berpisah dengan orang tuaku. Sedih rasanya. Ingin menangis, namun itu tiada guna. Toh ini memang harus terjadi dan tak bisa dielak lagi. Sebenarnya bunda bisa saja menginap disini sehari sama seperti beberapa orangtua lainnya, tapi aku bukan anak yang manja. Aku bisa sendiri, itu tekadku.
“Sayang, sekarang bunda dan ayah harus pergi. Tidak apa-apa kan?” tanya bunda dengan mata yang berlinang. “Bunda tidak perlu khawatir, kaka disini banyak teman kok. Kaka akan berusaha menjadi rumput yang kuat menahan badai datang,” aku tersenyum. “Bagus. Kamu memang anak ayah satu-satunya, tapi kamu tidak menanggapinya dengan manja. Kamu hebat, anakku!” ayah membelai kepalaku. “Tentu, Yah! Aku akan berusaha untuk mandiri!” aku kembali tersenyum dan memeluk keduanya. Kehangatan ini akan menjadi bekal awalku untuk menghadapi hari esok, batinku. “Jaga dirimu baik-baik ya sayang,” bunda menasehatiku. “Belajar yang benar ya,” ayah menambahkan. “Siap, Yah. Siap, Bun!”
***
Senja menjelang, terdengar sirine dari salah satu kamar. Itu dari kamar Umi. Pertanda bahwa seluruh anak asrama diwajibkan shalat Maghrib berjama’ah di Masjid depan asrama. Semua anak mengambil air wudhu yang tempatnya tak jauh dari kamarku. Kamarku terletak di lantai satu dan berada di paling pojok dekat kamar mandi. Dan tepat di belakang asrama kami adalah Pemakaman Umum di desa tersebut. Seram sih, tapi banyak orang kok. Jadi aku tak perlu takut. Oiya, asrama akhwat (sebutan untuk anak-anak perempuan) dan asrama ikhwan (sebutan untuk anak-anak laki-laki) tepat bersebrangan dan jaraknya sangat dekat. Hanya terpisah sejauh 5-10 langkah. Jarak antara asrama dan sekolah kami pun tak jauh. Hanya memakan waktu 5-10 menit untuk berjalan. Udaranya sejuk karena terletak di kaki Gunung Ciremai. Tempat yang nyaman untuk tinggal dan menimba ilmu.
Shalat Maghrib pun sudah terlaksana. Saatnya kami untuk bertadarusan bersama. Setelah itu dilanjut pada Shalat Isya berjama’ah. Dan kemudian waktunya untuk makan malam. Aku ingin sekali menghubungi orangtuaku disana untuk mengucapkan selamat malam, tapi disini tidak diperbolehkan membawa Handphone ataupun alat-alat elektronik lainnya. Waktu keluar pun sangat dibatasi. Tidak boleh berdua-duaan dengan lawan jenis, kecuali dengan kerabat dekat yang menjenguk. Dan masih banyak lagi peraturan yang sebenarnya tak sejalan dengan pikiranku. Atau mungkin belum sejalan. Uh… apakah ini akan sangat membosankan? batinku.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 21.00. ini saatnya untuk para akhwat beranjak tidur. Suasananya sangat sepi. Berbeda dengan dirumah yang masih terdengar suara televisi atau pun kendaraan yang lalu lalang. Yang ada hanya suara jangkrik yang menambah ketegangan. Perasaan takut pun muncul. Tapi hilang begitu saja ketika kuganti pikiranku dengan baying-bayang ayah dan bunda. Aku menangis. Bolehlah sesekali aku menangis, karena itu akan menguatkan aku kelak. Tak lama, aku pun terlelap dalam balutan selimut hangat.
***
“Kukkuruyuuuuuuk…”
Suara sirine pun kembali berbunyi. Itu cukup ampuh membangunkan kami semua. “Zia, bangun nyok. Kita ambil wudhu,” Tara membangunkanku dengan logat betawinya yang cukup membuatku tertawa kecil. Dia tidur tepat diatas ranjangku.
Semua penghuni asrama berduyun-duyun pergi ke masjid. Kecuali mereka yang mengalami “gejala benci pria” alias datang bulan.
Setelah shalat shubuh berjama’ah, ada satu kegiatan rutin asrama, yaitu kuliah tujuh menit (kultum) 3 bahasa, B. Sunda, B. Indonesia, dan B. Inggris. Semuanya tersusun dengan rapi dan dilakukan dengan khidmat.
Selepas itu, anak-anak pun kembali ke asrama, membersihkan dan mempersiapkan diri untuk sekolah. Sarapan pun tak terlewat. Kita makan bersama di ruang makan yang cukup besar untuk menampung anak asrama yang jumlahnya ratusan.
Jam menunjukkan pukul 06.30. Semua anak mempersibuk diri untuk sekolah. Aku berangkat ke sekolah bersama Icha. Kebetulan aku dan dia satu kelas. Dia teman yang baik dan asyik. Dia juga salah satu penyemangatku disekolah.
Hari-hari pun berlalu yang kurasa begitu cepat. Semuanya kulalui dengan senyuman. Ya walaupun jalan tak selamanya lurus dan mulus. Tapi itu tidak mengganggu bibirku untuk tetap tersenyum.
Disini aku mendapatkan berbagai arti kehidupan. Arti persahabatan, pengorbanan, kerja keras, persaingan sampai ke arti cinta, semuanya ada dan ku rasakan. Disini aku mulai merasakan apa itu perasaan, perasaan mendebarkan ketika dekat dengan lawan jenis dan apa itu rasa yang menjengkelkan ketika si dia dekat dengan perempuan lain. Lucu memang, tapi inilah kodrat yang pasti kita, manusia yang berhati, akan rasakan. Disini aku mulai mengalami apa itu memiliki dan dimiliki seseorang, tapi tetap aku berusaha untuk tidak keluar dari koridor yang ditetapkan. Disini pula aku merasakan persaingan yang benar-benar persaingan. Entah apa itu dalam mencapai prestasi di sekolah, dalam lika-liku persahabatan, ataupun dalam segala hal yang mengenai perasaan dan cinta. Dan aku baru sadar, bahwa hidup ini luas. Tak sebatas lukisan yang hanya dinikmati indahnya. Namun lukisan yang diteliti bagaimana proses pembuatannya sehingga bisa menjadi indah. Menuntut kita agar jatuh untuk berdiri, menangis untuk tersenyum, membenci untuk memaafkan serta bersakit-sakit untuk nikmat yang luar biasa. Sungguh masih banyak lagi cerita yang bisa dikenang namun tak dapat ditorehkan dengan kata-kata.
***
Hidup bagaikan roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Ada saatnya suka, ada pula saatnya untuk duka. Ada yang mengatakan, “jangan terlalu tinggi untuk terbang, karena ketika jatuh pasti akan meninggalkan luka yang berbekas. Sakit rasanya”. Itu yang sekarang aku alami. Di hidupku yang nyaris sempurna, mempunyai keluarga yang bahagia dan sangat berkecukupan, mempunyai prestasi yang menggunung, mempunyai teman-teman yang setia menemani, dan memiliki seorang yang berarti yang mengisi ruang di hati, tiba-tiba datang kesedihan bah kilat yang memecahkan segala keindahan.
Aku sangat terpukul ketika mendapati sebuah bendera kuning menempel di pohon depan rumahku. Semenjak perjalanan pulang pun aku mempunyai perasaan yang tak enak. Apalagi ketika ayah meneleponku untuk segera pulang. Terdengar suara lelaki paru baya yang sangat parau dari sebrang. Ketika ku Tanya ada apa, beliau tidak menjawabnya. Aku mengerti, mungkin aku sangat dibutuhkan disana. Aku harus pulang. Sebelum semuanya terlambat. Dan sekarang terlihat jelas apa alasannya. Mengapa di rumahku banyak orang dengan raut muka muram? Apakah mereka tidak tahu bagaimana cara bertamu yang baik? ataukah ada sesuatu lain yang aku tak mengerti telah terjadi? Karena tak ingin banyak membuang waktu untuk pertanyaan yang tak jelas jawabannya, aku putuskan untuk langsung masuk rumah dan bertanya pada ayah atau bunda. Tapi belum aku berkata sesuatu, ayah lari menghampiri dan langsung memelukku erat. Seakan ayah tak mau melepasku yang akan pergi jauh dan tak kembali. Dan sekilas kudengar suara isak tangis ayah. Ada apa ini?, batinku.
“A… ayah, ada apa? Mengapa ayah menangis seperti ini? Mana Bunda? Aku ingin bertemu…” ucapku heran ketika melepas pelukkan erat ayah. “Ka… kamu harus sabar. Kamu harus kuat. Ingat janjimu dulu? Bahwa Kaka akan berusaha menjadi rumput yang kuat menahan badai datang?” pertanyaan ayah semakin menambah tanda tanya di benakku. “iya ayah, aku ingat sekali itu. Memangnya kenapa yah? Ceritakan padaku…” aku berusaha membujuk ayah untuk membuka mulutnya yang daritadi menyembunyikan sesuatu. Ayah semakin terisak, “Kamu bisa lihat sendiri, Ka” ayah bergerak menjauhi pintu dan seolah mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan yang sebenarnya aku takuti. Tapi aku paksakan kaki ini untuk terus meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Kulihat sesosok yang familiar dimataku, entah siapa karena mukanya tertutupi kain putih. Aku mulai berpikir yang tidak sepantasnya aku pikirkan. Langkah kakiku semakin lama terasa semakin bergetar. Air mataku ingin menetes seolah tak mampu lagi mata ini membendungnya. Keringatku bercucuran seperti sudah berlari mengejar kereta express. Memang terkesan mengada-ada karena tak mungkin di ruangan ber-AC itu aku merasakan panas yang menyengat. Menyengat hati dan jiwaku. Tapi ini memang adanya. Aku hampiri sosok itu, kubuka kain penutup wajahnya, kulihat matanya seperti mata terindah yang pernah aku lihat, dan…
“Bundaaaaaaaaaaaaaaaa………!!!!”
Aku berteriak histeris. Aku tak percaya bahwa sosok itu adalah wanita yang amat sangat aku cintai. Aku… aku…aaahh ! ini mimpi! Ini mimpi burukku! Mimpi terburuk sepanjang tidurku! Tolong bangunkan aku Ya Allah!...
Aku menangis! Menangis yang benar-benar memilukan di sepanjang hidupku! Semua orang menatapku iba. Ayah merangkulku dari belakang, berusaha memerintahku untuk menahan emosiku. Aku tau itu. Tapi kali ini aku tak bisa mengindahkan perintah itu. Biarlah aku menangis, yah. Aku tak ingin melewatkan air mataku untuk saat-saat sepenting ini. Aku yakin, air mataku takkan sia-sia jatuh untuk menangisi ini. Kumohon yah, biarkanlah aku menangis…Seakan ayah mendengar kata hatiku, ayah pun melepas rangkulannya dan bersedia memberikan waktuku untuk menumpahkan semua emosi. Aku pun berlarut-larut dalam tangisan di atas dada bundaku.
***
Pintu kamarku berbunyi, seperti ada yang menggerakkannya. Itu ayah. “Sudah nak, bundamu tak ingin kamu seperti ini. Ayah yakin itu,” ayah membelai rambutku dan mencoba meredam tangisku yang tak kunjung henti. Aku terus menangis, menyesali keadaan. Dan akhirnya kuucap kata-kata yang sangat aku ingin katakana, “Mengapa yah? Mengapa ayah tak mengatakan tentang penyakit bunda sebelumnya?”. Ayah terdiam selama beberapa menit. Aku terus memandangi mata ayah dan menanti jawaban itu. “Sebenarnya itu permintaan bundamu, Nak. Ia tak mau kamu cemas akan keadaannya. Ia ingin kamu terus tersenyum. Ia menyayangimu, Nak” ayah membuka mulut. Aku mengerti. Dan aku berusaha untuk tersenyum demi bunda. Inikah alasannya mengapa ayah dan bunda tak ingin melihatku menagis dan ingin selalu aku tersenyum?, aku terus menangis di pangkuan ayah. “Dan permintaannya yang terakhir, ia ingin kamu terus gapai mimpimu dengan senyuman walau ada atau tanpa dia, kamu janji akan itu sayang?”. Aku mengangguk, “Aku janji, Yah”. Benar, aku masih punya ayah, aku masih punya teman-teman, aku masih dikelilingi orang-orang yang aku sayangi. Itu semua berkat ayah dan bunda. Tak salah selama beberapa tahun ini aku habiskan waktu di asrama. Pilihan bunda memang tak pernah salah. Kini aku sedikit paham apa arti kehidupan. Dan aku janji, aku kan terus bersinar untuk kalian. Aku janji, Bunda…
***
Suatu hari… setelah 4 tahun Bunda tiada, aku berdiri di depan podium mengenakan pakaian toga untuk menyampaikan sedikit kata-kata yang tak begitu indah namun akan kulakukan itu dengan sepenuh hati. Kulihat di depanku, orang-orang yang duduk rapi menunggu ku berbicara. Aku sedikit tegang, namun wajah ayah mengingatkanku akan janjiku. Kulihat langit, terlukis indah raut wajah seorang wanita cantik sedang tersenyum. Itu bunda… dan aku mulai mengukir kata-kata…
“…Terima kasih ayah, terima kasih bunda, terima kasih kawan, dan terima kasih semuanya yang telah mengajariku berbagai hal tentang kehidupan, yang telah menyemangatiku dengan persahabatan dan persaingan, dan yang telah membuatku menyadari akan pentingnya senyuman dan pentingnya untuk tidak mudah menangis.
Mungkin kata-kata ini tidak seindah kata-kata yang diucapkan Shakespare, Picasso ataupun Khalil Gibran dan teman-temannya, namun ketahuilah bahwa saya merangkainya dari hati yang paling dalam. Dan untuk Icha, Tia, dan Tara sahabatku… sampai bertemu nanti, saat aku sudah resmi mengenakan jas putih dengan mengalungi stetoskop. Aku janji itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar