karya : Fahroziah Assyifa
“Kriiiing… kriiing…”
“Uhhh…
masih ngantuk!” tanganku meraba-raba meja berusaha manggapai bulatan yang
terkadang tak bersahabat denganku, jam weker berwarna ungu. Berhasil! Jam itu
akhirnya berhenti bergema.
Tak
lama aku hendak kembali terlelap, terdengar kembali suara wanita yang hampir
berkepala 3, bundaku. “Kakaaaaa, ayo banguuun! Hari ini kita berangkat!”.
Ah bunda pagi-pagi sudah berisik. Memang hari ini mau kemana?
Kulihat
kalender di mejaku. Ada bulatan merah di tanggal 8 Juli, hari Minggu.
Hari Minggu? 8 Juli? Itu kan hari ini?! Lalu?
Aku
bangun seketika. “aaaah aku lupaaa!!” teriakku mengagetkan burung-burung yang
bertengger di jendela kamarku. “bundaaaaaaaa!”
Tepat
pukul 07.00 pagi aku sudah duduk manis di depan meja makan bersama nasi goreng
kesukaanku. Berbaju putih, rok abu-abu dibalut jilbab putih bermotif bunga.
Cantik, namun kurasa jilbabnya kurang rapih. Masa bodo lah. Baru pertama kali.
Kulihat
sekelilingku. Bunda, ayah, dan tatanan perabotan rumah. Aku akan meninggalkan
mereka. Sedih rasanya. Air mataku hamper menetes, namun kutahan. Wajah ayah dan
bunda sangat berseri, dan sangat tak pantas jika aku menghapus raut wajah
tersebut dengan kesedihan yang sementara.
Aku harus menjadi anak semata wayang yang kuat. Tak manja seperti
anak lainnya.
“Ayo
dong Ka, dimakan nasgornya. Itukan pesananmu”, suara lembut bunda memecah
lamunanku.
“oh
iya Bun. Sepertinya kaka akan rindu dengan nasgor buatan bunda”, ucapku lirih
dengan senyum yang tersungging tipis. Senyumanku pun dibalas oleh ayah dan
bunda.
Zia
Kaniasyifa. Itu namaku. Namun aku akrab dipanggil kaka. Orang mengira kalau aku
mempunyai adik. Memang tadinya aku akan menjadi seorang kaka. Namun belum
sempat dia terlahir ke dunia ini, dia sudah kembali dipanggil untuk menjadi
bunga di surga. Sungguh pilu, namun mungkin itu yang terbaik untuknya dan untuk
kami. Dan sampai sekarang, Allah tak lagi memberi kami si mungil nan suci. Dan
kami terima itu.
***
“tiiiin,
tiiiiin !”
“Cepat
ka, nanti keburu macet”, ayahku beteriak. Tapi
kan mobilnya juga ga perlu ikut teriak ayaaaah!. Ucapku dalam hati. Ah lagian kena macet dimana? Ini bukan
Jakarta yah! Ah suka bercanda si ayah mah! Protesku kembali.
“Iya
ayaaah, sebentar”, jawabku sambil membenarkan tali sepatuku. Selesai! Ku berlari menggapai knop pintu
mobilku dan membukanya. “Let’s Go, yaaah!” teriakku semangat.
Sebenarnya
hatiku tak sesemangat itu. Aku hanya berusaha membahagiakan kedua orang tuaku.
Mereka menginginkan aku melanjutkan sekolah yang banyak memperhatikan ilmu
agamanya. Dan kami memutuskan untuk bersekolah di sebuah SMP-SMA Islam Terpadu
di Kuningan yang full day and boarding
school. Mereka berharap aku bisa menjadi sesosok wanita sholehah yang
berkualitas. Aku pun menurutinya. Karena mungkin dengan cara ini aku bisa
membuat mereka bangga.
Perjalanan
dari rumah ke sekolah baruku memakan waktu kurang lebih 2 jam. Tampak suasana
perjalananku penuh dengan kesedihan. Sedih karena aku akan meninggalkan mereka.
Aku akan bertemu dengan orang-orang baru yang entah apakah keberadaanku akan
diterima baik atau tidak. Ya Allah,
berkahilah perjalananku. Rahmatilah pengorbananku. Berikanlah ketenangan pada
hatiku. Amin, doaku dalam hati.
“Sayaang,
ada apa? Mengapa mukamu murung begitu?” Tanya bunda membuyarkan khayalanku. “ah
tidak apa apa bun. Kaka hanya sedang memikirkan bagaimana nanti saat ayah dan
bunda tak lagi disampingku selalu. Aku khawatir kalau keberadaanku disana tidak
diterima baik. Aku tak yakin apakah aku bisa memnjalani hari-hari baruku dengan
senyum. Aku….” Belum sempat ku melanjutkan kata-kataku, bunda memotongnya, “ssssst.
Kamu tidak boleh cemas seperti itu. Kamu anak kami yang sangat kami banggakan.
Kami yakin, kamu dapat menghadapi apa pun dengan tenang. Hilangkan semua
firasat mu itu. Kamu pasti bisa. Anak ayah dan bunda tidak akan cengeng”.
Kata-kata bunda seolah mencerahkan hatiku yang kelam. Menyejukkan kepalaku yang
semula tak karuan. “Terima kasih bunda, terima kasih ayah. Kaka sayang kalian.”
Aku langsung memeluk bunda. Kemudian memeluk ayah dari belakang karena takut
mengganggu beliau sedang menyetir. Sekarang
aku siap untuk hari baruku, batinku.
***
“Wah,
sebanyak inikah calon teman-teman baruku yah?” tanyaku ketika turun dari mobil.
“Ya sayang, mereka tentu akan menyenangkan jika bersamamu”, jawab ayah. Aku
tersenyum dan kembali melihat-lihat sekelilingku. Aku tidak akan kesepian disini. Kemudian ayah mengajakku menuju
asrama yang akan aku tinggali. “Ayo nak kita kesana!”. Akupun mengagguk.
Sesampainya
di depan asrama tersebut, kedatanganku disambut oleh seorang wanita berjilbab
panjang yang umurnya tak jauh dari bundaku. Sepertinya
itu yang akan menjagaku. Nice looking. Aku membalas senyum padanya.
“Assalamu’alaikum,” wanita itu duluan menyapa, “Wa’alaikumsalam” kami menjawab.
“Selamat datang ukhti, perkenalkan saya umi yang akan mengurus asrama ini.
Panggil saya Umi Lia ya sayang,” aku tersenyum dan mengangguk, “Iya umi, nama
saya Zia Kaniasyifa. Umi bisa panggil saya apa saja. Yang penting enak,” aku
tertawa kecil. Mereka pun ikut tertawa. “oke Zia, mari ikut umi ke kamarmu,”
ucap umi sambil merangkul pundakku, menuntunku. Aku mulai nyaman.
“Nah
Zia, ini kamarmu. Kamar Aisyah namanya” kami berhenti di depan kamar yang di
pintunya tertulis nama kamar dan anggota kamarnya. “terima kasih, Mi” ucapku.
“Sama-sama, Zi. Sekarang berbaurlah bersama kawan sekamarmu” beliau tersenyum.
“Ayo
sayang, kita bereskan segalanya!” buundaku semangat. “Ayo bun!” kami tersenyum.
Ayah datang dan memasang loker yang akan aku gunakan untuk menyimpan pakaianku.
Aku dan bunda membereskan kasur dan barang-barang bawaanku. Beberapa jam kami
terlihat sibuk, begitu pula anak dan orang tua lainnya.
“Selesaaai!”
aku menarik nafas dan membaringkan tubuhku diatas kasur yang empuknya tak
seempuk kasur dirumahku. “Alhamdulillah… sekarang ayah dan bunda mau keluar
dulu yah sayang. Ada adminstrasi yang harus diselesaikan. Kamu tunggu disini
dulu sekalian bersosialisasi ya. Ok sayang?” ayah tersenyum. “oke yah!”. Aku
berjalan mengelilingi kamarku yang tak begitu luas.
“Hei,”
terdengar suara kecil seolah memanggilku dari belakang. Aku menoleh, “Aku?”,
“Ya, kamu! Boleh berkenalan?” dia menghampiriku dan memulai percakapan. “Tentu
boleh, namaku Zia Kaniasyifa. Panggil saja Zia,” aku melontarkan senyum
padanya. “Aku Risya Nurazizah, panggil saja Icha,” dia membalas jabat tanganku
dan tersenyum. “Senang berkenalan denganmu. Kuharap kita bisa berteman baik,”
ucapku. “Tentu. Oya, perkenalkan ini temanku,” kulihat seorang berjilbab di
belakang Icha, “aku Tia Fathia, panggil saja Tia” aku membalas jabat tangannya,
“aku Zia,” kembali tersenyum. Entah hari ini aku sudah tersenyum berapa kali.
Pegal rasanya bibirku ini, namun inilah yang aku harapkan. Bisa tersenyum pada
semua orang dan orang pun akan membalas senyumanku. Dengan begitu, aku mendapat
tambahan pahala dari Allah, Amin…
***
Tiba
saatnya untukku berpisah dengan orang tuaku. Sedih rasanya. Ingin menangis,
namun itu tiada guna. Toh ini memang harus terjadi dan tak bisa dielak lagi.
Sebenarnya bunda bisa saja menginap disini sehari sama seperti beberapa
orangtua lainnya, tapi aku bukan anak yang manja. Aku bisa sendiri, itu tekadku.
“Sayang,
sekarang bunda dan ayah harus pergi. Tidak apa-apa kan?” tanya bunda dengan
mata yang berlinang. “Bunda tidak perlu khawatir, kaka disini banyak teman kok.
Kaka akan berusaha menjadi rumput yang kuat menahan badai datang,” aku
tersenyum. “Bagus. Kamu memang anak ayah satu-satunya, tapi kamu tidak
menanggapinya dengan manja. Kamu hebat, anakku!” ayah membelai kepalaku.
“Tentu, Yah! Aku akan berusaha untuk mandiri!” aku kembali tersenyum dan
memeluk keduanya. Kehangatan ini akan
menjadi bekal awalku untuk menghadapi hari esok, batinku. “Jaga dirimu
baik-baik ya sayang,” bunda menasehatiku. “Belajar yang benar ya,” ayah
menambahkan. “Siap, Yah. Siap, Bun!”
***
Senja
menjelang, terdengar sirine dari salah satu kamar. Itu dari kamar Umi. Pertanda
bahwa seluruh anak asrama diwajibkan shalat Maghrib berjama’ah di Masjid depan
asrama. Semua anak mengambil air wudhu yang tempatnya tak jauh dari kamarku.
Kamarku terletak di lantai satu dan berada di paling pojok dekat kamar mandi.
Dan tepat di belakang asrama kami adalah Pemakaman Umum di desa tersebut. Seram
sih, tapi banyak orang kok. Jadi aku tak perlu takut. Oiya, asrama akhwat
(sebutan untuk anak-anak perempuan) dan asrama ikhwan (sebutan untuk anak-anak
laki-laki) tepat bersebrangan dan jaraknya sangat dekat. Hanya terpisah sejauh
5-10 langkah. Jarak antara asrama dan sekolah kami pun tak jauh. Hanya memakan
waktu 5-10 menit untuk berjalan. Udaranya sejuk karena terletak di kaki Gunung
Ciremai. Tempat yang nyaman untuk tinggal dan menimba ilmu.
Shalat
Maghrib pun sudah terlaksana. Saatnya kami untuk bertadarusan bersama. Setelah
itu dilanjut pada Shalat Isya berjama’ah. Dan kemudian waktunya untuk makan
malam. Aku ingin sekali menghubungi orangtuaku disana untuk mengucapkan selamat
malam, tapi disini tidak diperbolehkan membawa Handphone ataupun alat-alat
elektronik lainnya. Waktu keluar pun sangat dibatasi. Tidak boleh berdua-duaan
dengan lawan jenis, kecuali dengan kerabat dekat yang menjenguk. Dan masih
banyak lagi peraturan yang sebenarnya tak sejalan dengan pikiranku. Atau
mungkin belum sejalan. Uh… apakah ini
akan sangat membosankan? batinku.
Waktu
pun sudah menunjukkan pukul 21.00. ini saatnya untuk para akhwat beranjak
tidur. Suasananya sangat sepi. Berbeda dengan dirumah yang masih terdengar
suara televisi atau pun kendaraan yang lalu lalang. Yang ada hanya suara
jangkrik yang menambah ketegangan. Perasaan takut pun muncul. Tapi hilang
begitu saja ketika kuganti pikiranku dengan baying-bayang ayah dan bunda. Aku
menangis. Bolehlah sesekali aku menangis,
karena itu akan menguatkan aku kelak. Tak lama, aku pun terlelap dalam
balutan selimut hangat.
***
“Kukkuruyuuuuuuk…”
Suara
sirine pun kembali berbunyi. Itu cukup ampuh membangunkan kami semua. “Zia,
bangun nyok. Kita ambil wudhu,” Tara membangunkanku dengan logat betawinya yang
cukup membuatku tertawa kecil. Dia tidur tepat diatas ranjangku.
Semua
penghuni asrama berduyun-duyun pergi ke masjid. Kecuali mereka yang mengalami
“gejala benci pria” alias datang bulan.
Setelah
shalat shubuh berjama’ah, ada satu kegiatan rutin asrama, yaitu kuliah tujuh
menit (kultum) 3 bahasa, B. Sunda, B. Indonesia, dan B. Inggris. Semuanya
tersusun dengan rapi dan dilakukan dengan khidmat.
Selepas
itu, anak-anak pun kembali ke asrama, membersihkan dan mempersiapkan diri untuk
sekolah. Sarapan pun tak terlewat. Kita makan bersama di ruang makan yang cukup
besar untuk menampung anak asrama yang jumlahnya ratusan.
Jam
menunjukkan pukul 06.30. Semua anak mempersibuk diri untuk sekolah. Aku
berangkat ke sekolah bersama Icha. Kebetulan aku dan dia satu kelas. Dia teman
yang baik dan asyik. Dia juga salah satu penyemangatku disekolah.
Hari-hari
pun berlalu yang kurasa begitu cepat. Semuanya kulalui dengan senyuman. Ya
walaupun jalan tak selamanya lurus dan mulus. Tapi itu tidak mengganggu bibirku
untuk tetap tersenyum.
Disini
aku mendapatkan berbagai arti kehidupan. Arti persahabatan, pengorbanan, kerja
keras, persaingan sampai ke arti cinta, semuanya ada dan ku rasakan. Disini aku
mulai merasakan apa itu perasaan, perasaan mendebarkan ketika dekat dengan
lawan jenis dan apa itu rasa yang menjengkelkan ketika si dia dekat dengan
perempuan lain. Lucu memang, tapi inilah kodrat yang pasti kita, manusia yang
berhati, akan rasakan. Disini aku mulai mengalami apa itu memiliki dan dimiliki
seseorang, tapi tetap aku berusaha untuk tidak keluar dari koridor yang
ditetapkan. Disini pula aku merasakan persaingan yang benar-benar persaingan.
Entah apa itu dalam mencapai prestasi di sekolah, dalam lika-liku persahabatan,
ataupun dalam segala hal yang mengenai perasaan dan cinta. Dan aku baru sadar,
bahwa hidup ini luas. Tak sebatas lukisan yang hanya dinikmati indahnya. Namun
lukisan yang diteliti bagaimana proses pembuatannya sehingga bisa menjadi
indah. Menuntut kita agar jatuh untuk berdiri, menangis untuk tersenyum,
membenci untuk memaafkan serta bersakit-sakit untuk nikmat yang luar biasa.
Sungguh masih banyak lagi cerita yang bisa dikenang namun tak dapat ditorehkan
dengan kata-kata.
***
Hidup
bagaikan roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Ada saatnya suka,
ada pula saatnya untuk duka. Ada yang mengatakan, “jangan terlalu tinggi untuk terbang, karena ketika jatuh pasti akan
meninggalkan luka yang berbekas. Sakit rasanya”. Itu yang sekarang aku
alami. Di hidupku yang nyaris sempurna, mempunyai keluarga yang bahagia dan
sangat berkecukupan, mempunyai prestasi yang menggunung, mempunyai teman-teman
yang setia menemani, dan memiliki seorang yang berarti yang mengisi ruang di
hati, tiba-tiba datang kesedihan bah kilat yang memecahkan segala keindahan.
Aku
sangat terpukul ketika mendapati sebuah bendera kuning menempel di pohon depan
rumahku. Semenjak perjalanan pulang pun aku mempunyai perasaan yang tak enak.
Apalagi ketika ayah meneleponku untuk segera pulang. Terdengar suara lelaki
paru baya yang sangat parau dari sebrang. Ketika ku Tanya ada apa, beliau tidak
menjawabnya. Aku mengerti, mungkin aku sangat dibutuhkan disana. Aku harus
pulang. Sebelum semuanya terlambat. Dan sekarang terlihat jelas apa alasannya. Mengapa di rumahku banyak orang dengan raut
muka muram? Apakah mereka tidak tahu bagaimana cara bertamu yang baik? ataukah
ada sesuatu lain yang aku tak mengerti telah terjadi? Karena tak ingin
banyak membuang waktu untuk pertanyaan yang tak jelas jawabannya, aku putuskan
untuk langsung masuk rumah dan bertanya pada ayah atau bunda. Tapi belum aku
berkata sesuatu, ayah lari menghampiri dan langsung memelukku erat. Seakan ayah
tak mau melepasku yang akan pergi jauh dan tak kembali. Dan sekilas kudengar
suara isak tangis ayah. Ada apa ini?,
batinku.
“A…
ayah, ada apa? Mengapa ayah menangis seperti ini? Mana Bunda? Aku ingin
bertemu…” ucapku heran ketika melepas pelukkan erat ayah. “Ka… kamu harus
sabar. Kamu harus kuat. Ingat janjimu dulu? Bahwa Kaka akan berusaha menjadi
rumput yang kuat menahan badai datang?” pertanyaan ayah semakin menambah tanda
tanya di benakku. “iya ayah, aku ingat sekali itu. Memangnya kenapa yah?
Ceritakan padaku…” aku berusaha membujuk ayah untuk membuka mulutnya yang
daritadi menyembunyikan sesuatu. Ayah semakin terisak, “Kamu bisa lihat
sendiri, Ka” ayah bergerak menjauhi pintu dan seolah mempersilahkan aku masuk ke
dalam ruangan yang sebenarnya aku takuti. Tapi aku paksakan kaki ini untuk
terus meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Kulihat sesosok yang familiar
dimataku, entah siapa karena mukanya tertutupi kain putih. Aku mulai berpikir
yang tidak sepantasnya aku pikirkan. Langkah kakiku semakin lama terasa semakin
bergetar. Air mataku ingin menetes seolah tak mampu lagi mata ini
membendungnya. Keringatku bercucuran seperti sudah berlari mengejar kereta
express. Memang terkesan mengada-ada karena tak mungkin di ruangan ber-AC itu
aku merasakan panas yang menyengat. Menyengat hati dan jiwaku. Tapi ini memang
adanya. Aku hampiri sosok itu, kubuka kain penutup wajahnya, kulihat matanya
seperti mata terindah yang pernah aku lihat, dan…
“Bundaaaaaaaaaaaaaaaa………!!!!”
Aku
berteriak histeris. Aku tak percaya bahwa sosok itu adalah wanita yang amat
sangat aku cintai. Aku… aku…aaahh ! ini
mimpi! Ini mimpi burukku! Mimpi terburuk sepanjang tidurku! Tolong bangunkan
aku Ya Allah!...
Aku
menangis! Menangis yang benar-benar memilukan di sepanjang hidupku! Semua orang
menatapku iba. Ayah merangkulku dari belakang, berusaha memerintahku untuk
menahan emosiku. Aku tau itu. Tapi kali ini aku tak bisa mengindahkan perintah
itu. Biarlah aku menangis, yah. Aku tak
ingin melewatkan air mataku untuk saat-saat sepenting ini. Aku yakin, air
mataku takkan sia-sia jatuh untuk menangisi ini. Kumohon yah, biarkanlah aku
menangis…Seakan ayah mendengar kata hatiku, ayah pun melepas rangkulannya
dan bersedia memberikan waktuku untuk menumpahkan semua emosi. Aku pun
berlarut-larut dalam tangisan di atas dada bundaku.
***
Pintu
kamarku berbunyi, seperti ada yang menggerakkannya. Itu ayah. “Sudah nak,
bundamu tak ingin kamu seperti ini. Ayah yakin itu,” ayah membelai rambutku dan
mencoba meredam tangisku yang tak kunjung henti. Aku terus menangis, menyesali
keadaan. Dan akhirnya kuucap kata-kata yang sangat aku ingin katakana, “Mengapa
yah? Mengapa ayah tak mengatakan tentang penyakit bunda sebelumnya?”. Ayah terdiam
selama beberapa menit. Aku terus memandangi mata ayah dan menanti jawaban itu.
“Sebenarnya itu permintaan bundamu, Nak. Ia tak mau kamu cemas akan keadaannya.
Ia ingin kamu terus tersenyum. Ia menyayangimu, Nak” ayah membuka mulut. Aku
mengerti. Dan aku berusaha untuk tersenyum demi bunda. Inikah alasannya mengapa ayah dan bunda tak ingin melihatku menagis dan
ingin selalu aku tersenyum?, aku terus menangis di pangkuan ayah. “Dan
permintaannya yang terakhir, ia ingin kamu terus gapai mimpimu dengan senyuman
walau ada atau tanpa dia, kamu janji akan itu sayang?”. Aku mengangguk, “Aku
janji, Yah”. Benar, aku masih punya ayah,
aku masih punya teman-teman, aku masih dikelilingi orang-orang yang aku
sayangi. Itu semua berkat ayah dan bunda. Tak salah selama beberapa tahun ini
aku habiskan waktu di asrama. Pilihan bunda memang tak pernah salah. Kini aku
sedikit paham apa arti kehidupan. Dan aku janji, aku kan terus bersinar untuk
kalian. Aku janji, Bunda…
***
Suatu
hari… setelah 4 tahun Bunda tiada, aku berdiri di depan podium mengenakan
pakaian toga untuk menyampaikan sedikit kata-kata yang tak begitu indah namun
akan kulakukan itu dengan sepenuh hati. Kulihat di depanku, orang-orang yang
duduk rapi menunggu ku berbicara. Aku sedikit tegang, namun wajah ayah
mengingatkanku akan janjiku. Kulihat langit, terlukis indah raut wajah seorang
wanita cantik sedang tersenyum. Itu
bunda… dan aku mulai mengukir kata-kata…
“…Terima kasih ayah, terima kasih bunda, terima kasih kawan, dan
terima kasih semuanya yang telah mengajariku berbagai hal tentang kehidupan,
yang telah menyemangatiku dengan persahabatan dan persaingan, dan yang telah
membuatku menyadari akan pentingnya senyuman dan pentingnya untuk tidak mudah
menangis.
Mungkin kata-kata ini tidak seindah kata-kata yang diucapkan
Shakespare, Picasso ataupun Khalil Gibran dan teman-temannya, namun ketahuilah
bahwa saya merangkainya dari hati yang paling dalam. Dan untuk Icha, Tia, dan
Tara sahabatku… sampai bertemu nanti, saat aku sudah resmi mengenakan jas putih
dengan mengalungi stetoskop. Aku janji itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar