karya : Riza Rahmah Angelia
diadaptasi dari kisah buatan Intan Puspitasari
Aku dan sepupuku menelusuri jalanan
yang basah karena riak hujan. Ya, kejadian ini terjadi saat kakak pertamaku
yang bernama Teh Maida menikah, satu hari yang lalu. Aku dan sepupuku disuruh
Teh Maida untuk mengantarkan banyak makanan kepada keluarga tanteku yang
bertempat tinggal di Kota Kuningan setelah acara pernikahan selesai, karena
keluargaku yang satu itu tidak bisa datang ke acara pernikahan kakakku. Memang
aku nyaris kesal dengan keluarga tanteku itu yang tidak bisa menyempatkan
dirinya untuk datang ke pesta kemenakannya sendiri, tetapi kakakku yang selalu
menasihati untuk tidak menyimpan fikiran buruk kepada tanteku. “Mungkin saja
tante Anit dan paman Beni sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa diganggu.”
itulah yang sering dikatakan kakakku untuk menenangkan amarahku dengan
kemurahan senyumnya.
“Ah sebal! Teh Maida selalu saja
berkata lembut seperti itu yang membuat Ntan merasa malu dengan ucapan Ntan
sendiri.” kataku mengeluh kepada sepupuku saat di perjalanan menuju rumah tante
Anit.
“Hahaha. Sudahlah, Ntan! Tetehmu
memang orangnya sangat murah hati. Dia tidak pernah menyimpan dendam ataupun
berprasangka buruk kepada siapapun. Beruntung ya, Aa Dimas yang telah memiliki
wanita selembut dan secantik tetehmu itu.” kata Novi, sepupuku yang sempat tertawa
mendengar keluhanku.
Mendengar perkataan sepupuku tadi,
aku semakin kesal. Aku merasa seakan semua orang tidak ada lagi yang akan
memihakku. Berawal dari sebelum keberangkatan kami ke Kota Kuningan, kami
sempat adu mulut dengan orang tua kami. Ini terjadi karena keterlambatan
sepupuku yang menjemputku dengan menggunakan sepeda motor tanpa membawa helm. Kontan
saja bundaku, yang mengetahui itupun marah, karena sepupuku yang sangat ceroboh
itu. Padahal cuaca sudah tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan beroda
2, terpaksa kami terburu – buru pergi sebab bundaku sesekali mengomel, sudah
bisa memakan waktu berjam – jam.
Sesampainya di rumah tante Anit,
Mbak Noni yang sedang menyapu di halaman depan, segera membukakan pagar rumah
dan menyuruh kami masuk ke dalam. “Ayo, neng Intan, neng Novi lekas masuk ke
dalam! Hari sudah gelap, biasanya akan hujan lebat.” ujar Mbak Noni, pembantu
tante Anit yang sudah sangat dekat dengan keluarga besar kami.
“Ini ada titipan dari Teh Maida,
Mbak!” kataku sambil memberikan banyak sekali makanan yang sudah dimasukkan ke
dalam kantong plastik.
“Kok rumahnya sepi, Mbak? Pada
kemana?” kataku lagi ketika kami sedang duduk di sofa ruang tamu tante Anit
sambil berharap bahwa tante tidak ada di rumah. Aku yang masih kesal dengan
keluarga tante Anit, sedang tidak ingin bertemu dengan keluarga tanteku itu.
Akhirnya keinginanku pun terkabulkan. Benar saja keluarga tante sedang tidak
ada di rumah.
“Paman Beni sedang dinas di luar
kota, tante Anit yang baru saja lembur
sejak malam, tadi berangkat ke kantor lagi pagi – pagi sekali. Neng Nita kan
sedang ujian Try Out tuh neng.” Jelas Mbak Noni dengan nadanya yang rada medok.
“Oh iya, ya! Teh Nita kan sudah
kelas 3 SMA.” Kata Novi mencoba mengingat kakak sepupunya itu.
“Lalu? Memang kenapa? Keluarga tante
aja gak inget dengan acara pernikahan Teh Maida, terus ngapain kita inget –
inget tentang Nita?” kataku sinis.
“Ntan, ntan! Udahlah kayak anak
kecil aja, sih pake acara ngambek segala. Jangan – jangan kamu senang ya gak
ketemu tante Anit dan keluarganya?” tanya Novi yang bermaksud menyindirku.
“Sebenarnya sih iya. Males
kalau ketemu tante Anit tuh, apalagi
Nita. Wuh gaya penampilannya yang sok dewasa, sok modis banget!” kataku yang
memang sudah sangat kesal dengan tingkah lakunya semenjak sepupuku yang satu
itu duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
“Sssst.. Aduh neng Intan! Omongannya dijaga atuh,
neng! Geulis – geulis teh omongannya haduuh! Pokoknya jangan sampai si Neng
Nita, tau. Ntar ngamuk lagi, Mbak sih gak mau lihat neng Nita ngamuk lagi.”
Kata Mbak Noni yang tiba – tiba saja menasihatiku.
“Emang pernah ngamuk, Mbak? Kenapa
itu?” kata Novi yang sangat penasaran.
“Iya neng Novi, minggu – minggu kemaren deh. Yang Mbak dengar sih, gara –
gara ditinggal pacarnya.” Kata Mbak Noni.
Aku pun tak sengaja tertawa
mendengarnya, akhirnya aku segera pamit ke Mbak Noni untuk segera pulang ke
rumah, karena aku tidak ingin mendengar lanjutan cerita Mbak Noni tentang Nita
lagi, di samping itu pula hari sudah
sangat gelap dari sebelumnya. Beruntung saja, hujan belum lebat dan masih saja
rintik – rintik seperti sebelumnya.
“Pulang dulu, ya Mbak! Mumpung masih
gerimis belum lebat. Ayo, Nov! Assalammualaikum, mbak.” kataku sembari mengajak
Novi untuk beranjak dari sofa.
“Waalaikumsalam. Iya, iya neng. Hati
– hati, ya! Eh, neng ini ada titipan uang dari tante dan paman buat Teh Maida!
” teriak Mbak Noni kepada kami yang sedang terburu - buru mengendarai sepeda
motor, aku pun langsung kembali untuk mengambil titipan uang tersebut dan
berlari ke arah sepeda motor yang dikendarai Novi. Sepeda motor yang kami
kendarai berlomba – lomba dengan kekhawatiran kami akan turun hujan lebat.
“Ntan, yakin nih gapapa? Cuacanya
engga banget deh.” Kata Novi yang membuatku merasa khawatir dengan cuaca saat
ini.
“Yakinin, aja deh!” kataku dengan
santainya.
“Duh, tapi aku punya firasat gak
enak, nih Ntan!” kata Novi semakun membuatku takut.
“Udah lah, lanjut aja, Nov!” kataku
yang masih saja menunjukkan ekspresi santai yang padahal ketakutanku pun sudah
mulai menggebu – gebu.
Pegangan tanganku yang semakin erat
pada baju Novi yang sedang mengendarai sepeda motor sambil mulutku yang terus
saja berkomat – kamit melantunkan doa di sepanjang perjalanan agar hujan
gerimis ini berhenti dan cuaca berubah menjadi cerah kembali, sehingga kami
bisa tenang untuk selamat sampai tujuan. Namun, terkadang yang sebenarnya
terjadi itu tak seindah impiannya, bukannya berhenti, hujannya turun dengan
semangat seperti hendak membasahi seluruh permukaan bumi tanpa terkecuali. Kami
pun segera mungkin mencari tempat untuk berteduh, beruntungnya kami menemukan
sebuah warung kecil di pinggir. Kedinginan yang sudah menjalar di sekujur tubuh
kami, memaksa kami untuk berfikir, apakah kami akan menunggu hujan dengan
membeli makanan di warung ini, atau kah kami hanya terdiam di sini. Karena
indomie rebus yang sedang di makan oleh para sopir angkot di warung kecil itu
menggiurkan kami yang sedang lapar akibat kedinginan dan tidak memiliki uang
se-rupiah pun. Kebingungan yang melanda kami, yang membuat perut kami seakan
menggemuruh.
“Yang benar saja, masa kita akan
menggunakan uang titipan tante itu?” tanya Novi meyakinkanku.
“Tidak akan, deh! Lagian juga
hujannya sudah tidak selebat tadi lagi, kita langsung pulang saja, yuk!” ajakku
yang bermaksud menghindari niat buruk yang diyakinkan oleh Novi.
“Tapi, segitu kan masih besar. Tapi,
ya sudahlah. Aku mengerti, kok! Ayo, nanti aku kendarainya pelan – pelan saja,
ya Ntan?” kata Novi yang sudah menggigil kedinginan, begitu juga aku.
Di perjalanan, aku hanya bisa
menunduk dan memeluk erat sepupuku itu, karena hujan yang turun saat itu cukup
perih mengenai wajahku, apalagi kecepatan yang saat itu dikendarai Novi adalah
60 km/jam. Aku sudah pasrah dalam lamunanku, aku hanya bisa berdoa dan terus
berdoa. Tiba – tiba, “BRAAAAAK!!!” spontan saja aku terbangun dari lamunanku
dengan keadaan sudah terguling lemas ke arah kiri jalan dan aku merasa ada
sesuatu yang keras yang menggelinding ke arah kakiku, aku pun tersentak kaget,
aku fikir ada sebuah kepala orang yang putus, setelah kami tabrak saat itu.
Fikiranku benar – benar runyam, dan aku sudah tidak kuat untuk bangun lagi. Aku
tidak tahu lagi harus bagaimana, dan aku pun tidak tahu keadaan sepupuku yang
sedang tergencet motor, apakah parah atau tidak?
Kukerahkan seluruh kekuatanku, untuk
melihat keadaan sepupuku dan.... Oh tidaak!! Ternyata sepeda motor yang kami
kendarai menabrak seorang kakek. Aku melihat kakek malang itu sedang terbujur
kaku dengan banyak cucuran darah dari kepalanya, kulihat di dekat kakiku
menggelinding gas elpiji 3 kg. Aku pun langsung menolong sepupuku, yang hanya
lecet di bagian tangan saja, akibat tertindih sepeda motor. Awalnya aku ingin
mengajak sepupuku untuk pergi dari tempat kejadian ini, karena bila kakek itu tak
sadarkan diri juga, seperti halnya kita berdua adalah pembunuh dan bila banyak
orang yang melihat, maka kita yang baru saja duduk di bangku sekolah menengah
atas akan dimasukkan ke penjara. Aku sangat cemas akan keadaan saat itu.
Kedinginan yang tadinya menjalar di sekujur tubuh, kini lenyap begitu saja,
lalu kukeluarkan handphoneku untuk menelepon bunda di rumah agar menolong kami
secepatnya. Karena, saat itu juga jalanan teramat sepi.
Bunda dan tante Mira, ibunya
Novi,muncul dengan tergesa – gesa membawa payung sambil menghampiri kami yang
sedang ketakutan. Bundaku terlihat tenang ketika memastikan keadaan kami baik –
baik saja, hanya sedikit lecet – lecet di sekujur tubuh kami yang tidak
mengalami pendarahan hebat, sehebat pendarahan kakek yang kami tabrak tersebut
dan orang – orang mulai berdatangan, mengerumuni kakek itu. Tante dan bundaku
syok ketika melihat darah kakek itu sudah ditutupi kapas, sehingga hampir
seluruh bagian mukanya tertutup kapas. Tanteku yang membawa mobil, segera
menyuruh orang – orang untuk menggotong kakek itu ke mobil tante, dan akan
dibawa ke puskesmas terdekat.
Setelah sampai di puskesmas, dan
kakek itu telah dibersihkan darahnya serta diobati luka di kepalanya, kakek itu
berkata, “Ai tadi kuring katabrak naon?” kontan saja kami yang mengantarkannya
ke puskesmas tertawa terbahak – bahak.
Rupanya kakek yang sudah hampir
udzur itu sedang habis membeli gas elpiji 3 kg sendirian, dan tiba – tiba kami
menabraknya. Aku merasa sangat kasihan sekali kepada kakek itu. Ulah kamilah yang
membuat darah kakek terus keluar dari lubang hidungnya, dan dahinya pun sudah
dijahit. Tapi aku tetap bangga dengan kakek itu, walaupun begitu perjuangan
hidupnya sangatlah kuat. Sehingga aku bersyukur kepada Allah, yang masih
memberi kesempatan kepada kakek itu. Setelah benar – benar diobati, dokter
mengabarkan kakek itu boleh dibawa pulang, kami pun mengantarnya ke rumahnya
yang ternyata tidak jauh dari puskesmas itu.
“Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.“Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.
“Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.“Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.
“Habis kakek, menyeberangnya tidak
benar, sih. Maju mundur – maju mundur seperti undur – undur saja.” Lanjut Novi
yang membuat kami semua tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar