Rabu, 27 Juni 2012

Maju Mundur Seperti Undur – Undur

karya : Riza Rahmah Angelia
diadaptasi dari kisah buatan Intan Puspitasari


            Aku dan sepupuku menelusuri jalanan yang basah karena riak hujan. Ya, kejadian ini terjadi saat kakak pertamaku yang bernama Teh Maida menikah, satu hari yang lalu. Aku dan sepupuku disuruh Teh Maida untuk mengantarkan banyak makanan kepada keluarga tanteku yang bertempat tinggal di Kota Kuningan setelah acara pernikahan selesai, karena keluargaku yang satu itu tidak bisa datang ke acara pernikahan kakakku. Memang aku nyaris kesal dengan keluarga tanteku itu yang tidak bisa menyempatkan dirinya untuk datang ke pesta kemenakannya sendiri, tetapi kakakku yang selalu menasihati untuk tidak menyimpan fikiran buruk kepada tanteku. “Mungkin saja tante Anit dan paman Beni sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa diganggu.” itulah yang sering dikatakan kakakku untuk menenangkan amarahku dengan kemurahan senyumnya.
            “Ah sebal! Teh Maida selalu saja berkata lembut seperti itu yang membuat Ntan merasa malu dengan ucapan Ntan sendiri.” kataku mengeluh kepada sepupuku saat di perjalanan menuju rumah tante Anit.
            “Hahaha. Sudahlah, Ntan! Tetehmu memang orangnya sangat murah hati. Dia tidak pernah menyimpan dendam ataupun berprasangka buruk kepada siapapun. Beruntung ya, Aa Dimas yang telah memiliki wanita selembut dan secantik tetehmu itu.” kata Novi, sepupuku yang sempat tertawa mendengar keluhanku.
            Mendengar perkataan sepupuku tadi, aku semakin kesal. Aku merasa seakan semua orang tidak ada lagi yang akan memihakku. Berawal dari sebelum keberangkatan kami ke Kota Kuningan, kami sempat adu mulut dengan orang tua kami. Ini terjadi karena keterlambatan sepupuku yang menjemputku dengan menggunakan sepeda motor tanpa membawa helm. Kontan saja bundaku, yang mengetahui itupun marah, karena sepupuku yang sangat ceroboh itu. Padahal cuaca sudah tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan beroda 2, terpaksa kami terburu – buru pergi sebab bundaku sesekali mengomel, sudah bisa memakan waktu berjam – jam.
            Sesampainya di rumah tante Anit, Mbak Noni yang sedang menyapu di halaman depan, segera membukakan pagar rumah dan menyuruh kami masuk ke dalam. “Ayo, neng Intan, neng Novi lekas masuk ke dalam! Hari sudah gelap, biasanya akan hujan lebat.” ujar Mbak Noni, pembantu tante Anit yang sudah sangat dekat dengan keluarga besar kami.
            “Ini ada titipan dari Teh Maida, Mbak!” kataku sambil memberikan banyak sekali makanan yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik.
            “Kok rumahnya sepi, Mbak? Pada kemana?” kataku lagi ketika kami sedang duduk di sofa ruang tamu tante Anit sambil berharap bahwa tante tidak ada di rumah. Aku yang masih kesal dengan keluarga tante Anit, sedang tidak ingin bertemu dengan keluarga tanteku itu. Akhirnya keinginanku pun terkabulkan. Benar saja keluarga tante sedang tidak ada di rumah.
            “Paman Beni sedang dinas di luar kota, tante  Anit yang baru saja lembur sejak malam, tadi berangkat ke kantor lagi pagi – pagi sekali. Neng Nita kan sedang ujian Try Out tuh neng.” Jelas Mbak Noni dengan nadanya yang rada medok.
            “Oh iya, ya! Teh Nita kan sudah kelas 3 SMA.” Kata Novi mencoba mengingat kakak sepupunya itu.
            “Lalu? Memang kenapa? Keluarga tante aja gak inget dengan acara pernikahan Teh Maida, terus ngapain kita inget – inget tentang Nita?” kataku sinis.
            “Ntan, ntan! Udahlah kayak anak kecil aja, sih pake acara ngambek segala. Jangan – jangan kamu senang ya gak ketemu tante Anit dan keluarganya?” tanya Novi yang bermaksud menyindirku.
            “Sebenarnya sih iya. Males kalau  ketemu tante Anit tuh, apalagi Nita. Wuh gaya penampilannya yang sok dewasa, sok modis banget!” kataku yang memang sudah sangat kesal dengan tingkah lakunya semenjak sepupuku yang satu itu duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
            “Sssst..  Aduh neng Intan! Omongannya dijaga atuh, neng! Geulis – geulis teh omongannya haduuh! Pokoknya jangan sampai si Neng Nita, tau. Ntar ngamuk lagi, Mbak sih gak mau lihat neng Nita ngamuk lagi.” Kata Mbak Noni yang tiba – tiba saja menasihatiku.
            “Emang pernah ngamuk, Mbak? Kenapa itu?” kata Novi yang sangat penasaran.
            “Iya neng Novi, minggu – minggu  kemaren deh. Yang Mbak dengar sih, gara – gara ditinggal pacarnya.” Kata Mbak Noni.
            Aku pun tak sengaja tertawa mendengarnya, akhirnya aku segera pamit ke Mbak Noni untuk segera pulang ke rumah, karena aku tidak ingin mendengar lanjutan cerita Mbak Noni tentang Nita lagi,  di samping itu pula hari sudah sangat gelap dari sebelumnya. Beruntung saja, hujan belum lebat dan masih saja rintik – rintik seperti sebelumnya.
            “Pulang dulu, ya Mbak! Mumpung masih gerimis belum lebat. Ayo, Nov! Assalammualaikum, mbak.” kataku sembari mengajak Novi untuk beranjak dari sofa.
            “Waalaikumsalam. Iya, iya neng. Hati – hati, ya! Eh, neng ini ada titipan uang dari tante dan paman buat Teh Maida! ” teriak Mbak Noni kepada kami yang sedang terburu - buru mengendarai sepeda motor, aku pun langsung kembali untuk mengambil titipan uang tersebut dan berlari ke arah sepeda motor yang dikendarai Novi. Sepeda motor yang kami kendarai berlomba – lomba dengan kekhawatiran kami akan turun hujan lebat.
            “Ntan, yakin nih gapapa? Cuacanya engga banget deh.” Kata Novi yang membuatku merasa khawatir dengan cuaca saat ini.
            “Yakinin, aja deh!” kataku dengan santainya.
            “Duh, tapi aku punya firasat gak enak, nih Ntan!” kata Novi semakun membuatku takut.
            “Udah lah, lanjut aja, Nov!” kataku yang masih saja menunjukkan ekspresi santai yang padahal ketakutanku pun sudah mulai menggebu – gebu.
            Pegangan tanganku yang semakin erat pada baju Novi yang sedang mengendarai sepeda motor sambil mulutku yang terus saja berkomat – kamit melantunkan doa di sepanjang perjalanan agar hujan gerimis ini berhenti dan cuaca berubah menjadi cerah kembali, sehingga kami bisa tenang untuk selamat sampai tujuan. Namun, terkadang yang sebenarnya terjadi itu tak seindah impiannya, bukannya berhenti, hujannya turun dengan semangat seperti hendak membasahi seluruh permukaan bumi tanpa terkecuali. Kami pun segera mungkin mencari tempat untuk berteduh, beruntungnya kami menemukan sebuah warung kecil di pinggir. Kedinginan yang sudah menjalar di sekujur tubuh kami, memaksa kami untuk berfikir, apakah kami akan menunggu hujan dengan membeli makanan di warung ini, atau kah kami hanya terdiam di sini. Karena indomie rebus yang sedang di makan oleh para sopir angkot di warung kecil itu menggiurkan kami yang sedang lapar akibat kedinginan dan tidak memiliki uang se-rupiah pun. Kebingungan yang melanda kami, yang membuat perut kami seakan menggemuruh.
            “Yang benar saja, masa kita akan menggunakan uang titipan tante itu?” tanya Novi meyakinkanku.
            “Tidak akan, deh! Lagian juga hujannya sudah tidak selebat tadi lagi, kita langsung pulang saja, yuk!” ajakku yang bermaksud menghindari niat buruk yang diyakinkan oleh Novi.
            “Tapi, segitu kan masih besar. Tapi, ya sudahlah. Aku mengerti, kok! Ayo, nanti aku kendarainya pelan – pelan saja, ya Ntan?” kata Novi yang sudah menggigil kedinginan, begitu juga aku.
            Di perjalanan, aku hanya bisa menunduk dan memeluk erat sepupuku itu, karena hujan yang turun saat itu cukup perih mengenai wajahku, apalagi kecepatan yang saat itu dikendarai Novi adalah 60 km/jam. Aku sudah pasrah dalam lamunanku, aku hanya bisa berdoa dan terus berdoa. Tiba – tiba, “BRAAAAAK!!!” spontan saja aku terbangun dari lamunanku dengan keadaan sudah terguling lemas ke arah kiri jalan dan aku merasa ada sesuatu yang keras yang menggelinding ke arah kakiku, aku pun tersentak kaget, aku fikir ada sebuah kepala orang yang putus, setelah kami tabrak saat itu. Fikiranku benar – benar runyam, dan aku sudah tidak kuat untuk bangun lagi. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, dan aku pun tidak tahu keadaan sepupuku yang sedang tergencet motor, apakah parah atau tidak?
            Kukerahkan seluruh kekuatanku, untuk melihat keadaan sepupuku dan.... Oh tidaak!! Ternyata sepeda motor yang kami kendarai menabrak seorang kakek. Aku melihat kakek malang itu sedang terbujur kaku dengan banyak cucuran darah dari kepalanya, kulihat di dekat kakiku menggelinding gas elpiji 3 kg. Aku pun langsung menolong sepupuku, yang hanya lecet di bagian tangan saja, akibat tertindih sepeda motor. Awalnya aku ingin mengajak sepupuku untuk pergi dari tempat kejadian ini, karena bila kakek itu tak sadarkan diri juga, seperti halnya kita berdua adalah pembunuh dan bila banyak orang yang melihat, maka kita yang baru saja duduk di bangku sekolah menengah atas akan dimasukkan ke penjara. Aku sangat cemas akan keadaan saat itu. Kedinginan yang tadinya menjalar di sekujur tubuh, kini lenyap begitu saja, lalu kukeluarkan handphoneku untuk menelepon bunda di rumah agar menolong kami secepatnya. Karena, saat itu juga jalanan teramat sepi.
            Bunda dan tante Mira, ibunya Novi,muncul dengan tergesa – gesa membawa payung sambil menghampiri kami yang sedang ketakutan. Bundaku terlihat tenang ketika memastikan keadaan kami baik – baik saja, hanya sedikit lecet – lecet di sekujur tubuh kami yang tidak mengalami pendarahan hebat, sehebat pendarahan kakek yang kami tabrak tersebut dan orang – orang mulai berdatangan, mengerumuni kakek itu. Tante dan bundaku syok ketika melihat darah kakek itu sudah ditutupi kapas, sehingga hampir seluruh bagian mukanya tertutup kapas. Tanteku yang membawa mobil, segera menyuruh orang – orang untuk menggotong kakek itu ke mobil tante, dan akan dibawa ke puskesmas terdekat.
            Setelah sampai di puskesmas, dan kakek itu telah dibersihkan darahnya serta diobati luka di kepalanya, kakek itu berkata, “Ai tadi kuring katabrak naon?” kontan saja kami yang mengantarkannya ke puskesmas tertawa terbahak – bahak.
            Rupanya kakek yang sudah hampir udzur itu sedang habis membeli gas elpiji 3 kg sendirian, dan tiba – tiba kami menabraknya. Aku merasa sangat kasihan sekali kepada kakek itu. Ulah kamilah yang membuat darah kakek terus keluar dari lubang hidungnya, dan dahinya pun sudah dijahit. Tapi aku tetap bangga dengan kakek itu, walaupun begitu perjuangan hidupnya sangatlah kuat. Sehingga aku bersyukur kepada Allah, yang masih memberi kesempatan kepada kakek itu. Setelah benar – benar diobati, dokter mengabarkan kakek itu boleh dibawa pulang, kami pun mengantarnya ke rumahnya yang ternyata tidak jauh dari puskesmas itu.
            “Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.“Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.
            “Habis kakek, menyeberangnya tidak benar, sih. Maju mundur – maju mundur seperti undur – undur saja.” Lanjut Novi yang membuat kami semua tertawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar