Make a relationship? SMA? Wajar saja mungkin. SMP? Masih biasa. Tetapi, SD? Wow, bakatnya!
"Yap! Aku masih teringat dengan Rara teman SD kita, yang bisa-bisanya dia backstreet dari kelas 5 SD",
ceritaku kepada Fira dengan santainya menikmati ranjang Fira.
"Benarkah
itu? Aku saja baru tahu, loh!" tutur Fira terkejut dengan polosnya ketika
mendengar ceritaku itu.
Saling
bertukar cerita, bertukar fikiran, sehingga tak luput berdebat diantara kami
adalah hal yang biasa. Tempramen yang kami miliki masing-masing masih menguasai
diri kami, sehingga tidak heran bila kami sering bertengkar dan menjauh satu
sama lain. Namun, candaan yang berlebihanlah yang justru membuat kami menyatu, dan
tidak membuat kami tersinggung sama sekali.
Aku dan Fira berteman sejak duduk di
bangku sekolah dasar, dan kini kami berdua resmi menjadi salah satu siswi SMP
Paruhan Nawang, salah satu sekolah terpadu swasta yang ternama di kota kembang
ini yang tentunya cukup jauh dari kota tempat kami tinggal, yaitu kota udang.
Sehingga mewajibkan kami yang kini masih duduk di kelas 1 SMP untuk tinggal di
sebuah asrama selama 3 tahun, dan itulah pilihan hidup kami dengan harapan yang
sama pula, untuk memiliki masa depan yang tak hanya cerdas intelektual tapi
spiritual juga kemandiriannya.
"Iya,
Fi. Ya ampun! Kamu kemana aja sih?" kataku dengan lagak yang sedikit blagu untuk istilah anak muda 2012.
"Seriusan
aku tuh..... Aaaah terus-terus sama siapa? Sekarang masih atau enggak?"
tanya Fira yang menggebukan penasarannya.
"Gak
tau, Fi! Tapi, aku berhasil yang mergokin sms-an mereka loh, Fi! Percaya
enggak?"
"Ya
percayalah wong kamu mah memang hobi membaca. Baca sms,
bacain status facebook, sama semua timeline twitter juga dibacain",
kesal Fira sang korban abadi yang sangat jengkel dengan kelakuan sahabatnya
itu.
Mereka
pun tertawa lepas.
*****
Upacara
hari Senin berjalan seperti biasanya. Seperti biasa membuat moodku agak rusak,
karena di samping hari pertama sekolah juga kita harus berjemur untuk upacara.
Semangat nasionalis dalam diriku memang belum terpupuk, dan aku harus banyak
belajar dari Fira, sahabatku yang bersebelahan kelasnya denganku. Sahabat yang
sabar, baik hati dan tidak pernah mengeluh ke setiap orang selain diriku.
Berbeda dengan diriku yang sangat mudah bersosialisasi sehingga aku mudah
sekali mengeluh dan jengkel ke setiap orang yang aku anggap semuanya adalah
teman dekat.
BRAAAAAKK!!
Fira
jatuh pingsan. Aku fikir dia sedang berpuasa sunah hari ini, dan tidak sahur
semalam. Karena aku tidak berpuasa dan tidak menemaninya sahur tadi malam. Selesai
upacara, aku segera membawa diriku menuju ruang UKS untuk sekedar menjenguk
Fira. Mataku mengarah kepada sesosok perempuan mungil yang sedang terbaring dan
menggenggam segelas teh di ranjang pojok. "Fira, kamu tak apa, kan? Sudah,
batalkan saja puasanya kalau kamu tidak kuat. Daripada menyiksa kamu di
sekolah", ujarku dengan penuh perhatian, tapi Fira tetap menyangkal
perkataanku. Seperti yang sering dia lakukan ketika kami mendekati jalan menuju
klimaks perdebatan.
"Puasa
kok nyiksa? Ya gak ada, cuma sugesti kita. Iya ini aku batalin, abis itu kamu
langsung balik ke kelas sana. Aku juga mau ke kelas, kok!"
"Lah
sih? Kamu lagi sakit, istirahat dulu deh! Gak usah sok kuat gitu dong!"
ejekku membalas kejutekan kata-kata Fira.
"I'm okay. Hehe. Ayo!" katanya
dengan semangat sembari merangkul bahuku setelah menengguk teh hangatnya.
Aku
berangkulan berdua dengan Fira hingga keluar pintu ruangan UKS, tiba-tiba saja
Fira melepas rangkulannya dan menjauh dariku ketika aku menutup pintu ruang UKS.
Seorang lelaki berbadan tegap yang tingginya tidak jauh berbeda menghampiriku
seolah menggantikan tempat Fira berdiri tadi. "Happy birthday, Lia! Ini ada kado buat kamu dari......"
"What?? Cibit, gue gak ulang tahun
sekarang. Salah orang kali lu ya, Rex!" logat gaul bertambah bahasa 2012
ku dilontarkan kepada teman lelaki sebaya yang sekelas dengan Fira, dan lumayan
akrab denganku.
“Ciyee..
Rexa. Gak usah beralibi Lia ulang tahun deh, langsung shoot lah, gan!” timpal
Fira yang langsung saja lari dengan wajah tanpa dosanya.
"Serius gak ulang tahun nih
jadinya? Tapi ini, dia ngasih ini loh ke kamu. Bukan a……"
"Sumpah
deh, tapi kalo rejeki gak akan nolak, deh!" potongku dengan nakalnya
mengambil bingkisan kado berbentuk kubus, tanpa menghiraukan Rexa yang
terngangah disana. Lalu, Rexa mengejarku yang berlari nakalnya ke kelas.
Sesampainya
di depan pintu kelas yang terbuka, terlihat kelas yang semrawut dan anak-anaknya pun gaduh tak karuan karena guru mata
pelajaran pada jam ke-3 ini sedang cuti. Tetapi, tepat di depan pintu kelas
itu, dengan power maximal Rexa
mengejarku, berhasil mendapatkanku dan melanjutkan kata-katanya yang sepertinya
dia sadar aku tak menghiraukannya.
"Li,
dengerin.. Kado itu.. Buat ulang tahun kamu.." kata Rexa terputus-putus,
karena lelah mengejarku.
"I know. Berarti aku boleh bukanya
setelah nunggu hari ulang tahun aku aja gitu? Cupu banget sih gatau ulang tahun
gue??" nada lantangku membuat Rexa yang lelah terlihat kesal dan seisi
kelas hening.
"Tapi,
kata Bima kamu ulang tahun hari ini..dan..dan itu ..kado dari Bima. Dan kamu
meninggalkan surat ini, Lia!!!!" teriak Rexa yang memang kesal dengan
ulahku yang gegabah serta membuat dirinya lelah untuk mengejar calon atlit
maraton ini.
Seisi
kelas terkejut mendengar perkataan Rexa. Bima yang sekelas denganku pun
terkejut tidak tanggung malu. Serentak seisi kelas, aku dan Rexa menoleh ke
arah Bima. Sorakan bak kawanan angin ribut tiba-tiba menghantam telingaku.
Merah padam seketika menyelimuti wajahku, kutarik sepucuk surat itu dan tak
sengaja kubuka perlahan-lahan. Semakin hening, sunyi tak bersuara lagi ketika
Bima mendorong bangku mejanya, untuk berusaha keluar meninggalkan kelas dengan
mod yang teramat buruk yang pernah kulihat. Aku pun tidak tahu harus
berkata-kata apa, entah kenapa aku merasa bahwa aku berada di posisi yang
salah, tapi aku kuatkan diri untuk tidak menyalahkan diriku sendiri. Karena
sebenarnya apa salahku?
Apakah kata-kata cupu tadi menyinggung
dirinya. Tapi, cowok macam apa sih Bima? Sama sekali tidak memiliki naluri
kepriaan? Kenapa harus lewat surat? Kenapa gak ngomong langsung ke aku sih?
Terus kenapa juga dia ngamuk tiba-tiba begitu? Berbagai pertanyaan muncul dan
semakin berkembang di benakku, semata berusaha untuk tidak menyalahkan diriku
sendiri. Aku segera mengejar Bima, namun seisi kelas kembali bertanya-tanya dan
mengerubungi Rexa untuk mendapatkan bahan gosip yang baru di kelas.
Beruntungnya diriku, tiba-tiba kutemui Bima di pinggir lapangan basket, dengan
kejantanan yang ada dalam diriku. Aku datang menghampiri Bima walaupun denyut jantungku
terdengar degupan yang cepat, "Hei, Bim? Apa-apaan sih kamu? Langsung main
keluar begitu saja? Ngamuk gak jelas lagi!"
Bima
segera berdiri dan kulihat amarah yang menghujam dirinya, "Li, kamu!!!
Berhenti coba bentak gue! Ah! Gue tau emang, gue orang cupu! Gue juga tau lu
gak pantes deket sama orang cupu kaya gue!"
"Ya
ampun, Bima! Baru juga diomongin cupu aja. Lagian surat itu..." kataku
dengan nada semakin merendah.
"Iya,
kenapa? Lo gak suka surat itu juga? Lo kira gue pengecut ngutarain lewat surat?
Gue udah tau semua yang bakal lu omongin, Li! Gue udah kenal lu. Besok gue
bakal pindah sekolah ke Jakarta. Sekarang juga kamu harus jawab pertanyaan di
surat itu! Mau atau enggak?"
"Kata-kata
kamu maksa banget, sih Bim! Gue rasa masih ada tuh yang lebih berharap sama
lo",
"Cukup,
jawaban lo. And then, thank you, Li.
Lo udah jadi motivator hidup gue disini, hidup gue yang jauh dari orang tua dan
jawaban lo cukup untuk motivasiin gue buat lebih jauh ngehindarin orang kaya
lo! Yang gak pernah ngehargain perasaan orang", Bima pun pergi
meninggalkanku yang naik darah dan akan berteriak sekeras mungkin hingga
seluruh pepohonan dan bangunan bergeming. Namun, tidak bisa. Aku harus mengejar
Bima, tidak untuk berkata "maaf". Melainkan, membuat perhitungan dengannya.
Aku mengejarnya dengan suasana padam, tiba-tiba sebuah tangan menghampiri dan
menarik erat tanganku yang membuat langkahku terhenti dan aku hampir
tersungkur di hadapan pemilik tangan
yang kemudian menahanku agar aku tidak terjatuh.
"Don't worry, Lia! It's everything gonna be okay!" ucapnya dengan nada santai,
Indri adalah sepupu Bima dan seangkatan dengan kami. Hanya saja, dia berbeda
kelas dan mengetahui semua yang terjadi.
Aku
geram tak bisa mengejar Bima, ketika ku menoleh ke arah barat melewati celah
jendela di bawah tangga. Sebuah pintu mobil yang terbuka begitu saja, dihampiri
oleh seorang lelaki yang sebaya denganku dan terlihat sangat tergesa-gesa.
Bima. Dia pergi saat itu juga, sesaat setelah mengutarakan perasaannya
kepadaku. Sesaat sesudah dia meluapkan semua isi hatinya kepadaku, tanpa
mengizinkanku untuk meluapkan amarahku kepadanya.
"Bima
telah pergi. Si pendiam itu akhirnya memiliki emosi juga. Sudahlah, jangan
dimasukkan ke hati. Aku yakin Bima akan menyesalinya bahkan melupakan ini semua.
So, slow down, beb!", tutur
Indri dengan wajah cerianya menenangkanku.
"Iya,
Ndri. Makasih", hanya itulah yang bisa kukatakan. Karena aku bukanlah
seorang juliet yang sedih, gelisah bahkan rela menunggu sang romeo yang lama
meninggalkannya. Tidak! Bima bukanlah romeoku. Walaupun aku belum pernah
mengerti apa itu cinta, tapi aku juga belum pernah merasakannya.
*****
Handphoneku
berdering sejenak, memberikan notification bahwa seseorang telah mengirim sms
kepadaku. Nomor tak dikenal itu lagi, yang menggangguku, yang tiba-tiba galau
serta merta curhat kepadaku. Namun, aku suka si pemilik nomor itu, dia bisa
diajak debat kapanpun aku mau. Tapi, walau bagaimanapun dia tidak bisa
mengalahkan pemikiran Fira yang memang mengerti diriku.
Sesuatu itu akan datang dengan sendirinya,
jika kamu sabar. Morning, Angelia J Penunggu
malaikat di gubuk mentari sore.
Lagi-lagi
sms dari nomor tak dikenal yang selalu mengidentitaskan dirinya “Penunggu malaikat di gubuk mentari sore”.
Ku ceritakan ini semua ke Fira, sering kali Fira menyuruhku untuk mencari tahu
siapa dia. Tapi, aku yang terkenal tidak terlalu peka dengan sekitar, mengabaikan
semua itu. Hingga akhirnya, pulang sekolah ini pertama kalinya aku free, tidak ada les private dikarenakan guru private-ku
akan menuju ke pelaminan. Lalu, dengan tidak tahu apa tujuannya, aku pun datang
berteman bayangan menuju sebuah gubuk yang hanya bertempat di sawah belakang
sekolah itu.
“Akan
datang dengan sendirinya karena kesabaran. Naluri, kah? Atau perasaan, kah?
Yang udah bawa lo kemari?” tanya suara dari arah belakang mengejutkanku.
Aku
menoleh dengan sigap dan terkejut seraya berkata, “Kamu kah si penunggu
malaikat, Rexa? Apa maksudnya? Kenapa?” mataku terbelalak.
“Kalau,
iya? Apakah lo bakal ngecewain gue kayak loh nyia-nyiain Bima?” Tanya Rexa.
“Maksudmu
apa?”
“Di
gubuk mentari sore ini, satu-satunya gubuk paling tepat untuk melihat matahari
terbenam dan sang mentari lah yang selalu menjadi saksi bahwa lo adalah seorang
malaikat yang menjadi first love gue,
sebenarnya”,
Kata-kata
itu, seakan membuat fikiranku buyar. Aku akui, cowok di hadapanku ini cukup
sabar untuk menghadapi seorang cewek seperti aku selama ini. Sungguh tak
disangka, Rexa yang selalu sms aku dengan kata-kata manisnya justru aku mengira
dia lebih menyukai cewek glamour dan
modis. Sehingga aku minder untuk
lebih mendekatinya.
“Li,
bengongnya udah dong! Gue gak enak nyerocos sendiri begini”,
“Eh,
iya sorry, Rex. Jadi mau lo apa?”
dengan polosnya ku bertanya.
“Ternyata
kamu memang seperti ini. Pantas saja Bima nyesel dan nyerah sama kamu, kamu
sangat polos”, kemudian tak ada yang bersuara.
“Gue
cuma mau lo tau aja, gue liat lo kurang siap buat pacaran. Tapi, tolonglah
belajarlah jaga perasaan orang. Gue bakal nunggu lo sampai lo siap buat…..
pacaran”, terdengar lanjutan kata berisi sedikit keraguan dari mulut Rexa.
Tapi,
gilaaaa sumpah, Rexa yang dulunya hampir bikin aku kagum, ternyata sekarang
bikin aku melting. Gak nyangka, dia
suka sama seorang cewek seperti aku yang memendam perasaanya sejak dulu. Karena
itulah, terlalu dalam memendamnya hingga aku lupa sama sekali bahwa aku
menyukainya. Dan kini, kami berdiri, berdua, bersama, berhadapan, dengan sorot
mentari sore.
“Okay.
Wait me! Everywhere”,
suara pelan dari mulutku terlontar begitu saja, ditambah senyum tak biasa dan
akan kuceritakan ini semua kepada Fira.