Rabu, 27 Juni 2012

Penunggu Gubuk Mentari Sore

karya : Riza Rahmah Angelia


Make a relationship? SMA? Wajar saja mungkin. SMP? Masih biasa. Tetapi, SD? Wow, bakatnya! "Yap! Aku masih teringat dengan Rara teman SD kita, yang bisa-bisanya dia backstreet dari kelas 5 SD", ceritaku kepada Fira dengan santainya menikmati ranjang Fira.
            "Benarkah itu? Aku saja baru tahu, loh!" tutur Fira terkejut dengan polosnya ketika mendengar ceritaku itu.
            Saling bertukar cerita, bertukar fikiran, sehingga tak luput berdebat diantara kami adalah hal yang biasa. Tempramen yang kami miliki masing-masing masih menguasai diri kami, sehingga tidak heran bila kami sering bertengkar dan menjauh satu sama lain. Namun, candaan yang berlebihanlah yang justru membuat kami menyatu, dan tidak membuat kami tersinggung sama sekali.
Aku dan Fira berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan kini kami berdua resmi menjadi salah satu siswi SMP Paruhan Nawang, salah satu sekolah terpadu swasta yang ternama di kota kembang ini yang tentunya cukup jauh dari kota tempat kami tinggal, yaitu kota udang. Sehingga mewajibkan kami yang kini masih duduk di kelas 1 SMP untuk tinggal di sebuah asrama selama 3 tahun, dan itulah pilihan hidup kami dengan harapan yang sama pula, untuk memiliki masa depan yang tak hanya cerdas intelektual tapi spiritual juga kemandiriannya.
            "Iya, Fi. Ya ampun! Kamu kemana aja sih?" kataku dengan lagak yang sedikit blagu untuk istilah anak muda 2012.
            "Seriusan aku tuh..... Aaaah terus-terus sama siapa? Sekarang masih atau enggak?" tanya Fira yang menggebukan penasarannya.
            "Gak tau, Fi! Tapi, aku berhasil yang mergokin sms-an mereka loh, Fi! Percaya enggak?"
            "Ya percayalah wong kamu mah memang hobi membaca. Baca sms, bacain status facebook, sama semua timeline twitter juga dibacain", kesal Fira sang korban abadi yang sangat jengkel dengan kelakuan sahabatnya itu.
            Mereka pun tertawa lepas.
*****
            Upacara hari Senin berjalan seperti biasanya. Seperti biasa membuat moodku agak rusak, karena di samping hari pertama sekolah juga kita harus berjemur untuk upacara. Semangat nasionalis dalam diriku memang belum terpupuk, dan aku harus banyak belajar dari Fira, sahabatku yang bersebelahan kelasnya denganku. Sahabat yang sabar, baik hati dan tidak pernah mengeluh ke setiap orang selain diriku. Berbeda dengan diriku yang sangat mudah bersosialisasi sehingga aku mudah sekali mengeluh dan jengkel ke setiap orang yang aku anggap semuanya adalah teman dekat.
            BRAAAAAKK!!
            Fira jatuh pingsan. Aku fikir dia sedang berpuasa sunah hari ini, dan tidak sahur semalam. Karena aku tidak berpuasa dan tidak menemaninya sahur tadi malam. Selesai upacara, aku segera membawa diriku menuju ruang UKS untuk sekedar menjenguk Fira. Mataku mengarah kepada sesosok perempuan mungil yang sedang terbaring dan menggenggam segelas teh di ranjang pojok. "Fira, kamu tak apa, kan? Sudah, batalkan saja puasanya kalau kamu tidak kuat. Daripada menyiksa kamu di sekolah", ujarku dengan penuh perhatian, tapi Fira tetap menyangkal perkataanku. Seperti yang sering dia lakukan ketika kami mendekati jalan menuju klimaks perdebatan.
            "Puasa kok nyiksa? Ya gak ada, cuma sugesti kita. Iya ini aku batalin, abis itu kamu langsung balik ke kelas sana. Aku juga mau ke kelas, kok!"
            "Lah sih? Kamu lagi sakit, istirahat dulu deh! Gak usah sok kuat gitu dong!" ejekku membalas kejutekan kata-kata Fira.
            "I'm okay. Hehe. Ayo!" katanya dengan semangat sembari merangkul bahuku setelah menengguk teh hangatnya.
            Aku berangkulan berdua dengan Fira hingga keluar pintu ruangan UKS, tiba-tiba saja Fira melepas rangkulannya dan menjauh dariku ketika aku menutup pintu ruang UKS. Seorang lelaki berbadan tegap yang tingginya tidak jauh berbeda menghampiriku seolah menggantikan tempat Fira berdiri tadi. "Happy birthday, Lia! Ini ada kado buat kamu dari......"
            "What?? Cibit, gue gak ulang tahun sekarang. Salah orang kali lu ya, Rex!" logat gaul bertambah bahasa 2012 ku dilontarkan kepada teman lelaki sebaya yang sekelas dengan Fira, dan lumayan akrab denganku.
            “Ciyee.. Rexa. Gak usah beralibi Lia ulang tahun deh, langsung shoot lah, gan!” timpal Fira yang langsung saja lari dengan wajah tanpa dosanya.
"Serius gak ulang tahun nih jadinya? Tapi ini, dia ngasih ini loh ke kamu. Bukan a……"
            "Sumpah deh, tapi kalo rejeki gak akan nolak, deh!" potongku dengan nakalnya mengambil bingkisan kado berbentuk kubus, tanpa menghiraukan Rexa yang terngangah disana. Lalu, Rexa mengejarku yang berlari nakalnya ke kelas.
            Sesampainya di depan pintu kelas yang terbuka, terlihat kelas yang semrawut dan anak-anaknya pun gaduh tak karuan karena guru mata pelajaran pada jam ke-3 ini sedang cuti. Tetapi, tepat di depan pintu kelas itu, dengan power maximal Rexa mengejarku, berhasil mendapatkanku dan melanjutkan kata-katanya yang sepertinya dia sadar aku tak menghiraukannya.
            "Li, dengerin.. Kado itu.. Buat ulang tahun kamu.." kata Rexa terputus-putus, karena lelah mengejarku.
            "I know. Berarti aku boleh bukanya setelah nunggu hari ulang tahun aku aja gitu? Cupu banget sih gatau ulang tahun gue??" nada lantangku membuat Rexa yang lelah terlihat kesal dan seisi kelas hening.
            "Tapi, kata Bima kamu ulang tahun hari ini..dan..dan itu ..kado dari Bima. Dan kamu meninggalkan surat ini, Lia!!!!" teriak Rexa yang memang kesal dengan ulahku yang gegabah serta membuat dirinya lelah untuk mengejar calon atlit maraton ini.
            Seisi kelas terkejut mendengar perkataan Rexa. Bima yang sekelas denganku pun terkejut tidak tanggung malu. Serentak seisi kelas, aku dan Rexa menoleh ke arah Bima. Sorakan bak kawanan angin ribut tiba-tiba menghantam telingaku. Merah padam seketika menyelimuti wajahku, kutarik sepucuk surat itu dan tak sengaja kubuka perlahan-lahan. Semakin hening, sunyi tak bersuara lagi ketika Bima mendorong bangku mejanya, untuk berusaha keluar meninggalkan kelas dengan mod yang teramat buruk yang pernah kulihat. Aku pun tidak tahu harus berkata-kata apa, entah kenapa aku merasa bahwa aku berada di posisi yang salah, tapi aku kuatkan diri untuk tidak menyalahkan diriku sendiri. Karena sebenarnya apa salahku?
            Apakah kata-kata cupu tadi menyinggung dirinya. Tapi, cowok macam apa sih Bima? Sama sekali tidak memiliki naluri kepriaan? Kenapa harus lewat surat? Kenapa gak ngomong langsung ke aku sih? Terus kenapa juga dia ngamuk tiba-tiba begitu? Berbagai pertanyaan muncul dan semakin berkembang di benakku, semata berusaha untuk tidak menyalahkan diriku sendiri. Aku segera mengejar Bima, namun seisi kelas kembali bertanya-tanya dan mengerubungi Rexa untuk mendapatkan bahan gosip yang baru di kelas. Beruntungnya diriku, tiba-tiba kutemui Bima di pinggir lapangan basket, dengan kejantanan yang ada dalam diriku. Aku datang menghampiri Bima walaupun denyut jantungku terdengar degupan yang cepat, "Hei, Bim? Apa-apaan sih kamu? Langsung main keluar begitu saja? Ngamuk gak jelas lagi!"
            Bima segera berdiri dan kulihat amarah yang menghujam dirinya, "Li, kamu!!! Berhenti coba bentak gue! Ah! Gue tau emang, gue orang cupu! Gue juga tau lu gak pantes deket sama orang cupu kaya gue!"
            "Ya ampun, Bima! Baru juga diomongin cupu aja. Lagian surat itu..." kataku dengan nada semakin merendah.
            "Iya, kenapa? Lo gak suka surat itu juga? Lo kira gue pengecut ngutarain lewat surat? Gue udah tau semua yang bakal lu omongin, Li! Gue udah kenal lu. Besok gue bakal pindah sekolah ke Jakarta. Sekarang juga kamu harus jawab pertanyaan di surat itu! Mau atau enggak?"
            "Kata-kata kamu maksa banget, sih Bim! Gue rasa masih ada tuh yang lebih berharap sama lo",
            "Cukup, jawaban lo. And then, thank you, Li. Lo udah jadi motivator hidup gue disini, hidup gue yang jauh dari orang tua dan jawaban lo cukup untuk motivasiin gue buat lebih jauh ngehindarin orang kaya lo! Yang gak pernah ngehargain perasaan orang", Bima pun pergi meninggalkanku yang naik darah dan akan berteriak sekeras mungkin hingga seluruh pepohonan dan bangunan bergeming. Namun, tidak bisa. Aku harus mengejar Bima, tidak untuk berkata "maaf". Melainkan, membuat perhitungan dengannya. Aku mengejarnya dengan suasana padam, tiba-tiba sebuah tangan menghampiri dan menarik erat tanganku yang membuat langkahku terhenti dan aku hampir
tersungkur di hadapan pemilik tangan yang kemudian menahanku agar aku tidak terjatuh.
            "Don't worry, Lia! It's everything gonna be okay!" ucapnya dengan nada santai, Indri adalah sepupu Bima dan seangkatan dengan kami. Hanya saja, dia berbeda kelas dan mengetahui semua yang terjadi.
            Aku geram tak bisa mengejar Bima, ketika ku menoleh ke arah barat melewati celah jendela di bawah tangga. Sebuah pintu mobil yang terbuka begitu saja, dihampiri oleh seorang lelaki yang sebaya denganku dan terlihat sangat tergesa-gesa. Bima. Dia pergi saat itu juga, sesaat setelah mengutarakan perasaannya kepadaku. Sesaat sesudah dia meluapkan semua isi hatinya kepadaku, tanpa mengizinkanku untuk meluapkan amarahku kepadanya.
            "Bima telah pergi. Si pendiam itu akhirnya memiliki emosi juga. Sudahlah, jangan dimasukkan ke hati. Aku yakin Bima akan menyesalinya bahkan melupakan ini semua. So, slow down, beb!", tutur Indri dengan wajah cerianya menenangkanku.
            "Iya, Ndri. Makasih", hanya itulah yang bisa kukatakan. Karena aku bukanlah seorang juliet yang sedih, gelisah bahkan rela menunggu sang romeo yang lama meninggalkannya. Tidak! Bima bukanlah romeoku. Walaupun aku belum pernah mengerti apa itu cinta, tapi aku juga belum pernah merasakannya.
*****
            Handphoneku berdering sejenak, memberikan notification bahwa seseorang telah mengirim sms kepadaku. Nomor tak dikenal itu lagi, yang menggangguku, yang tiba-tiba galau serta merta curhat kepadaku. Namun, aku suka si pemilik nomor itu, dia bisa diajak debat kapanpun aku mau. Tapi, walau bagaimanapun dia tidak bisa mengalahkan pemikiran Fira yang memang mengerti diriku.
            Sesuatu itu akan datang dengan sendirinya, jika kamu sabar. Morning, Angelia J Penunggu malaikat di gubuk mentari sore.
            Lagi-lagi sms dari nomor tak dikenal yang selalu mengidentitaskan dirinya “Penunggu malaikat di gubuk mentari sore”. Ku ceritakan ini semua ke Fira, sering kali Fira menyuruhku untuk mencari tahu siapa dia. Tapi, aku yang terkenal tidak terlalu peka dengan sekitar, mengabaikan semua itu. Hingga akhirnya, pulang sekolah ini pertama kalinya aku free, tidak ada les private dikarenakan guru private-ku akan menuju ke pelaminan. Lalu, dengan tidak tahu apa tujuannya, aku pun datang berteman bayangan menuju sebuah gubuk yang hanya bertempat di sawah belakang sekolah itu.
            “Akan datang dengan sendirinya karena kesabaran. Naluri, kah? Atau perasaan, kah? Yang udah bawa lo kemari?” tanya suara dari arah belakang mengejutkanku.
            Aku menoleh dengan sigap dan terkejut seraya berkata, “Kamu kah si penunggu malaikat, Rexa? Apa maksudnya? Kenapa?” mataku terbelalak.
            “Kalau, iya? Apakah lo bakal ngecewain gue kayak loh nyia-nyiain Bima?” Tanya Rexa.
            “Maksudmu apa?”
            “Di gubuk mentari sore ini, satu-satunya gubuk paling tepat untuk melihat matahari terbenam dan sang mentari lah yang selalu menjadi saksi bahwa lo adalah seorang malaikat yang menjadi first love gue, sebenarnya”,
            Kata-kata itu, seakan membuat fikiranku buyar. Aku akui, cowok di hadapanku ini cukup sabar untuk menghadapi seorang cewek seperti aku selama ini. Sungguh tak disangka, Rexa yang selalu sms aku dengan kata-kata manisnya justru aku mengira dia lebih menyukai cewek glamour dan modis. Sehingga aku minder untuk lebih mendekatinya.
            “Li, bengongnya udah dong! Gue gak enak nyerocos sendiri begini”,
            “Eh, iya sorry, Rex. Jadi mau lo apa?” dengan polosnya ku bertanya.
            “Ternyata kamu memang seperti ini. Pantas saja Bima nyesel dan nyerah sama kamu, kamu sangat polos”, kemudian tak ada yang bersuara.
            “Gue cuma mau lo tau aja, gue liat lo kurang siap buat pacaran. Tapi, tolonglah belajarlah jaga perasaan orang. Gue bakal nunggu lo sampai lo siap buat….. pacaran”, terdengar lanjutan kata berisi sedikit keraguan dari mulut Rexa.
            Tapi, gilaaaa sumpah, Rexa yang dulunya hampir bikin aku kagum, ternyata sekarang bikin aku melting. Gak nyangka, dia suka sama seorang cewek seperti aku yang memendam perasaanya sejak dulu. Karena itulah, terlalu dalam memendamnya hingga aku lupa sama sekali bahwa aku menyukainya. Dan kini, kami berdiri, berdua, bersama, berhadapan, dengan sorot mentari sore.
            Okay.  Wait me! Everywhere”, suara pelan dari mulutku terlontar begitu saja, ditambah senyum tak biasa dan akan kuceritakan ini semua kepada Fira.

Syukuri Apa yang Ada




Dulu, aku hidup bahagia. Tetapi, kini semuanya telah berubah. Hidupku tak seindah dulu. Kejadian itu telah merenggut kebahagiaanku tak cukup sesaat. Dan hal ini tak mudah yang baru duduk di bangku kelas 5 SD untuk menerima kenyataan pahit yang kuhadapi saat ini.
Tempo hari, di saat aku menangis pilu. Saat diri ini tak percaya akan kenyataan yang terjadi. Ayahku pergi begitu cepat. Pergi ke tempat yang tidak mungkin aku singgahi sekarang ini juga. Kata – kata yang pedih di dengar namun fakta itu adalah meninggal. Ya, ayahku meninggal 2 tahun silam. Berarti beliau telah meninggalkanku hingga kelas 1 SMP. Saat beliau tak mampu lagi untuk menahan diri dari sakit yang dideritanya karena terkena peluru tembakan di bagian dada. Naas memang, ayahku telah terbunuh oleh pemerintah Belanda, beliau yang rela mengorbankan jiwanya demi aku, adikku dan ibuku telah terbunuh di hadapanku.
Ibuku sempat tak sadarkan diri karenanya dan aku mengalami trauma yang berkepanjangan hingga saat ini dengan suara tembakan, tapi mungkin saat itu sudah takdirnya beliau untuk pergi meninggalkan orang – orang tercintanya. Akhir – akhir ini aku mencoba untuk memberi pengertian kepada ibuku, bahkan sanak saudara ibu yang lainnya. Sudah berkali – kali aku mencobanya, tetap saja mereka tidak mengizinkanku dan berdalih bahwa sebenarnya nenekku dari ayah telah melupakan dan tidak peduli terhadap kami lagi, semenjak kematian ayahku.
“Tidak! Itu semua bohong! Kalian salah, nenek pasti masih ingat kami dan masih sayang kami,” berontakku dalam hati. Aku tahu ini semua berat, bila aku terus memberontak seperti itu kepada ibuku yang akan membuat ibu semakin terpukul, dan merasa dirinyalah yang sangat bersalah. Aku mengerti itu, juga aku mengerti makam ayah yang terlalu jauh untuk dikunjungi, tidak memungkinkanku untuk pergi ke sana sendiri, bila aku harus memaksa keadaan. Tetapi, aku rindu sekali dengan ayah.
Malam ini adalah malam ulang tahun ayahku. Karena itu, aku  pun teringat rekaman ulang semua kejadian pilu itu. Aku tak menyangka bahwa saat aku kelas 3 SD, itulah pertama dan terkahir kalinya kami sekeluarga merayakan ulang tahun bersama. Masih tergambar jelas senyum bahagia di wajahnya, menambah luka di hatiku yang mungkin telah sempat mengering, tetapi kini kembali tergores.
Air mataku sekarang telah surut melihat kerja keras ibuku seorang. “Kita harus tegar. Harus selalu bisa menatap masa depan yang masih sangat panjang,” itulah yang selalu ibu ucapkan ketika upayaku sudah mulai surut.
Hari demi hari, kami jalani dengan tabah. Begitu sulitnya hidup tanpa seorang pemimpin yang handal, seorang kepala keluarga yang layaknya seorang pria yang bertanggung jawab seperti ayahku yang telah tiada. Akhirnya, ibuku memberi usul kepadaku bahwa sebaiknya kami mencari pengganti seorang ayah. Pada awalnya, aku tidak setuju, sampai aku lebih memilih untuk mati dari pada menyetujui dan melihat pengganti ayahku. Karena di mataku, hanya ayahkulah satu – satunya seorang ayah yang sempurna. Namun, pada akhirnya aku setuju dengan keputusan itu, karena tak  tahan akan tanggunya yang harus dipikul ibuku seorang diri.
“Tapi bukan maksudku agar semua orang kasihan padaku, hanya saja supaya mereka semua mengerti dan harus bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan, terlebih bagi mereka yang keluarganya masih lengkap. Yah, sudahlah semuanya telah berlalu, mungkin ini memang sudah menjadi jalan takdirku,” aku menghela nafas berat dengan teman baikku yang masih saja setia mendengar semua kuakkan memori pahitku yang sudah lama terpendam ini.
Namun sepertinya, Dita sangat butuh untuk menceritakan pengalamannya juga. Dan aku pun berjanji, sebagai temannya akan selalu siap mendengar seluruh keluhannya dan menjadi penaungnya saat ia tidak tahu harus kemana ia menaung kapanpun dan dimanapun.
“Ya sudahlah. Nirma. Allah telah menetapkan jalan hidup yang berbeda – beda untuk setiap manusia di muka bumi ini,” kata Dita yang membuatku lega dan tersenyum.
“Dita, makasih ya! Hari ini kamu sudah mau jadi tempat sampah yang baik buatku, yang bisa menjadi tempat untuk membuang semua rasa – rasa kekesalanku itu,” aku sangat bahagia saat itu. “Aku berdoa semoga nanti malam, aku bermimpi bertemu dengan ayah dan dapat mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayah secara langsung.”
“Iyaa. Semoga saja doamu itu terkabul. Aku pun turut senang kalau semua keinginanmu itu terkabul. Perbanyaklah berdoa kepada Tuhan, ya!”
Aku tersenyum penuh harap, walaupun senyumku tidak sepenuh harapan Nirma. Tak bisa kubayangkan, jika akulah yang mendapatkan takdir yang sudah digariskan Tuhan seperti itu.
Keesokan paginya, kulihat wajah Nirma yang murung yang membuatku kembali khawatir. Namun kutetap akan mencairkan suasana, “Tadi malam, bagaimana?” tanyaku singkat. Terdiam, lama kumenunggu jawaban.
“Tak apalah. Yang penting aku telah mengirimkan doa untuk ayah, sekalipun tadi malam aku tidak bermimpi tentangnya,” suara Nirma terdengar lirih namun tegar.
“Sudahlah, yang telah berlalu, biarlah berlalu!” aku mencoba untuk menghiburnya, takut kalau sampai Nirma bersedih hati, karena keinginannya tidak tercapai.
“Tenang saja, aku sudah menyimpan kenangan pahitku, supaya tidak menyurutkan perjuanganku hari ini, esok dan mungkin untuk seterusnya,” akhirnya semangat Nirma muncul kembali dan segera bangkit dari keterpurukan yang menekan batinnya selama ini.
“Yang penting sekarang..... Syukuri dulu saja apa yang ada... karena di setiap kehidupan seseorang adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa.”
Sebulan telah berlalu, Nirma sudah melupakan keterpurukan yang melandanya di masa lalu. Tiba – tiba di sekolah, ia berlarian menghampiriku seperti akan membawakan berita baik kepadaku. “Alyaaaa!!! Tebak deh, sesuatu apa yang mau aku ceritain ke kamu?” teka – tekinya dengan penuh perasaan ceria.
“Apaan – apaan, Nirma? Pasti berita baik yaa?” kataku yang sangat penasaran dengan itu semua.
“Emmmm.... minggu depaann. Ibukuuuu.... akan mengadakan persepsi pernikahan!” katanya dengan penuh bahagia. Aku senang melihat Nirma seceria itu, tidak seperti dulu yang terus bermuram durja. Namun aku tidak mengetahui, apakah Nirma benar – benar senang, ataukah hanya mencoba tegar atas kepedihannya. Lalu, kuberanikan diri untuk bertanya dengan penuh kesopanan tanpa di luar batas.
“Nirmaa.. Kamu serius dengan keputusan itu semua, kan? Kamu pasti bangga mempunyai papah, kan?” kataku meyakinkannya.
“Ng.... sebenarnyaa..” gumamnya tiba – tiba. Tapi aku tak ingin apa yang tidak kuharapkan itu terjadi sekarang, yaitu berubah pikiran.
“Ayolaahh, teman! Tidak selamanya keluarga tiri itu menyusahkan. Pasti kamu sudah sepakat dan tidak ingin mengecewakan keputusanmu sendiri dengan ibumu, kan?” kataku.
“Iyaa. Pasti, baiklah, kawan! Minggu depan hadirlah di acara pernikahan ibuku! Datanglah bersama orangtuamu kau akan menjadi tamu kehormatan keluargaku. Karena bagiku kau adalah sahabatku, dan ibuku tahu itu. Oh, iya besok akan kuberi kalian undangan,” kata Nirma yang masih ceria.
Persepsi pernikahan telah dilaksanakan. Aku melihat Nirma dan ibunya berjalan ke arahku, mamah, dan papahku yang sedang tersipu malu karena keterlambatan kami untuk datang ke pesta pernikahan ibunya Nirma. “Mari, mamahnya Alya! Duduklah di meja makan yang telah kami sediakan!” kata ibunya Nirma dengan nada suara yang lembut.
“Oh, iya Bu, Mari! Terimakasih,” kata mamahku dengan santun dan segera menuju ke meja makan yang sudah tertata rapih dengan lilin dan berbagai makanan serta minuman yang sengaja telah dipersiapkan untuk tamu kehormatan.
Nirma pun duduk di sampingku, begitu juga ibu dan ayah barunya. Kemudian orangtuaku dan orangtua baru Nirma sedang asyik berbincang – bincang, kurasakan keakraban keluarga kami. Sejenak kupandangi, ayah baru Nirma yang kurasa asing tak pernah kulihat belakangan ini.
“Hey. Terlihat dari mukanya, dia menjamin hidupmu dan orang yang sangat baik.” Kataku berbisik kecil kepada Nirma yang sedang asyik mengunyah makanan.
“Hemm... memang, kuharap begitu.” Katanya dengan mulut penuh makanan.
“Tuh kaan. Aku bilang apa, ibumu pasti akan selalu memilih yang terbaik untukmu.”
“Iya, benar. Seperti halnya makanan yang dihidangkan ini seakan semuanya untukku. Karena makanan ini semuanya kesukaanku,” kata Nirma yang masih tergila – gila dengan hidangan di atas meja.
“Aaaaah Nirma, kamu ini makanan saja yang dipikirkan,” Gurauku. Dan seketika itu kami berdua langsung tertawa dengan penuh gembira ria.k

Senyum dan Air Mata

karya : Fahroziah Assyifa



“Kriiiing… kriiing…”
“Uhhh… masih ngantuk!” tanganku meraba-raba meja berusaha manggapai bulatan yang terkadang tak bersahabat denganku, jam weker berwarna ungu. Berhasil! Jam itu akhirnya berhenti bergema.
Tak lama aku hendak kembali terlelap, terdengar kembali suara wanita yang hampir berkepala 3, bundaku. “Kakaaaaa, ayo banguuun! Hari ini kita berangkat!”.
Ah bunda pagi-pagi sudah berisik. Memang hari ini mau kemana?
Kulihat kalender di mejaku. Ada bulatan merah di tanggal 8 Juli, hari Minggu.
Hari Minggu? 8 Juli? Itu kan hari ini?! Lalu?
Aku bangun seketika. “aaaah aku lupaaa!!” teriakku mengagetkan burung-burung yang bertengger di jendela kamarku. “bundaaaaaaaa!”
Tepat pukul 07.00 pagi aku sudah duduk manis di depan meja makan bersama nasi goreng kesukaanku. Berbaju putih, rok abu-abu dibalut jilbab putih bermotif bunga. Cantik, namun kurasa jilbabnya kurang rapih. Masa bodo lah. Baru pertama kali.
Kulihat sekelilingku. Bunda, ayah, dan tatanan perabotan rumah. Aku akan meninggalkan mereka. Sedih rasanya. Air mataku hamper menetes, namun kutahan. Wajah ayah dan bunda sangat berseri, dan sangat tak pantas jika aku menghapus raut wajah tersebut dengan kesedihan yang sementara.
Aku harus menjadi anak semata wayang yang kuat. Tak manja seperti anak lainnya.
“Ayo dong Ka, dimakan nasgornya. Itukan pesananmu”, suara lembut bunda memecah lamunanku.
“oh iya Bun. Sepertinya kaka akan rindu dengan nasgor buatan bunda”, ucapku lirih dengan senyum yang tersungging tipis. Senyumanku pun dibalas oleh ayah dan bunda.
Zia Kaniasyifa. Itu namaku. Namun aku akrab dipanggil kaka. Orang mengira kalau aku mempunyai adik. Memang tadinya aku akan menjadi seorang kaka. Namun belum sempat dia terlahir ke dunia ini, dia sudah kembali dipanggil untuk menjadi bunga di surga. Sungguh pilu, namun mungkin itu yang terbaik untuknya dan untuk kami. Dan sampai sekarang, Allah tak lagi memberi kami si mungil nan suci. Dan kami terima itu.
***
“tiiiin, tiiiiin !”
“Cepat ka, nanti keburu macet”, ayahku beteriak. Tapi kan mobilnya juga ga perlu ikut teriak ayaaaah!. Ucapku dalam hati. Ah lagian kena macet dimana? Ini bukan Jakarta yah! Ah suka bercanda si ayah mah! Protesku kembali.
“Iya ayaaah, sebentar”, jawabku sambil membenarkan tali sepatuku. Selesai! Ku berlari menggapai knop pintu mobilku dan membukanya. “Let’s Go, yaaah!” teriakku semangat.
Sebenarnya hatiku tak sesemangat itu. Aku hanya berusaha membahagiakan kedua orang tuaku. Mereka menginginkan aku melanjutkan sekolah yang banyak memperhatikan ilmu agamanya. Dan kami memutuskan untuk bersekolah di sebuah SMP-SMA Islam Terpadu di Kuningan yang full day and boarding school. Mereka berharap aku bisa menjadi sesosok wanita sholehah yang berkualitas. Aku pun menurutinya. Karena mungkin dengan cara ini aku bisa membuat mereka bangga.
Perjalanan dari rumah ke sekolah baruku memakan waktu kurang lebih 2 jam. Tampak suasana perjalananku penuh dengan kesedihan. Sedih karena aku akan meninggalkan mereka. Aku akan bertemu dengan orang-orang baru yang entah apakah keberadaanku akan diterima baik atau tidak. Ya Allah, berkahilah perjalananku. Rahmatilah pengorbananku. Berikanlah ketenangan pada hatiku. Amin, doaku dalam hati.
“Sayaang, ada apa? Mengapa mukamu murung begitu?” Tanya bunda membuyarkan khayalanku. “ah tidak apa apa bun. Kaka hanya sedang memikirkan bagaimana nanti saat ayah dan bunda tak lagi disampingku selalu. Aku khawatir kalau keberadaanku disana tidak diterima baik. Aku tak yakin apakah aku bisa memnjalani hari-hari baruku dengan senyum. Aku….” Belum sempat ku melanjutkan kata-kataku, bunda memotongnya, “ssssst. Kamu tidak boleh cemas seperti itu. Kamu anak kami yang sangat kami banggakan. Kami yakin, kamu dapat menghadapi apa pun dengan tenang. Hilangkan semua firasat mu itu. Kamu pasti bisa. Anak ayah dan bunda tidak akan cengeng”. Kata-kata bunda seolah mencerahkan hatiku yang kelam. Menyejukkan kepalaku yang semula tak karuan. “Terima kasih bunda, terima kasih ayah. Kaka sayang kalian.” Aku langsung memeluk bunda. Kemudian memeluk ayah dari belakang karena takut mengganggu beliau sedang menyetir. Sekarang aku siap untuk hari baruku, batinku.
***
“Wah, sebanyak inikah calon teman-teman baruku yah?” tanyaku ketika turun dari mobil. “Ya sayang, mereka tentu akan menyenangkan jika bersamamu”, jawab ayah. Aku tersenyum dan kembali melihat-lihat sekelilingku. Aku tidak akan kesepian disini. Kemudian ayah mengajakku menuju asrama yang akan aku tinggali. “Ayo nak kita kesana!”. Akupun mengagguk.
Sesampainya di depan asrama tersebut, kedatanganku disambut oleh seorang wanita berjilbab panjang yang umurnya tak jauh dari bundaku. Sepertinya itu yang akan menjagaku. Nice looking. Aku membalas senyum padanya. “Assalamu’alaikum,” wanita itu duluan menyapa, “Wa’alaikumsalam” kami menjawab. “Selamat datang ukhti, perkenalkan saya umi yang akan mengurus asrama ini. Panggil saya Umi Lia ya sayang,” aku tersenyum dan mengangguk, “Iya umi, nama saya Zia Kaniasyifa. Umi bisa panggil saya apa saja. Yang penting enak,” aku tertawa kecil. Mereka pun ikut tertawa. “oke Zia, mari ikut umi ke kamarmu,” ucap umi sambil merangkul pundakku, menuntunku. Aku mulai nyaman.
“Nah Zia, ini kamarmu. Kamar Aisyah namanya” kami berhenti di depan kamar yang di pintunya tertulis nama kamar dan anggota kamarnya. “terima kasih, Mi” ucapku. “Sama-sama, Zi. Sekarang berbaurlah bersama kawan sekamarmu” beliau tersenyum.
“Ayo sayang, kita bereskan segalanya!” buundaku semangat. “Ayo bun!” kami tersenyum. Ayah datang dan memasang loker yang akan aku gunakan untuk menyimpan pakaianku. Aku dan bunda membereskan kasur dan barang-barang bawaanku. Beberapa jam kami terlihat sibuk, begitu pula anak dan orang tua lainnya.
“Selesaaai!” aku menarik nafas dan membaringkan tubuhku diatas kasur yang empuknya tak seempuk kasur dirumahku. “Alhamdulillah… sekarang ayah dan bunda mau keluar dulu yah sayang. Ada adminstrasi yang harus diselesaikan. Kamu tunggu disini dulu sekalian bersosialisasi ya. Ok sayang?” ayah tersenyum. “oke yah!”. Aku berjalan mengelilingi kamarku yang tak begitu luas.
“Hei,” terdengar suara kecil seolah memanggilku dari belakang. Aku menoleh, “Aku?”, “Ya, kamu! Boleh berkenalan?” dia menghampiriku dan memulai percakapan. “Tentu boleh, namaku Zia Kaniasyifa. Panggil saja Zia,” aku melontarkan senyum padanya. “Aku Risya Nurazizah, panggil saja Icha,” dia membalas jabat tanganku dan tersenyum. “Senang berkenalan denganmu. Kuharap kita bisa berteman baik,” ucapku. “Tentu. Oya, perkenalkan ini temanku,” kulihat seorang berjilbab di belakang Icha, “aku Tia Fathia, panggil saja Tia” aku membalas jabat tangannya, “aku Zia,” kembali tersenyum. Entah hari ini aku sudah tersenyum berapa kali. Pegal rasanya bibirku ini, namun inilah yang aku harapkan. Bisa tersenyum pada semua orang dan orang pun akan membalas senyumanku. Dengan begitu, aku mendapat tambahan pahala dari Allah, Amin…
***
Tiba saatnya untukku berpisah dengan orang tuaku. Sedih rasanya. Ingin menangis, namun itu tiada guna. Toh ini memang harus terjadi dan tak bisa dielak lagi. Sebenarnya bunda bisa saja menginap disini sehari sama seperti beberapa orangtua lainnya, tapi aku bukan anak yang manja. Aku bisa sendiri, itu tekadku.
“Sayang, sekarang bunda dan ayah harus pergi. Tidak apa-apa kan?” tanya bunda dengan mata yang berlinang. “Bunda tidak perlu khawatir, kaka disini banyak teman kok. Kaka akan berusaha menjadi rumput yang kuat menahan badai datang,” aku tersenyum. “Bagus. Kamu memang anak ayah satu-satunya, tapi kamu tidak menanggapinya dengan manja. Kamu hebat, anakku!” ayah membelai kepalaku. “Tentu, Yah! Aku akan berusaha untuk mandiri!” aku kembali tersenyum dan memeluk keduanya. Kehangatan ini akan menjadi bekal awalku untuk menghadapi hari esok, batinku. “Jaga dirimu baik-baik ya sayang,” bunda menasehatiku. “Belajar yang benar ya,” ayah menambahkan. “Siap, Yah. Siap, Bun!”
***
Senja menjelang, terdengar sirine dari salah satu kamar. Itu dari kamar Umi. Pertanda bahwa seluruh anak asrama diwajibkan shalat Maghrib berjama’ah di Masjid depan asrama. Semua anak mengambil air wudhu yang tempatnya tak jauh dari kamarku. Kamarku terletak di lantai satu dan berada di paling pojok dekat kamar mandi. Dan tepat di belakang asrama kami adalah Pemakaman Umum di desa tersebut. Seram sih, tapi banyak orang kok. Jadi aku tak perlu takut. Oiya, asrama akhwat (sebutan untuk anak-anak perempuan) dan asrama ikhwan (sebutan untuk anak-anak laki-laki) tepat bersebrangan dan jaraknya sangat dekat. Hanya terpisah sejauh 5-10 langkah. Jarak antara asrama dan sekolah kami pun tak jauh. Hanya memakan waktu 5-10 menit untuk berjalan. Udaranya sejuk karena terletak di kaki Gunung Ciremai. Tempat yang nyaman untuk tinggal dan menimba ilmu.
Shalat Maghrib pun sudah terlaksana. Saatnya kami untuk bertadarusan bersama. Setelah itu dilanjut pada Shalat Isya berjama’ah. Dan kemudian waktunya untuk makan malam. Aku ingin sekali menghubungi orangtuaku disana untuk mengucapkan selamat malam, tapi disini tidak diperbolehkan membawa Handphone ataupun alat-alat elektronik lainnya. Waktu keluar pun sangat dibatasi. Tidak boleh berdua-duaan dengan lawan jenis, kecuali dengan kerabat dekat yang menjenguk. Dan masih banyak lagi peraturan yang sebenarnya tak sejalan dengan pikiranku. Atau mungkin belum sejalan. Uh… apakah ini akan sangat membosankan? batinku.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 21.00. ini saatnya untuk para akhwat beranjak tidur. Suasananya sangat sepi. Berbeda dengan dirumah yang masih terdengar suara televisi atau pun kendaraan yang lalu lalang. Yang ada hanya suara jangkrik yang menambah ketegangan. Perasaan takut pun muncul. Tapi hilang begitu saja ketika kuganti pikiranku dengan baying-bayang ayah dan bunda. Aku menangis. Bolehlah sesekali aku menangis, karena itu akan menguatkan aku kelak. Tak lama, aku pun terlelap dalam balutan selimut hangat.
***
“Kukkuruyuuuuuuk…”
Suara sirine pun kembali berbunyi. Itu cukup ampuh membangunkan kami semua. “Zia, bangun nyok. Kita ambil wudhu,” Tara membangunkanku dengan logat betawinya yang cukup membuatku tertawa kecil. Dia tidur tepat diatas ranjangku.
Semua penghuni asrama berduyun-duyun pergi ke masjid. Kecuali mereka yang mengalami “gejala benci pria” alias datang bulan.
Setelah shalat shubuh berjama’ah, ada satu kegiatan rutin asrama, yaitu kuliah tujuh menit (kultum) 3 bahasa, B. Sunda, B. Indonesia, dan B. Inggris. Semuanya tersusun dengan rapi dan dilakukan dengan khidmat.
Selepas itu, anak-anak pun kembali ke asrama, membersihkan dan mempersiapkan diri untuk sekolah. Sarapan pun tak terlewat. Kita makan bersama di ruang makan yang cukup besar untuk menampung anak asrama yang jumlahnya ratusan.
Jam menunjukkan pukul 06.30. Semua anak mempersibuk diri untuk sekolah. Aku berangkat ke sekolah bersama Icha. Kebetulan aku dan dia satu kelas. Dia teman yang baik dan asyik. Dia juga salah satu penyemangatku disekolah.
Hari-hari pun berlalu yang kurasa begitu cepat. Semuanya kulalui dengan senyuman. Ya walaupun jalan tak selamanya lurus dan mulus. Tapi itu tidak mengganggu bibirku untuk tetap tersenyum.
Disini aku mendapatkan berbagai arti kehidupan. Arti persahabatan, pengorbanan, kerja keras, persaingan sampai ke arti cinta, semuanya ada dan ku rasakan. Disini aku mulai merasakan apa itu perasaan, perasaan mendebarkan ketika dekat dengan lawan jenis dan apa itu rasa yang menjengkelkan ketika si dia dekat dengan perempuan lain. Lucu memang, tapi inilah kodrat yang pasti kita, manusia yang berhati, akan rasakan. Disini aku mulai mengalami apa itu memiliki dan dimiliki seseorang, tapi tetap aku berusaha untuk tidak keluar dari koridor yang ditetapkan. Disini pula aku merasakan persaingan yang benar-benar persaingan. Entah apa itu dalam mencapai prestasi di sekolah, dalam lika-liku persahabatan, ataupun dalam segala hal yang mengenai perasaan dan cinta. Dan aku baru sadar, bahwa hidup ini luas. Tak sebatas lukisan yang hanya dinikmati indahnya. Namun lukisan yang diteliti bagaimana proses pembuatannya sehingga bisa menjadi indah. Menuntut kita agar jatuh untuk berdiri, menangis untuk tersenyum, membenci untuk memaafkan serta bersakit-sakit untuk nikmat yang luar biasa. Sungguh masih banyak lagi cerita yang bisa dikenang namun tak dapat ditorehkan dengan kata-kata.
***
Hidup bagaikan roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Ada saatnya suka, ada pula saatnya untuk duka. Ada yang mengatakan, “jangan terlalu tinggi untuk terbang, karena ketika jatuh pasti akan meninggalkan luka yang berbekas. Sakit rasanya”. Itu yang sekarang aku alami. Di hidupku yang nyaris sempurna, mempunyai keluarga yang bahagia dan sangat berkecukupan, mempunyai prestasi yang menggunung, mempunyai teman-teman yang setia menemani, dan memiliki seorang yang berarti yang mengisi ruang di hati, tiba-tiba datang kesedihan bah kilat yang memecahkan segala keindahan.
Aku sangat terpukul ketika mendapati sebuah bendera kuning menempel di pohon depan rumahku. Semenjak perjalanan pulang pun aku mempunyai perasaan yang tak enak. Apalagi ketika ayah meneleponku untuk segera pulang. Terdengar suara lelaki paru baya yang sangat parau dari sebrang. Ketika ku Tanya ada apa, beliau tidak menjawabnya. Aku mengerti, mungkin aku sangat dibutuhkan disana. Aku harus pulang. Sebelum semuanya terlambat. Dan sekarang terlihat jelas apa alasannya. Mengapa di rumahku banyak orang dengan raut muka muram? Apakah mereka tidak tahu bagaimana cara bertamu yang baik? ataukah ada sesuatu lain yang aku tak mengerti telah terjadi? Karena tak ingin banyak membuang waktu untuk pertanyaan yang tak jelas jawabannya, aku putuskan untuk langsung masuk rumah dan bertanya pada ayah atau bunda. Tapi belum aku berkata sesuatu, ayah lari menghampiri dan langsung memelukku erat. Seakan ayah tak mau melepasku yang akan pergi jauh dan tak kembali. Dan sekilas kudengar suara isak tangis ayah. Ada apa ini?, batinku.
“A… ayah, ada apa? Mengapa ayah menangis seperti ini? Mana Bunda? Aku ingin bertemu…” ucapku heran ketika melepas pelukkan erat ayah. “Ka… kamu harus sabar. Kamu harus kuat. Ingat janjimu dulu? Bahwa Kaka akan berusaha menjadi rumput yang kuat menahan badai datang?” pertanyaan ayah semakin menambah tanda tanya di benakku. “iya ayah, aku ingat sekali itu. Memangnya kenapa yah? Ceritakan padaku…” aku berusaha membujuk ayah untuk membuka mulutnya yang daritadi menyembunyikan sesuatu. Ayah semakin terisak, “Kamu bisa lihat sendiri, Ka” ayah bergerak menjauhi pintu dan seolah mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan yang sebenarnya aku takuti. Tapi aku paksakan kaki ini untuk terus meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. Kulihat sesosok yang familiar dimataku, entah siapa karena mukanya tertutupi kain putih. Aku mulai berpikir yang tidak sepantasnya aku pikirkan. Langkah kakiku semakin lama terasa semakin bergetar. Air mataku ingin menetes seolah tak mampu lagi mata ini membendungnya. Keringatku bercucuran seperti sudah berlari mengejar kereta express. Memang terkesan mengada-ada karena tak mungkin di ruangan ber-AC itu aku merasakan panas yang menyengat. Menyengat hati dan jiwaku. Tapi ini memang adanya. Aku hampiri sosok itu, kubuka kain penutup wajahnya, kulihat matanya seperti mata terindah yang pernah aku lihat, dan…
“Bundaaaaaaaaaaaaaaaa………!!!!”
Aku berteriak histeris. Aku tak percaya bahwa sosok itu adalah wanita yang amat sangat aku cintai. Aku… aku…aaahh ! ini mimpi! Ini mimpi burukku! Mimpi terburuk sepanjang tidurku! Tolong bangunkan aku Ya Allah!...
Aku menangis! Menangis yang benar-benar memilukan di sepanjang hidupku! Semua orang menatapku iba. Ayah merangkulku dari belakang, berusaha memerintahku untuk menahan emosiku. Aku tau itu. Tapi kali ini aku tak bisa mengindahkan perintah itu. Biarlah aku menangis, yah. Aku tak ingin melewatkan air mataku untuk saat-saat sepenting ini. Aku yakin, air mataku takkan sia-sia jatuh untuk menangisi ini. Kumohon yah, biarkanlah aku menangis…Seakan ayah mendengar kata hatiku, ayah pun melepas rangkulannya dan bersedia memberikan waktuku untuk menumpahkan semua emosi. Aku pun berlarut-larut dalam tangisan di atas dada bundaku.
***
Pintu kamarku berbunyi, seperti ada yang menggerakkannya. Itu ayah. “Sudah nak, bundamu tak ingin kamu seperti ini. Ayah yakin itu,” ayah membelai rambutku dan mencoba meredam tangisku yang tak kunjung henti. Aku terus menangis, menyesali keadaan. Dan akhirnya kuucap kata-kata yang sangat aku ingin katakana, “Mengapa yah? Mengapa ayah tak mengatakan tentang penyakit bunda sebelumnya?”. Ayah terdiam selama beberapa menit. Aku terus memandangi mata ayah dan menanti jawaban itu. “Sebenarnya itu permintaan bundamu, Nak. Ia tak mau kamu cemas akan keadaannya. Ia ingin kamu terus tersenyum. Ia menyayangimu, Nak” ayah membuka mulut. Aku mengerti. Dan aku berusaha untuk tersenyum demi bunda. Inikah alasannya mengapa ayah dan bunda tak ingin melihatku menagis dan ingin selalu aku tersenyum?, aku terus menangis di pangkuan ayah. “Dan permintaannya yang terakhir, ia ingin kamu terus gapai mimpimu dengan senyuman walau ada atau tanpa dia, kamu janji akan itu sayang?”. Aku mengangguk, “Aku janji, Yah”. Benar, aku masih punya ayah, aku masih punya teman-teman, aku masih dikelilingi orang-orang yang aku sayangi. Itu semua berkat ayah dan bunda. Tak salah selama beberapa tahun ini aku habiskan waktu di asrama. Pilihan bunda memang tak pernah salah. Kini aku sedikit paham apa arti kehidupan. Dan aku janji, aku kan terus bersinar untuk kalian. Aku janji, Bunda…
***
Suatu hari… setelah 4 tahun Bunda tiada, aku berdiri di depan podium mengenakan pakaian toga untuk menyampaikan sedikit kata-kata yang tak begitu indah namun akan kulakukan itu dengan sepenuh hati. Kulihat di depanku, orang-orang yang duduk rapi menunggu ku berbicara. Aku sedikit tegang, namun wajah ayah mengingatkanku akan janjiku. Kulihat langit, terlukis indah raut wajah seorang wanita cantik sedang tersenyum. Itu bunda… dan aku mulai mengukir kata-kata…
“…Terima kasih ayah, terima kasih bunda, terima kasih kawan, dan terima kasih semuanya yang telah mengajariku berbagai hal tentang kehidupan, yang telah menyemangatiku dengan persahabatan dan persaingan, dan yang telah membuatku menyadari akan pentingnya senyuman dan pentingnya untuk tidak mudah menangis.
Mungkin kata-kata ini tidak seindah kata-kata yang diucapkan Shakespare, Picasso ataupun Khalil Gibran dan teman-temannya, namun ketahuilah bahwa saya merangkainya dari hati yang paling dalam. Dan untuk Icha, Tia, dan Tara sahabatku… sampai bertemu nanti, saat aku sudah resmi mengenakan jas putih dengan mengalungi stetoskop. Aku janji itu…

Maju Mundur Seperti Undur – Undur

karya : Riza Rahmah Angelia
diadaptasi dari kisah buatan Intan Puspitasari


            Aku dan sepupuku menelusuri jalanan yang basah karena riak hujan. Ya, kejadian ini terjadi saat kakak pertamaku yang bernama Teh Maida menikah, satu hari yang lalu. Aku dan sepupuku disuruh Teh Maida untuk mengantarkan banyak makanan kepada keluarga tanteku yang bertempat tinggal di Kota Kuningan setelah acara pernikahan selesai, karena keluargaku yang satu itu tidak bisa datang ke acara pernikahan kakakku. Memang aku nyaris kesal dengan keluarga tanteku itu yang tidak bisa menyempatkan dirinya untuk datang ke pesta kemenakannya sendiri, tetapi kakakku yang selalu menasihati untuk tidak menyimpan fikiran buruk kepada tanteku. “Mungkin saja tante Anit dan paman Beni sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa diganggu.” itulah yang sering dikatakan kakakku untuk menenangkan amarahku dengan kemurahan senyumnya.
            “Ah sebal! Teh Maida selalu saja berkata lembut seperti itu yang membuat Ntan merasa malu dengan ucapan Ntan sendiri.” kataku mengeluh kepada sepupuku saat di perjalanan menuju rumah tante Anit.
            “Hahaha. Sudahlah, Ntan! Tetehmu memang orangnya sangat murah hati. Dia tidak pernah menyimpan dendam ataupun berprasangka buruk kepada siapapun. Beruntung ya, Aa Dimas yang telah memiliki wanita selembut dan secantik tetehmu itu.” kata Novi, sepupuku yang sempat tertawa mendengar keluhanku.
            Mendengar perkataan sepupuku tadi, aku semakin kesal. Aku merasa seakan semua orang tidak ada lagi yang akan memihakku. Berawal dari sebelum keberangkatan kami ke Kota Kuningan, kami sempat adu mulut dengan orang tua kami. Ini terjadi karena keterlambatan sepupuku yang menjemputku dengan menggunakan sepeda motor tanpa membawa helm. Kontan saja bundaku, yang mengetahui itupun marah, karena sepupuku yang sangat ceroboh itu. Padahal cuaca sudah tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan beroda 2, terpaksa kami terburu – buru pergi sebab bundaku sesekali mengomel, sudah bisa memakan waktu berjam – jam.
            Sesampainya di rumah tante Anit, Mbak Noni yang sedang menyapu di halaman depan, segera membukakan pagar rumah dan menyuruh kami masuk ke dalam. “Ayo, neng Intan, neng Novi lekas masuk ke dalam! Hari sudah gelap, biasanya akan hujan lebat.” ujar Mbak Noni, pembantu tante Anit yang sudah sangat dekat dengan keluarga besar kami.
            “Ini ada titipan dari Teh Maida, Mbak!” kataku sambil memberikan banyak sekali makanan yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik.
            “Kok rumahnya sepi, Mbak? Pada kemana?” kataku lagi ketika kami sedang duduk di sofa ruang tamu tante Anit sambil berharap bahwa tante tidak ada di rumah. Aku yang masih kesal dengan keluarga tante Anit, sedang tidak ingin bertemu dengan keluarga tanteku itu. Akhirnya keinginanku pun terkabulkan. Benar saja keluarga tante sedang tidak ada di rumah.
            “Paman Beni sedang dinas di luar kota, tante  Anit yang baru saja lembur sejak malam, tadi berangkat ke kantor lagi pagi – pagi sekali. Neng Nita kan sedang ujian Try Out tuh neng.” Jelas Mbak Noni dengan nadanya yang rada medok.
            “Oh iya, ya! Teh Nita kan sudah kelas 3 SMA.” Kata Novi mencoba mengingat kakak sepupunya itu.
            “Lalu? Memang kenapa? Keluarga tante aja gak inget dengan acara pernikahan Teh Maida, terus ngapain kita inget – inget tentang Nita?” kataku sinis.
            “Ntan, ntan! Udahlah kayak anak kecil aja, sih pake acara ngambek segala. Jangan – jangan kamu senang ya gak ketemu tante Anit dan keluarganya?” tanya Novi yang bermaksud menyindirku.
            “Sebenarnya sih iya. Males kalau  ketemu tante Anit tuh, apalagi Nita. Wuh gaya penampilannya yang sok dewasa, sok modis banget!” kataku yang memang sudah sangat kesal dengan tingkah lakunya semenjak sepupuku yang satu itu duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
            “Sssst..  Aduh neng Intan! Omongannya dijaga atuh, neng! Geulis – geulis teh omongannya haduuh! Pokoknya jangan sampai si Neng Nita, tau. Ntar ngamuk lagi, Mbak sih gak mau lihat neng Nita ngamuk lagi.” Kata Mbak Noni yang tiba – tiba saja menasihatiku.
            “Emang pernah ngamuk, Mbak? Kenapa itu?” kata Novi yang sangat penasaran.
            “Iya neng Novi, minggu – minggu  kemaren deh. Yang Mbak dengar sih, gara – gara ditinggal pacarnya.” Kata Mbak Noni.
            Aku pun tak sengaja tertawa mendengarnya, akhirnya aku segera pamit ke Mbak Noni untuk segera pulang ke rumah, karena aku tidak ingin mendengar lanjutan cerita Mbak Noni tentang Nita lagi,  di samping itu pula hari sudah sangat gelap dari sebelumnya. Beruntung saja, hujan belum lebat dan masih saja rintik – rintik seperti sebelumnya.
            “Pulang dulu, ya Mbak! Mumpung masih gerimis belum lebat. Ayo, Nov! Assalammualaikum, mbak.” kataku sembari mengajak Novi untuk beranjak dari sofa.
            “Waalaikumsalam. Iya, iya neng. Hati – hati, ya! Eh, neng ini ada titipan uang dari tante dan paman buat Teh Maida! ” teriak Mbak Noni kepada kami yang sedang terburu - buru mengendarai sepeda motor, aku pun langsung kembali untuk mengambil titipan uang tersebut dan berlari ke arah sepeda motor yang dikendarai Novi. Sepeda motor yang kami kendarai berlomba – lomba dengan kekhawatiran kami akan turun hujan lebat.
            “Ntan, yakin nih gapapa? Cuacanya engga banget deh.” Kata Novi yang membuatku merasa khawatir dengan cuaca saat ini.
            “Yakinin, aja deh!” kataku dengan santainya.
            “Duh, tapi aku punya firasat gak enak, nih Ntan!” kata Novi semakun membuatku takut.
            “Udah lah, lanjut aja, Nov!” kataku yang masih saja menunjukkan ekspresi santai yang padahal ketakutanku pun sudah mulai menggebu – gebu.
            Pegangan tanganku yang semakin erat pada baju Novi yang sedang mengendarai sepeda motor sambil mulutku yang terus saja berkomat – kamit melantunkan doa di sepanjang perjalanan agar hujan gerimis ini berhenti dan cuaca berubah menjadi cerah kembali, sehingga kami bisa tenang untuk selamat sampai tujuan. Namun, terkadang yang sebenarnya terjadi itu tak seindah impiannya, bukannya berhenti, hujannya turun dengan semangat seperti hendak membasahi seluruh permukaan bumi tanpa terkecuali. Kami pun segera mungkin mencari tempat untuk berteduh, beruntungnya kami menemukan sebuah warung kecil di pinggir. Kedinginan yang sudah menjalar di sekujur tubuh kami, memaksa kami untuk berfikir, apakah kami akan menunggu hujan dengan membeli makanan di warung ini, atau kah kami hanya terdiam di sini. Karena indomie rebus yang sedang di makan oleh para sopir angkot di warung kecil itu menggiurkan kami yang sedang lapar akibat kedinginan dan tidak memiliki uang se-rupiah pun. Kebingungan yang melanda kami, yang membuat perut kami seakan menggemuruh.
            “Yang benar saja, masa kita akan menggunakan uang titipan tante itu?” tanya Novi meyakinkanku.
            “Tidak akan, deh! Lagian juga hujannya sudah tidak selebat tadi lagi, kita langsung pulang saja, yuk!” ajakku yang bermaksud menghindari niat buruk yang diyakinkan oleh Novi.
            “Tapi, segitu kan masih besar. Tapi, ya sudahlah. Aku mengerti, kok! Ayo, nanti aku kendarainya pelan – pelan saja, ya Ntan?” kata Novi yang sudah menggigil kedinginan, begitu juga aku.
            Di perjalanan, aku hanya bisa menunduk dan memeluk erat sepupuku itu, karena hujan yang turun saat itu cukup perih mengenai wajahku, apalagi kecepatan yang saat itu dikendarai Novi adalah 60 km/jam. Aku sudah pasrah dalam lamunanku, aku hanya bisa berdoa dan terus berdoa. Tiba – tiba, “BRAAAAAK!!!” spontan saja aku terbangun dari lamunanku dengan keadaan sudah terguling lemas ke arah kiri jalan dan aku merasa ada sesuatu yang keras yang menggelinding ke arah kakiku, aku pun tersentak kaget, aku fikir ada sebuah kepala orang yang putus, setelah kami tabrak saat itu. Fikiranku benar – benar runyam, dan aku sudah tidak kuat untuk bangun lagi. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, dan aku pun tidak tahu keadaan sepupuku yang sedang tergencet motor, apakah parah atau tidak?
            Kukerahkan seluruh kekuatanku, untuk melihat keadaan sepupuku dan.... Oh tidaak!! Ternyata sepeda motor yang kami kendarai menabrak seorang kakek. Aku melihat kakek malang itu sedang terbujur kaku dengan banyak cucuran darah dari kepalanya, kulihat di dekat kakiku menggelinding gas elpiji 3 kg. Aku pun langsung menolong sepupuku, yang hanya lecet di bagian tangan saja, akibat tertindih sepeda motor. Awalnya aku ingin mengajak sepupuku untuk pergi dari tempat kejadian ini, karena bila kakek itu tak sadarkan diri juga, seperti halnya kita berdua adalah pembunuh dan bila banyak orang yang melihat, maka kita yang baru saja duduk di bangku sekolah menengah atas akan dimasukkan ke penjara. Aku sangat cemas akan keadaan saat itu. Kedinginan yang tadinya menjalar di sekujur tubuh, kini lenyap begitu saja, lalu kukeluarkan handphoneku untuk menelepon bunda di rumah agar menolong kami secepatnya. Karena, saat itu juga jalanan teramat sepi.
            Bunda dan tante Mira, ibunya Novi,muncul dengan tergesa – gesa membawa payung sambil menghampiri kami yang sedang ketakutan. Bundaku terlihat tenang ketika memastikan keadaan kami baik – baik saja, hanya sedikit lecet – lecet di sekujur tubuh kami yang tidak mengalami pendarahan hebat, sehebat pendarahan kakek yang kami tabrak tersebut dan orang – orang mulai berdatangan, mengerumuni kakek itu. Tante dan bundaku syok ketika melihat darah kakek itu sudah ditutupi kapas, sehingga hampir seluruh bagian mukanya tertutup kapas. Tanteku yang membawa mobil, segera menyuruh orang – orang untuk menggotong kakek itu ke mobil tante, dan akan dibawa ke puskesmas terdekat.
            Setelah sampai di puskesmas, dan kakek itu telah dibersihkan darahnya serta diobati luka di kepalanya, kakek itu berkata, “Ai tadi kuring katabrak naon?” kontan saja kami yang mengantarkannya ke puskesmas tertawa terbahak – bahak.
            Rupanya kakek yang sudah hampir udzur itu sedang habis membeli gas elpiji 3 kg sendirian, dan tiba – tiba kami menabraknya. Aku merasa sangat kasihan sekali kepada kakek itu. Ulah kamilah yang membuat darah kakek terus keluar dari lubang hidungnya, dan dahinya pun sudah dijahit. Tapi aku tetap bangga dengan kakek itu, walaupun begitu perjuangan hidupnya sangatlah kuat. Sehingga aku bersyukur kepada Allah, yang masih memberi kesempatan kepada kakek itu. Setelah benar – benar diobati, dokter mengabarkan kakek itu boleh dibawa pulang, kami pun mengantarnya ke rumahnya yang ternyata tidak jauh dari puskesmas itu.
            “Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.“Maafkan kami ya, kek! Kami tidak akan ngebut – ngebutan lagi di jalan.” Kata kami berdua dengan penuh penyesalan.
            “Habis kakek, menyeberangnya tidak benar, sih. Maju mundur – maju mundur seperti undur – undur saja.” Lanjut Novi yang membuat kami semua tertawa.