Rabu, 27 Juni 2012

Penunggu Gubuk Mentari Sore

karya : Riza Rahmah Angelia


Make a relationship? SMA? Wajar saja mungkin. SMP? Masih biasa. Tetapi, SD? Wow, bakatnya! "Yap! Aku masih teringat dengan Rara teman SD kita, yang bisa-bisanya dia backstreet dari kelas 5 SD", ceritaku kepada Fira dengan santainya menikmati ranjang Fira.
            "Benarkah itu? Aku saja baru tahu, loh!" tutur Fira terkejut dengan polosnya ketika mendengar ceritaku itu.
            Saling bertukar cerita, bertukar fikiran, sehingga tak luput berdebat diantara kami adalah hal yang biasa. Tempramen yang kami miliki masing-masing masih menguasai diri kami, sehingga tidak heran bila kami sering bertengkar dan menjauh satu sama lain. Namun, candaan yang berlebihanlah yang justru membuat kami menyatu, dan tidak membuat kami tersinggung sama sekali.
Aku dan Fira berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan kini kami berdua resmi menjadi salah satu siswi SMP Paruhan Nawang, salah satu sekolah terpadu swasta yang ternama di kota kembang ini yang tentunya cukup jauh dari kota tempat kami tinggal, yaitu kota udang. Sehingga mewajibkan kami yang kini masih duduk di kelas 1 SMP untuk tinggal di sebuah asrama selama 3 tahun, dan itulah pilihan hidup kami dengan harapan yang sama pula, untuk memiliki masa depan yang tak hanya cerdas intelektual tapi spiritual juga kemandiriannya.
            "Iya, Fi. Ya ampun! Kamu kemana aja sih?" kataku dengan lagak yang sedikit blagu untuk istilah anak muda 2012.
            "Seriusan aku tuh..... Aaaah terus-terus sama siapa? Sekarang masih atau enggak?" tanya Fira yang menggebukan penasarannya.
            "Gak tau, Fi! Tapi, aku berhasil yang mergokin sms-an mereka loh, Fi! Percaya enggak?"
            "Ya percayalah wong kamu mah memang hobi membaca. Baca sms, bacain status facebook, sama semua timeline twitter juga dibacain", kesal Fira sang korban abadi yang sangat jengkel dengan kelakuan sahabatnya itu.
            Mereka pun tertawa lepas.
*****
            Upacara hari Senin berjalan seperti biasanya. Seperti biasa membuat moodku agak rusak, karena di samping hari pertama sekolah juga kita harus berjemur untuk upacara. Semangat nasionalis dalam diriku memang belum terpupuk, dan aku harus banyak belajar dari Fira, sahabatku yang bersebelahan kelasnya denganku. Sahabat yang sabar, baik hati dan tidak pernah mengeluh ke setiap orang selain diriku. Berbeda dengan diriku yang sangat mudah bersosialisasi sehingga aku mudah sekali mengeluh dan jengkel ke setiap orang yang aku anggap semuanya adalah teman dekat.
            BRAAAAAKK!!
            Fira jatuh pingsan. Aku fikir dia sedang berpuasa sunah hari ini, dan tidak sahur semalam. Karena aku tidak berpuasa dan tidak menemaninya sahur tadi malam. Selesai upacara, aku segera membawa diriku menuju ruang UKS untuk sekedar menjenguk Fira. Mataku mengarah kepada sesosok perempuan mungil yang sedang terbaring dan menggenggam segelas teh di ranjang pojok. "Fira, kamu tak apa, kan? Sudah, batalkan saja puasanya kalau kamu tidak kuat. Daripada menyiksa kamu di sekolah", ujarku dengan penuh perhatian, tapi Fira tetap menyangkal perkataanku. Seperti yang sering dia lakukan ketika kami mendekati jalan menuju klimaks perdebatan.
            "Puasa kok nyiksa? Ya gak ada, cuma sugesti kita. Iya ini aku batalin, abis itu kamu langsung balik ke kelas sana. Aku juga mau ke kelas, kok!"
            "Lah sih? Kamu lagi sakit, istirahat dulu deh! Gak usah sok kuat gitu dong!" ejekku membalas kejutekan kata-kata Fira.
            "I'm okay. Hehe. Ayo!" katanya dengan semangat sembari merangkul bahuku setelah menengguk teh hangatnya.
            Aku berangkulan berdua dengan Fira hingga keluar pintu ruangan UKS, tiba-tiba saja Fira melepas rangkulannya dan menjauh dariku ketika aku menutup pintu ruang UKS. Seorang lelaki berbadan tegap yang tingginya tidak jauh berbeda menghampiriku seolah menggantikan tempat Fira berdiri tadi. "Happy birthday, Lia! Ini ada kado buat kamu dari......"
            "What?? Cibit, gue gak ulang tahun sekarang. Salah orang kali lu ya, Rex!" logat gaul bertambah bahasa 2012 ku dilontarkan kepada teman lelaki sebaya yang sekelas dengan Fira, dan lumayan akrab denganku.
            “Ciyee.. Rexa. Gak usah beralibi Lia ulang tahun deh, langsung shoot lah, gan!” timpal Fira yang langsung saja lari dengan wajah tanpa dosanya.
"Serius gak ulang tahun nih jadinya? Tapi ini, dia ngasih ini loh ke kamu. Bukan a……"
            "Sumpah deh, tapi kalo rejeki gak akan nolak, deh!" potongku dengan nakalnya mengambil bingkisan kado berbentuk kubus, tanpa menghiraukan Rexa yang terngangah disana. Lalu, Rexa mengejarku yang berlari nakalnya ke kelas.
            Sesampainya di depan pintu kelas yang terbuka, terlihat kelas yang semrawut dan anak-anaknya pun gaduh tak karuan karena guru mata pelajaran pada jam ke-3 ini sedang cuti. Tetapi, tepat di depan pintu kelas itu, dengan power maximal Rexa mengejarku, berhasil mendapatkanku dan melanjutkan kata-katanya yang sepertinya dia sadar aku tak menghiraukannya.
            "Li, dengerin.. Kado itu.. Buat ulang tahun kamu.." kata Rexa terputus-putus, karena lelah mengejarku.
            "I know. Berarti aku boleh bukanya setelah nunggu hari ulang tahun aku aja gitu? Cupu banget sih gatau ulang tahun gue??" nada lantangku membuat Rexa yang lelah terlihat kesal dan seisi kelas hening.
            "Tapi, kata Bima kamu ulang tahun hari ini..dan..dan itu ..kado dari Bima. Dan kamu meninggalkan surat ini, Lia!!!!" teriak Rexa yang memang kesal dengan ulahku yang gegabah serta membuat dirinya lelah untuk mengejar calon atlit maraton ini.
            Seisi kelas terkejut mendengar perkataan Rexa. Bima yang sekelas denganku pun terkejut tidak tanggung malu. Serentak seisi kelas, aku dan Rexa menoleh ke arah Bima. Sorakan bak kawanan angin ribut tiba-tiba menghantam telingaku. Merah padam seketika menyelimuti wajahku, kutarik sepucuk surat itu dan tak sengaja kubuka perlahan-lahan. Semakin hening, sunyi tak bersuara lagi ketika Bima mendorong bangku mejanya, untuk berusaha keluar meninggalkan kelas dengan mod yang teramat buruk yang pernah kulihat. Aku pun tidak tahu harus berkata-kata apa, entah kenapa aku merasa bahwa aku berada di posisi yang salah, tapi aku kuatkan diri untuk tidak menyalahkan diriku sendiri. Karena sebenarnya apa salahku?
            Apakah kata-kata cupu tadi menyinggung dirinya. Tapi, cowok macam apa sih Bima? Sama sekali tidak memiliki naluri kepriaan? Kenapa harus lewat surat? Kenapa gak ngomong langsung ke aku sih? Terus kenapa juga dia ngamuk tiba-tiba begitu? Berbagai pertanyaan muncul dan semakin berkembang di benakku, semata berusaha untuk tidak menyalahkan diriku sendiri. Aku segera mengejar Bima, namun seisi kelas kembali bertanya-tanya dan mengerubungi Rexa untuk mendapatkan bahan gosip yang baru di kelas. Beruntungnya diriku, tiba-tiba kutemui Bima di pinggir lapangan basket, dengan kejantanan yang ada dalam diriku. Aku datang menghampiri Bima walaupun denyut jantungku terdengar degupan yang cepat, "Hei, Bim? Apa-apaan sih kamu? Langsung main keluar begitu saja? Ngamuk gak jelas lagi!"
            Bima segera berdiri dan kulihat amarah yang menghujam dirinya, "Li, kamu!!! Berhenti coba bentak gue! Ah! Gue tau emang, gue orang cupu! Gue juga tau lu gak pantes deket sama orang cupu kaya gue!"
            "Ya ampun, Bima! Baru juga diomongin cupu aja. Lagian surat itu..." kataku dengan nada semakin merendah.
            "Iya, kenapa? Lo gak suka surat itu juga? Lo kira gue pengecut ngutarain lewat surat? Gue udah tau semua yang bakal lu omongin, Li! Gue udah kenal lu. Besok gue bakal pindah sekolah ke Jakarta. Sekarang juga kamu harus jawab pertanyaan di surat itu! Mau atau enggak?"
            "Kata-kata kamu maksa banget, sih Bim! Gue rasa masih ada tuh yang lebih berharap sama lo",
            "Cukup, jawaban lo. And then, thank you, Li. Lo udah jadi motivator hidup gue disini, hidup gue yang jauh dari orang tua dan jawaban lo cukup untuk motivasiin gue buat lebih jauh ngehindarin orang kaya lo! Yang gak pernah ngehargain perasaan orang", Bima pun pergi meninggalkanku yang naik darah dan akan berteriak sekeras mungkin hingga seluruh pepohonan dan bangunan bergeming. Namun, tidak bisa. Aku harus mengejar Bima, tidak untuk berkata "maaf". Melainkan, membuat perhitungan dengannya. Aku mengejarnya dengan suasana padam, tiba-tiba sebuah tangan menghampiri dan menarik erat tanganku yang membuat langkahku terhenti dan aku hampir
tersungkur di hadapan pemilik tangan yang kemudian menahanku agar aku tidak terjatuh.
            "Don't worry, Lia! It's everything gonna be okay!" ucapnya dengan nada santai, Indri adalah sepupu Bima dan seangkatan dengan kami. Hanya saja, dia berbeda kelas dan mengetahui semua yang terjadi.
            Aku geram tak bisa mengejar Bima, ketika ku menoleh ke arah barat melewati celah jendela di bawah tangga. Sebuah pintu mobil yang terbuka begitu saja, dihampiri oleh seorang lelaki yang sebaya denganku dan terlihat sangat tergesa-gesa. Bima. Dia pergi saat itu juga, sesaat setelah mengutarakan perasaannya kepadaku. Sesaat sesudah dia meluapkan semua isi hatinya kepadaku, tanpa mengizinkanku untuk meluapkan amarahku kepadanya.
            "Bima telah pergi. Si pendiam itu akhirnya memiliki emosi juga. Sudahlah, jangan dimasukkan ke hati. Aku yakin Bima akan menyesalinya bahkan melupakan ini semua. So, slow down, beb!", tutur Indri dengan wajah cerianya menenangkanku.
            "Iya, Ndri. Makasih", hanya itulah yang bisa kukatakan. Karena aku bukanlah seorang juliet yang sedih, gelisah bahkan rela menunggu sang romeo yang lama meninggalkannya. Tidak! Bima bukanlah romeoku. Walaupun aku belum pernah mengerti apa itu cinta, tapi aku juga belum pernah merasakannya.
*****
            Handphoneku berdering sejenak, memberikan notification bahwa seseorang telah mengirim sms kepadaku. Nomor tak dikenal itu lagi, yang menggangguku, yang tiba-tiba galau serta merta curhat kepadaku. Namun, aku suka si pemilik nomor itu, dia bisa diajak debat kapanpun aku mau. Tapi, walau bagaimanapun dia tidak bisa mengalahkan pemikiran Fira yang memang mengerti diriku.
            Sesuatu itu akan datang dengan sendirinya, jika kamu sabar. Morning, Angelia J Penunggu malaikat di gubuk mentari sore.
            Lagi-lagi sms dari nomor tak dikenal yang selalu mengidentitaskan dirinya “Penunggu malaikat di gubuk mentari sore”. Ku ceritakan ini semua ke Fira, sering kali Fira menyuruhku untuk mencari tahu siapa dia. Tapi, aku yang terkenal tidak terlalu peka dengan sekitar, mengabaikan semua itu. Hingga akhirnya, pulang sekolah ini pertama kalinya aku free, tidak ada les private dikarenakan guru private-ku akan menuju ke pelaminan. Lalu, dengan tidak tahu apa tujuannya, aku pun datang berteman bayangan menuju sebuah gubuk yang hanya bertempat di sawah belakang sekolah itu.
            “Akan datang dengan sendirinya karena kesabaran. Naluri, kah? Atau perasaan, kah? Yang udah bawa lo kemari?” tanya suara dari arah belakang mengejutkanku.
            Aku menoleh dengan sigap dan terkejut seraya berkata, “Kamu kah si penunggu malaikat, Rexa? Apa maksudnya? Kenapa?” mataku terbelalak.
            “Kalau, iya? Apakah lo bakal ngecewain gue kayak loh nyia-nyiain Bima?” Tanya Rexa.
            “Maksudmu apa?”
            “Di gubuk mentari sore ini, satu-satunya gubuk paling tepat untuk melihat matahari terbenam dan sang mentari lah yang selalu menjadi saksi bahwa lo adalah seorang malaikat yang menjadi first love gue, sebenarnya”,
            Kata-kata itu, seakan membuat fikiranku buyar. Aku akui, cowok di hadapanku ini cukup sabar untuk menghadapi seorang cewek seperti aku selama ini. Sungguh tak disangka, Rexa yang selalu sms aku dengan kata-kata manisnya justru aku mengira dia lebih menyukai cewek glamour dan modis. Sehingga aku minder untuk lebih mendekatinya.
            “Li, bengongnya udah dong! Gue gak enak nyerocos sendiri begini”,
            “Eh, iya sorry, Rex. Jadi mau lo apa?” dengan polosnya ku bertanya.
            “Ternyata kamu memang seperti ini. Pantas saja Bima nyesel dan nyerah sama kamu, kamu sangat polos”, kemudian tak ada yang bersuara.
            “Gue cuma mau lo tau aja, gue liat lo kurang siap buat pacaran. Tapi, tolonglah belajarlah jaga perasaan orang. Gue bakal nunggu lo sampai lo siap buat….. pacaran”, terdengar lanjutan kata berisi sedikit keraguan dari mulut Rexa.
            Tapi, gilaaaa sumpah, Rexa yang dulunya hampir bikin aku kagum, ternyata sekarang bikin aku melting. Gak nyangka, dia suka sama seorang cewek seperti aku yang memendam perasaanya sejak dulu. Karena itulah, terlalu dalam memendamnya hingga aku lupa sama sekali bahwa aku menyukainya. Dan kini, kami berdiri, berdua, bersama, berhadapan, dengan sorot mentari sore.
            Okay.  Wait me! Everywhere”, suara pelan dari mulutku terlontar begitu saja, ditambah senyum tak biasa dan akan kuceritakan ini semua kepada Fira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar