karya : Riza Rahmah Angelia
diadaptasi dari kisah buatan Ani S.W
Liburan kenaikan kelas pun telah
berlalu, hari ini hari pertama kami masuk sekolah. Seperti biasa, aku dan
sahabat – sahabatku bercengkrama melepas rasa rindu kami yang telah berminggu –
minggu menjalani keceriaan liburan bersama keluaganya masing – masing.
“Hai, teman – teman! Aku bawakan
kalian oleh – oleh dari Bangka Belitung, nih!” kejut Tansya yang tiba – tiba
saja datang di hadapanku yang sedang asyik berkumpul bersama sahabat –
sahabatku yang lainnya.
“Oh, ya ampun! Cantik sekali
cinderamata – cinderamata ini. Banyak sekali ini, untuk siapa saja, Sya?” kagumku
ketika melihat banyak sekali hiasan pernak – pernik yang sengaja digelar di
hadapan kami semua.
“Ya, iya dong! Aku sengaja beli
banyak, nih! Supaya kalian bisa pilah – pilih barang yang kalian suka.
Selebihnya pun akan kuberikan kepada teman – teman yang akan menjadi teman
sekelasku nanti.” kata Tansya dengan gembiranya.
“Ngomong – ngomong teman sekelas,
kalian sudah pada lihat di papan informasi belum?” tanya Rizky.
“Yang pembagian kelas itu, Riz? Oh
iya, kalian pada tahu tidak? Kita semua berbeda kelas, loh!” kataku dengan nada
agak sedih.
Maklum, dari pertama kami masuk
Sekolah Menengah Pertama ini, kami selalu bersama. Hingga kenaikan kelas 3 ini,
kelas kami terpisah, karena pembagian kelas saat ini diukur berdasarkan hasil
penilaian rapot di kelas 1 dan 2. Aku Joey, Tansya, dan Adea mendapatkan kelas
unggulan, yaitu 9A, lalu Rizky dan Olis mendapatkan kelas 9D, sedangkan Middi
mendapat kelas 9E, dan Syifa mendapatkan kelas 9F. Namun aku merasa kalau kelas
kami terpisah, maka lama kelamaan persahabatan kami pun akan renggang.
“Tenanglah, Joey! Walaupun kita
terpisah begini yang penting kan, kita masih se-sekolah dan masih bersama. Iya
kan, teman – teman?” kata Syifa menenangkan fikiranku, dan semua mengangguk
setuju dengan perkataan Syifa tadi.
“Sip, lah! Oke teman – teman,
BESTFRIEND FOREVER!!” teriak Middi dengan penuh semangat. Kami pun langsung
menyatukan jari kelingking kami yang menandakan kami akan selalu menyatu dan
sulit untuk dipisahkan. Lalu kami semua saling berpelukan, dengan penuh
keceriaan.
“Oh iya! Adea kemana, ya? Sejak pagi
aku belum melihat batang hidungnya sedikit pun?” tanya Tansya memecahkan
keharmonisan para sahabat – sahabat itu.
“Kamu kayak tidak pernah kenal Adea
aja, Sya! Bukannya Adea dari dulu juga sering terlambat ke sekolah? Tidak
terkecuali hari pertama masuk sekolah. Hahaha.” jelas Olis dengan penuh
candaannya yang membuat sahabat –sahabatnya tertawa.
Tiba – tiba, terdengar suara
teriakan dari arah gerbang sekolah, “MY FRIEND!!!!” suara itu adalah suara
nyaring yang tidak asing lagi didengar di telinga para sahabat itu, yang tidak
lain adalah suara Adea. “Oh, friends! I miss you so much.” kata Adea yang tiba
– tiba saja mengejutkan mereka dengan suara melengkingnya itu sambil memeluk
mereka satu per satu.
“Eh, aduh! Hampir saja aku terlambat
ke sekolah. Maklum kebanyakan liburan, jadi kelamaan tidur deh! Hampir saja aku
lupa kalau hari ini masuk sekolah. Beruntungnya, itu gerbang sekolah belum
dikunci, jadi aku gak kena hukuman deh. Kalo kena...... haduh – haduh bisa....”
kata Adea dengan suara genitnya yang terus berkicau di hadapan para sahabatnya
itu.
“Adea!! Kamu itu bukan hampir
terlambat, tetapi emang udah terlambat, tahu?” sangkalku yang memotong
pembicaraan Adea yang tidak ada habisnya.
“Ya, iya lah, gak kena hukuman. Ini
kan hari pertama masuk sekolah, noh kamu dapat kelas unggulan, noh!” kata Rizki
sambil menunjuk ke papan informasi.
“Oh, hahaha. Iya iya maaf deh teman
– teman. Hah? 9A? Yang benar saja? Horeee!! Alhamdulillah akhirnya aku bisa
memasuki kelas unggulan yang sudah lama aku inginkan.” kata Adea dengan penuh
kebahagiaan.
Kami semua tertawa melihat tingkah
lucu Adea yang semakin hari sikapnya semakin kanak – kanak saja. Dengan wajah
lugunya dan keceriaannya itu yang mengindahkan perasaanku yang tadinya
mengkhawatirkan hubungan persahabatan kita, menjadi semakin lega. Karena, dari
wajah Adea yang berseri saja, aku bisa melihat kalau Adea akan selalu menjadi
sahabat kami sampai kapanpun, akan tetapi tiba – tiba saja aku teringat akan
penyakit yang selama ini dideritanya. Hanya akulah, sahabat sejati Adea yang mengetahui
semuanya tentangnya, karena aku selalu bersamanya sejak di taman kanak – kanak.
Keluarga kami pun saling mengenal baik satu sama lain, aku mengenal Adea yang
lembut dan periang, serta aku mengetahui perempuan mungil yang sejak duduk di
sekolah dasar telah ditinggal oleh ayahnya, dan kini ia hanya hidup berdua
dengan ibunya, itulah yang membuatku tidak tega melihat keceriaan bunga
melatiku berubah seketika menjadi kesuraman. Ya, sebutan itulah yang sering aku
ungkapkan di dalam hati untuk sahabat masa kecilku itu.
Di perjalanan menuju kelas baru,
Adea menggandeng tanganku dan tersenyum seraya berkata, “Akhirnya, aku sekelas
bersamamu lagi, Joey!”
“Yeah, aku juga sangat senang kelas
kita tidak terpisah.” jawabku sambil memegang erat gandengan tanganku dan
membalas senyuman indahnya itu.
Tak terasa, lama sudah waktu yang
telah kami lalui di kelas baru kami, 9D. Bersama Adea, Tansya dan teman – teman
di kelas baruku ini. Sepulang sekolah ini, aku, Tansya dan Adea akan bekerja
kelompok biologi di rumah Sahnas. Sesampainya di rumah Sahnas, aku melihat
wajah Adea yang sekejap saja bisa berubah menjadi pucat pasi, lalu kutanya Adea
dengan penuh kelembutan, “De, kenapa? Wajah kamu pucat sekali.”
“Aku merasa tak enak badan, Joey!”
kata Adea dengan suara lirih.
Sahnas dan Tansya segera melirik ke
arah Adea. “Ya, sudah kamu jangan terlalu banyak aktivitas. Kalau kamu tidak
kuat, kamu berbaring saja di kasurku. Tidak usahlah ikut kerja kelompok dulu.” ramah
Sahnas.
“Tapi, aku ingin membantu kalian
menyelesaikan tugas biologi itu. Kita kan sekelompok?” harap Adea.
“Sudahlah, tak apa! Pentingkan
kesehatanmu dahulu Adea, sekarang aku akan menelepon ibumu agar segera
menjemputmu, ya?” kataku yang sangat mengkhawatirkan Adea.
Tak lama kemudian, mobil ibunya Adea
pun datang di depan rumah Sahnas. Adea dipulangkan lebih cepat dari pada kami
yang masih harus menyelesaikan tugas kelompok kami untuk hari esok.
“Terimakasih, ya, Joey, Sahnas, Tansya! Maaf, aku pulang duluan.” kata Adea
dengan nadanya yang pelan.
Keesokan harinya, aku terkejut
melihat Adea masuk sekolah yang padahal aku sangat yakin bahwa keadaan Adea
belum sepenuhnya membaik, apalagi sekarang akan ada tes lari 200 meter dalam
pelajaran olahraga. Murid – murid dibagi menjadi beberapa tim, timku yang
beranggotakan Adea, Tansya dan 2 orang temanku yang lainnya mendapat nomor urut
ke-2. “Priiiiit!!” Pak Leo meniup peluitnya yang mengaba – abakan kalau
sekarang giliran timku yang berlari.
“Joey, larinya pelan saja, ya! Aku
takut tidak sanggup.” Kata Adea yang menaruh harapan penuh kepadaku.
“Tenang saja! Aku pasti akan
menemanimu, De! Tapi yakin kamu tidak apa – apa?” Adea pun mengangguk dan
berusaha berlari agar tidak mengecewakanku dan yang lainnya.
Putaran demi putaran kamu lalui,
kulihat wajah mungil Adea memerah dan matanya mulai menguning. Aku merasa Adea
sudah tidak sanggup untuk berlari lagi, aku pun langsung membawa Adea keluar
dari lapangan dan meminta izin kepada Pak Leo untuk mengantar Ade ke UKS
sekolah.
“Aku mual dan pusing Joey. Maukah
kau mengantarku ke kamar mandi sebentar.” ajak Adea dan aku menurutinya.
Aku menunggu Adea di kamar mandi
lama sekali, dengan rasa penasaranku aku membuka pintu kamar mandi yang tidak
dikunci oleh Adea. Kulihat Adea menangis, wajahnya semakin memerah, penuh
muntahan di lantai kamar mandinya. Dalam hatiku, aku bergumam, “Maagnya semakin
parah.” Kuusap pundaknya perlahan – lahan dengan penuh kelembutan. Kurasakan
hangatnya persahabatan di antara kita, seraya berharap Adea akan segera sembuh
dari penyakitnya yang semakin kronis ini.
Tiga hari berlalu, Adea tidak masuk
sekolah. Terasa ada yang kurang, tanpa keceriaan Adea dan suara melengkingnya
yang khas. Tak terbayangkan olehku, bila Adea tidak mampu melawan penyakitnya
itu. Tiba – tiba aku terkejut dari lamunanku, “Joey, sebenarnya Adea sakit apa,
sih?” tanya Middi penuh ketanda tanyaan tentang penyakit yang diderita Adea.
“Begini teman – teman. Mungkin
sekaranglah saatnya untuk aku memberi tahu kalian sahabat – sahabat Adea yang
juga sahabat – sahabatku. Adea itu terkena penyakit maag yang kronis, dan
kemarin yang ku dengar dari cerita ibunya, dia baru saja dinyatakan positif terkena
penyakit liver oleh dokter.” jelasku sambil menunduk dengan suara parau dan
semuanya memelukku dan merasakan apa yang sedang aku rasakan.
“Bagaimana kalau sore ini, kita
pergi ke rumah Adea untuk menjenguknya?” tanya Syifa dan mereka semua
menyetujuinya.
Setelah sampai di rumah Adea,
kudengar suara tangis yang menyisak. Buru – buru aku dan teman – temanku
menyambar pintu rumah Adea, “Assalammualaikum, permisi!”
“Waalaikumsalam.” Seseorang
membukakan pintu dengan penuh hati – hati untuk kami, dan itulah ibunya Adea.
“Teman – temannya Adea, ya? Mari masuk!” kami pun segera diajaknya ke kamar
Adea untuk melihata keadaan Adea.
“Adea selalu menangis terus di
kamarnya. Sudah 3 hari, Adea tidak mau makan dan keluar kamar. Dia selalu saja
menangis di kamarnya. Ibu juga bingung harus bagaimana lagi, ibu tidak bisa
meninggalkan Adea di rumah sendirian. Pernah saat itu, ibu pergi ke pasar, Adea
mengamuk dan mengambil gunting untuk menggunting rambutnya. Ibu sama sekali
tidak mengerti, apa yang Adea inginkan.” kata ibunya dengan penuh isak tangis.
Aku pun memeluk ibunya Adea tanpa sengaja aku menangis tak tertahankan melihat
Adea yang biasanya periang kini telah berubah menjadi Adea yang sama sekali
tidak aku inginkan.
Hari yang sudah mulai senja,
memaksakan kami untuk segera beranjak dari rumah Adea. “Ibu minta doanya saja
dari kalian agar Adea dikuatkan dari segala penyakitnya, ya Nak!” kata ibunya
dengan penuh pengharapan.
“Iya, Bu! Pasti. Assalammualaikum.” tanpa
berkata apa – apa lagi di antara kami, hingga kami pulang ke rumah masing –
masing.
Keesokan harinya, ibunya Ade
mengabari kami bahwa Adea baru saja masuk rumah sakit. Kekhawatiranku jelas
saja semakin memuncak, aku segera memberanikan diri untuk menjenguk Adea di
rumah sakit sebagai perwakilan dari sekolah dengan guru – guru. Sesampainya di
rumah sakit, ku lihat tubuh mungil kurusnya terbaring lemah dengan tangan dan
kakinya terikat di atas ranjang di kamar Melati VIP sembari sesekali ia
menjerit.
“Sebenarnya, saat kalian tengok
kemarin di rumahnya, dia sudah tidak sadarkan diri.” kata ibunya berbicara di
hadapanku yang sedang terpaku menatap Ade.
Sedikitpun aku tidak berkomentar,
aku hanya bisa memandang Adea dengan mata berkaca – kaca, ingin rasanya aku
memeluk bunga melatiku erat – erat dan bisa menyadarkannya. Setelah lama kami
berada di rumah sakit, kami pun bergegas pulang meninggalkan kamar Adea. Aku
mendengar Adea berteriak dengan kencang, aku berhenti sejenak dengan berhasrat
ingin memastikan keadaannya. Tapi, Bu Neni menahanku dengan memegang pundakku,
“Mungkin Adea butuh istirahat yang cukup, Joey.”
“Iya, Bu!” kataku pelan dan tiba –
tiba saja aku meneteskan air mata.
“Joey!! Joey!” pagi – pagi sekali
ada seseorang yang memanggilku dari depan rumah.
“Ada apa? Sepetinya kamu sedang
gelisah?” kataku terburu – buru menghampiri gadis yang memanggilku dari depan
rumahku itu.
“Adea..... meninggal Joey!” ternyata
perempuan yang memanggilku adalah Tansya, matanya berlinang air mata.
Tanpa berkata apapun aku langsung
berganti pakaian, dan menuju rumah Adea bersama Tansya. Akupun bergegas
mengabari kabar memilukan tersebut kepada sahabat – sahabatku yang lainnya. Dalam
perjalanan aku hanya bisa meneteskan air mata. Sesampainya di rumah Adea, tanpa
permisi lagi aku pun langsung memeluk ibunya Adea, yang akan bersiap – siap
mengantarkan buah hatinya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
“Joey! Adea, anak ibu satu – satunya
...telah tiada.” isak tangis ibunya.
Aku tak mampu berkata – kata , aku
melihat jenazah Ade dimakamkan. Mataku hanya dapat mengucurkan air mata, dan
hatiku hanya bisa menahan perasaanku untuk tabah menghadapi keterpurukan yang
melanda fikiranku yang tanpa henti – hentinya mengingat sahabat sejatiku yang
baru saja pergi meninggalkan kami semua. Tak dapat kurasakan pagi yang indah
dan sejuk itu, walaupun pepohonan rindang yang menyejukkan pemakaman di pagi
itu, tetap saja aku tidak akan melihat
bunga melatiku lagi yang tumbuh mekar di hadapanku. “Selamat jalan bunga
melatiku, semoga kau damai di alam sana, selamat jalan sahabatku, sahabat kami
semua! Terimakasih, sahabatku atas segalanya karena kau telah meninggalkan
sejuta kenangan untuk kita semua.” kataku seraya meletakkan bunga melati itu di
atas tanah sahabatku yang menggunduk itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar