Rabu, 27 Juni 2012

Melatiku yang Hilang

karya : Riza Rahmah Angelia
diadaptasi dari kisah buatan Ani S.W


            Liburan kenaikan kelas pun telah berlalu, hari ini hari pertama kami masuk sekolah. Seperti biasa, aku dan sahabat – sahabatku bercengkrama melepas rasa rindu kami yang telah berminggu – minggu menjalani keceriaan liburan bersama keluaganya masing – masing.
            “Hai, teman – teman! Aku bawakan kalian oleh – oleh dari Bangka Belitung, nih!” kejut Tansya yang tiba – tiba saja datang di hadapanku yang sedang asyik berkumpul bersama sahabat – sahabatku yang lainnya.
            “Oh, ya ampun! Cantik sekali cinderamata – cinderamata ini. Banyak sekali ini, untuk siapa saja, Sya?” kagumku ketika melihat banyak sekali hiasan pernak – pernik yang sengaja digelar di hadapan kami semua.
            “Ya, iya dong! Aku sengaja beli banyak, nih! Supaya kalian bisa pilah – pilih barang yang kalian suka. Selebihnya pun akan kuberikan kepada teman – teman yang akan menjadi teman sekelasku nanti.” kata Tansya dengan gembiranya.
            “Ngomong – ngomong teman sekelas, kalian sudah pada lihat di papan informasi belum?” tanya Rizky.
            “Yang pembagian kelas itu, Riz? Oh iya, kalian pada tahu tidak? Kita semua berbeda kelas, loh!” kataku dengan nada agak sedih.
            Maklum, dari pertama kami masuk Sekolah Menengah Pertama ini, kami selalu bersama. Hingga kenaikan kelas 3 ini, kelas kami terpisah, karena pembagian kelas saat ini diukur berdasarkan hasil penilaian rapot di kelas 1 dan 2. Aku Joey, Tansya, dan Adea mendapatkan kelas unggulan, yaitu 9A, lalu Rizky dan Olis mendapatkan kelas 9D, sedangkan Middi mendapat kelas 9E, dan Syifa mendapatkan kelas 9F. Namun aku merasa kalau kelas kami terpisah, maka lama kelamaan persahabatan kami pun akan renggang.
            “Tenanglah, Joey! Walaupun kita terpisah begini yang penting kan, kita masih se-sekolah dan masih bersama. Iya kan, teman – teman?” kata Syifa menenangkan fikiranku, dan semua mengangguk setuju dengan perkataan Syifa tadi.
            “Sip, lah! Oke teman – teman, BESTFRIEND FOREVER!!” teriak Middi dengan penuh semangat. Kami pun langsung menyatukan jari kelingking kami yang menandakan kami akan selalu menyatu dan sulit untuk dipisahkan. Lalu kami semua saling berpelukan, dengan penuh keceriaan.
            “Oh iya! Adea kemana, ya? Sejak pagi aku belum melihat batang hidungnya sedikit pun?” tanya Tansya memecahkan keharmonisan para sahabat – sahabat itu.
            “Kamu kayak tidak pernah kenal Adea aja, Sya! Bukannya Adea dari dulu juga sering terlambat ke sekolah? Tidak terkecuali hari pertama masuk sekolah. Hahaha.” jelas Olis dengan penuh candaannya yang membuat sahabat –sahabatnya tertawa.
            Tiba – tiba, terdengar suara teriakan dari arah gerbang sekolah, “MY FRIEND!!!!” suara itu adalah suara nyaring yang tidak asing lagi didengar di telinga para sahabat itu, yang tidak lain adalah suara Adea. “Oh, friends! I miss you so much.” kata Adea yang tiba – tiba saja mengejutkan mereka dengan suara melengkingnya itu sambil memeluk mereka satu per satu.
            “Eh, aduh! Hampir saja aku terlambat ke sekolah. Maklum kebanyakan liburan, jadi kelamaan tidur deh! Hampir saja aku lupa kalau hari ini masuk sekolah. Beruntungnya, itu gerbang sekolah belum dikunci, jadi aku gak kena hukuman deh. Kalo kena...... haduh – haduh bisa....” kata Adea dengan suara genitnya yang terus berkicau di hadapan para sahabatnya itu.
            “Adea!! Kamu itu bukan hampir terlambat, tetapi emang udah terlambat, tahu?” sangkalku yang memotong pembicaraan Adea yang tidak ada habisnya.
            “Ya, iya lah, gak kena hukuman. Ini kan hari pertama masuk sekolah, noh kamu dapat kelas unggulan, noh!” kata Rizki sambil menunjuk ke papan informasi.
            “Oh, hahaha. Iya iya maaf deh teman – teman. Hah? 9A? Yang benar saja? Horeee!! Alhamdulillah akhirnya aku bisa memasuki kelas unggulan yang sudah lama aku inginkan.” kata Adea dengan penuh kebahagiaan.
            Kami semua tertawa melihat tingkah lucu Adea yang semakin hari sikapnya semakin kanak – kanak saja. Dengan wajah lugunya dan keceriaannya itu yang mengindahkan perasaanku yang tadinya mengkhawatirkan hubungan persahabatan kita, menjadi semakin lega. Karena, dari wajah Adea yang berseri saja, aku bisa melihat kalau Adea akan selalu menjadi sahabat kami sampai kapanpun, akan tetapi tiba – tiba saja aku teringat akan penyakit yang selama ini dideritanya. Hanya akulah, sahabat sejati Adea yang mengetahui semuanya tentangnya, karena aku selalu bersamanya sejak di taman kanak – kanak. Keluarga kami pun saling mengenal baik satu sama lain, aku mengenal Adea yang lembut dan periang, serta aku mengetahui perempuan mungil yang sejak duduk di sekolah dasar telah ditinggal oleh ayahnya, dan kini ia hanya hidup berdua dengan ibunya, itulah yang membuatku tidak tega melihat keceriaan bunga melatiku berubah seketika menjadi kesuraman. Ya, sebutan itulah yang sering aku ungkapkan di dalam hati untuk sahabat masa kecilku itu.
            Di perjalanan menuju kelas baru, Adea menggandeng tanganku dan tersenyum seraya berkata, “Akhirnya, aku sekelas bersamamu lagi, Joey!”
            “Yeah, aku juga sangat senang kelas kita tidak terpisah.” jawabku sambil memegang erat gandengan tanganku dan membalas senyuman indahnya itu.
            Tak terasa, lama sudah waktu yang telah kami lalui di kelas baru kami, 9D. Bersama Adea, Tansya dan teman – teman di kelas baruku ini. Sepulang sekolah ini, aku, Tansya dan Adea akan bekerja kelompok biologi di rumah Sahnas. Sesampainya di rumah Sahnas, aku melihat wajah Adea yang sekejap saja bisa berubah menjadi pucat pasi, lalu kutanya Adea dengan penuh kelembutan, “De, kenapa? Wajah kamu pucat sekali.”
            “Aku merasa tak enak badan, Joey!” kata Adea dengan suara lirih.
            Sahnas dan Tansya segera melirik ke arah Adea. “Ya, sudah kamu jangan terlalu banyak aktivitas. Kalau kamu tidak kuat, kamu berbaring saja di kasurku. Tidak usahlah ikut kerja kelompok dulu.” ramah Sahnas.
            “Tapi, aku ingin membantu kalian menyelesaikan tugas biologi itu. Kita kan sekelompok?” harap Adea.
            “Sudahlah, tak apa! Pentingkan kesehatanmu dahulu Adea, sekarang aku akan menelepon ibumu agar segera menjemputmu, ya?” kataku yang sangat mengkhawatirkan Adea.
            Tak lama kemudian, mobil ibunya Adea pun datang di depan rumah Sahnas. Adea dipulangkan lebih cepat dari pada kami yang masih harus menyelesaikan tugas kelompok kami untuk hari esok. “Terimakasih, ya, Joey, Sahnas, Tansya! Maaf, aku pulang duluan.” kata Adea dengan nadanya yang pelan.
            Keesokan harinya, aku terkejut melihat Adea masuk sekolah yang padahal aku sangat yakin bahwa keadaan Adea belum sepenuhnya membaik, apalagi sekarang akan ada tes lari 200 meter dalam pelajaran olahraga. Murid – murid dibagi menjadi beberapa tim, timku yang beranggotakan Adea, Tansya dan 2 orang temanku yang lainnya mendapat nomor urut ke-2. “Priiiiit!!” Pak Leo meniup peluitnya yang mengaba – abakan kalau sekarang giliran timku yang berlari.
            “Joey, larinya pelan saja, ya! Aku takut tidak sanggup.” Kata Adea yang menaruh harapan penuh kepadaku.
            “Tenang saja! Aku pasti akan menemanimu, De! Tapi yakin kamu tidak apa – apa?” Adea pun mengangguk dan berusaha berlari agar tidak mengecewakanku dan yang lainnya.
            Putaran demi putaran kamu lalui, kulihat wajah mungil Adea memerah dan matanya mulai menguning. Aku merasa Adea sudah tidak sanggup untuk berlari lagi, aku pun langsung membawa Adea keluar dari lapangan dan meminta izin kepada Pak Leo untuk mengantar Ade ke UKS sekolah.
            “Aku mual dan pusing Joey. Maukah kau mengantarku ke kamar mandi sebentar.” ajak Adea dan aku menurutinya.
            Aku menunggu Adea di kamar mandi lama sekali, dengan rasa penasaranku aku membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci oleh Adea. Kulihat Adea menangis, wajahnya semakin memerah, penuh muntahan di lantai kamar mandinya. Dalam hatiku, aku bergumam, “Maagnya semakin parah.” Kuusap pundaknya perlahan – lahan dengan penuh kelembutan. Kurasakan hangatnya persahabatan di antara kita, seraya berharap Adea akan segera sembuh dari penyakitnya yang semakin kronis ini.
            Tiga hari berlalu, Adea tidak masuk sekolah. Terasa ada yang kurang, tanpa keceriaan Adea dan suara melengkingnya yang khas. Tak terbayangkan olehku, bila Adea tidak mampu melawan penyakitnya itu. Tiba – tiba aku terkejut dari lamunanku, “Joey, sebenarnya Adea sakit apa, sih?” tanya Middi penuh ketanda tanyaan tentang penyakit yang diderita Adea.
            “Begini teman – teman. Mungkin sekaranglah saatnya untuk aku memberi tahu kalian sahabat – sahabat Adea yang juga sahabat – sahabatku. Adea itu terkena penyakit maag yang kronis, dan kemarin yang ku dengar dari cerita ibunya, dia baru saja dinyatakan positif terkena penyakit liver oleh dokter.” jelasku sambil menunduk dengan suara parau dan semuanya memelukku dan merasakan apa yang sedang aku rasakan.
            “Bagaimana kalau sore ini, kita pergi ke rumah Adea untuk menjenguknya?” tanya Syifa dan mereka semua menyetujuinya.
            Setelah sampai di rumah Adea, kudengar suara tangis yang menyisak. Buru – buru aku dan teman – temanku menyambar pintu rumah Adea, “Assalammualaikum, permisi!”
            “Waalaikumsalam.” Seseorang membukakan pintu dengan penuh hati – hati untuk kami, dan itulah ibunya Adea. “Teman – temannya Adea, ya? Mari masuk!” kami pun segera diajaknya ke kamar Adea untuk melihata keadaan Adea.
            “Adea selalu menangis terus di kamarnya. Sudah 3 hari, Adea tidak mau makan dan keluar kamar. Dia selalu saja menangis di kamarnya. Ibu juga bingung harus bagaimana lagi, ibu tidak bisa meninggalkan Adea di rumah sendirian. Pernah saat itu, ibu pergi ke pasar, Adea mengamuk dan mengambil gunting untuk menggunting rambutnya. Ibu sama sekali tidak mengerti, apa yang Adea inginkan.” kata ibunya dengan penuh isak tangis. Aku pun memeluk ibunya Adea tanpa sengaja aku menangis tak tertahankan melihat Adea yang biasanya periang kini telah berubah menjadi Adea yang sama sekali tidak aku inginkan.
            Hari yang sudah mulai senja, memaksakan kami untuk segera beranjak dari rumah Adea. “Ibu minta doanya saja dari kalian agar Adea dikuatkan dari segala penyakitnya, ya Nak!” kata ibunya dengan penuh pengharapan.
            “Iya, Bu! Pasti. Assalammualaikum.” tanpa berkata apa – apa lagi di antara kami, hingga kami pulang ke rumah masing – masing.
            Keesokan harinya, ibunya Ade mengabari kami bahwa Adea baru saja masuk rumah sakit. Kekhawatiranku jelas saja semakin memuncak, aku segera memberanikan diri untuk menjenguk Adea di rumah sakit sebagai perwakilan dari sekolah dengan guru – guru. Sesampainya di rumah sakit, ku lihat tubuh mungil kurusnya terbaring lemah dengan tangan dan kakinya terikat di atas ranjang di kamar Melati VIP sembari sesekali ia menjerit.
            “Sebenarnya, saat kalian tengok kemarin di rumahnya, dia sudah tidak sadarkan diri.” kata ibunya berbicara di hadapanku yang sedang terpaku menatap Ade.
            Sedikitpun aku tidak berkomentar, aku hanya bisa memandang Adea dengan mata berkaca – kaca, ingin rasanya aku memeluk bunga melatiku erat – erat dan bisa menyadarkannya. Setelah lama kami berada di rumah sakit, kami pun bergegas pulang meninggalkan kamar Adea. Aku mendengar Adea berteriak dengan kencang, aku berhenti sejenak dengan berhasrat ingin memastikan keadaannya. Tapi, Bu Neni menahanku dengan memegang pundakku, “Mungkin Adea butuh istirahat yang cukup, Joey.”
            “Iya, Bu!” kataku pelan dan tiba – tiba saja aku meneteskan air mata.
            “Joey!! Joey!” pagi – pagi sekali ada seseorang yang memanggilku dari depan rumah.
            “Ada apa? Sepetinya kamu sedang gelisah?” kataku terburu – buru menghampiri gadis yang memanggilku dari depan rumahku itu.
            “Adea..... meninggal Joey!” ternyata perempuan yang memanggilku adalah Tansya, matanya berlinang air mata.
            Tanpa berkata apapun aku langsung berganti pakaian, dan menuju rumah Adea bersama Tansya. Akupun bergegas mengabari kabar memilukan tersebut kepada sahabat – sahabatku yang lainnya. Dalam perjalanan aku hanya bisa meneteskan air mata. Sesampainya di rumah Adea, tanpa permisi lagi aku pun langsung memeluk ibunya Adea, yang akan bersiap – siap mengantarkan buah hatinya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
            “Joey! Adea, anak ibu satu – satunya ...telah tiada.” isak tangis ibunya.
            Aku tak mampu berkata – kata , aku melihat jenazah Ade dimakamkan. Mataku hanya dapat mengucurkan air mata, dan hatiku hanya bisa menahan perasaanku untuk tabah menghadapi keterpurukan yang melanda fikiranku yang tanpa henti – hentinya mengingat sahabat sejatiku yang baru saja pergi meninggalkan kami semua. Tak dapat kurasakan pagi yang indah dan sejuk itu, walaupun pepohonan rindang yang menyejukkan pemakaman di pagi itu,  tetap saja aku tidak akan melihat bunga melatiku lagi yang tumbuh mekar di hadapanku. “Selamat jalan bunga melatiku, semoga kau damai di alam sana, selamat jalan sahabatku, sahabat kami semua! Terimakasih, sahabatku atas segalanya karena kau telah meninggalkan sejuta kenangan untuk kita semua.” kataku seraya meletakkan bunga melati itu di atas tanah sahabatku yang menggunduk itu.



        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar